Hadapi UN, Siswa di Kota Medan Lebih Giat Belajar
Medan, (Analisa)
Menghadapi Ujian Nasional (UN) untuk SMA 22-24 April 2008, siswa kelas XII ( III) terpaksa lebih giat belajar, salah satunya berkunjung menyempatkan waktu luang untuk ke perpustakaan sekolah.
“Saya tiga bulan terakhir ini aktif belajar giat, setiap ada waktu luang seperti istrirahat menyempatkan ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku-buku tentang UN,” kata Sakka Gufara (18) siswa SMA Darussalam saat ditemui diperpustakaan sekolah tersebut, Selasa (25/3).
Dia mengakui menghadapi UN kali sangat berat karena mata pelajaran bertambah. Untuk itu, agar bisa lulus dengan nilai yang ditetapkan remaja yang tinggal di Jalan Amal Sunggal ini mengikuti les tambahan di sekolah, try out yang digelar bimbingan tes belajar dan menambah porsi belajar malam hari.
Demikian juga disampaikan, Wasal Desrial pelajar kelas XII (III) SMA Raksana Medan. Menurutnya, menghadapi UN tahun ini terpaksa belajar giat.
Biasanya tidur delapan jam, dikurangi menjadi lima jam. “Malam sebelum tidur belajar hingga pukul 23.00 WIB, dan pagihari pukul 04.00 WIB sudah bangun untuk mengulang kembali,” tuturnya.
Bekerja Ekstra
Kepala SMA Darussalam Amril M Jamil didampingi PKS III Muzakkir M Adam, SAg mengatakan tahun ini sekolah benar-benar bekerja ekstra keras dalam penyelenggaraan UN, karena UN kali ini akan berlangsung ekstra ketat.
SMA Darussalam, katanya terus melakukan persiapan seperti mengadakan sosialisasi dengan orangtua murid sebanyak dua kali.
“Ini dilakukan agar persiapan maksimal, jika sekolah sudah maksimal orangtua juga, jangan nanti siswa tidak lulus kita yang disalahkan. Padahal siswa tidak belajar di rumah,” kataya.
Amril mengaku, tahun ini mata pelajaran yang di-UN-kan bertambah, tahun sebelumnya, hanya tiga yakni Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika. Sedangkan, tahun ini, untuk program IPA Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematka, Fisika, Kimia dan Biologi. Program IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ekonomi, Sosiologi dan Geografi.
Sedangkan program Bahasa, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Asing yang diambil, Budaya (Antropologi), Sastra Indonesia.
Jika tahun lalu standar nilainya cuma 5,0 sekarang berubah jadi 5,25. “Bisa kita bayangkan, jika siswa ingin lulus harus belajar mati-matian,” ungkapnya lagi.
Pria berdarah aceh ini mengaku, pengawasan UN juga diperketat mengingat kasus Komunitas Air Mata Guru tahun lalu. Jika sebelumnya hanya Tim Pengawas Independen (TPI), kini pengawas lebih banyak. (maf)
|