Angkot Penabrak Lari dari Tanggung Jawab

Sabtu, 7 Oktober 2017

Pengirim: KENNY TARMIZI S., Jalan Gaperta-Medan

JUMAT (29/9/2017) sore sekitar pukul 18.15 WIB, di tengah kemacetan yang melanda Kota Medan tercinta ini, saya mengalami sebuah kejadian yang sangat menjengkelkan dan memprihatinkan.

Saat itu, mobil saya ikut melaju pelan bersama ratusan kendaraan lain di Jalan Gaharu. Tiba di persimpangan Jalan Bambu, mendadak bagian kiri belakang terasa ditabrak amat keras. Saya berpaling dan melihat sebuah angkot sedang "mencium" belakang mobil saya, padahal saat itu jalanan sedang macet parah!

Saya turun dan jalan ke belakang. Ternyata bumper kiri belakang saya retak lumayan parah, pijakan kakinya sampai-sampai menjorok ke depan. Berarti angkot tadi menabrak sangat keras. 

Si sopir yang berusia sangat muda, mungkin masih belasan tahun, turun dan cuma bisa minta maaf. Orangnya kurus, hitam, dan cengar-cengir. Dugaan saya, dia "sopir tembak." Dia mengaku tak punya SIM atau KTP. Saya minta dia jangan lari, tapi silakan tepikan angkotnya untuk mencari solusi. 

Dia bilang oke, agak ke depan saja. Tapi ternyata dia terus melaju cepat, dan ini itikad tidak baik. Nomor pelatnya BK 1405 xx. Dekat simpang Jalan Bambu II, di tengah kemacetan, saya turun lagi dan mengingatkan dia untuk jangan coba-coba melarikan diri.

Mendadak saja, seorang pemuda teriak-teriak dari belakang saya, jalan mendekati saya, lalu menuduh saya yang salah. Katanya saya rem mendadak. Loh, aneh bukan? Mobil di depan saya rem, tentu saja saya ikut rem! Dan itu pun tidak mendadak! Si pemuda "pahlawan kesiangan" tadi meminta sopir tadi lari saja. Malah dia menantang saya untuk sama-sama ke kantor polisi. Saya iyakan meskipun saya tahu itu hanya taktik murahannya saja.

Dan benarlah dugaan saya. Angkot BK 1405 xx itu terus melaju kencang di Jalan Gaharu yang berlubang-lubang itu, lalu belok kiri ke Jalan Karantina. Saya yang sendirian terus berupaya mengejar. Di Jalan Karantina yang juga macet, si sopir terus ngebut, "memakan" jalur kanan, lalu belok kanan masuk ke Jalan Ampera.

Tentu saja mobil saya yang berbodi agak lebar sulit mengejarnya di tengah kondisi yang padat merayap. Saya tak mau memakan jalur kanan seperti yang dilakukannya.

Akhirnya, setelah susah payah berbelok memasuki Jalan Ampera, saya kehilangan jejak! Dugaan saya, angkot tadi belok kiri melewati rel KA lalu keluar ke Jalan Komodor Laut Yos Sudarso, lalu belok kiri terus ke Glugur Kota.

Saya berharap aparat berwenang maupun Dinas Perhubungan rajin-rajinlah melakukan razia, sehingga sopir yang tak punya SIM bisa terjaring. Sebab, gaya mengemudi yang ugal-ugalan amat membahayakan orang lain dan dirinya sendiri juga.

Dan kepada sopir angkot tadi, semoga Anda "tetap beruntung" di lain kesempatan setelah menabrak mobil orang tapi masih tetap berhasil melarikan diri, lepas dari tanggung jawab apa pun!

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar