Balikpapan Melarang Kantong Plastik, Medan Kapan?

Kamis, 12 Juli 2018

Pengirim: Hartono Taslim, Jl. Listrik 6 Medan 20122

HAMPIR di seluruh penjuru Eropa dan Amerika penggunaan plastik dite­kan serendah mungkin, bahkan di ne­gara Eropa, setiap orang yg mengem­ba­­likan botol plastik cola cola dan mi­nu­man ringan lainnya ke supermarket akan mendapat gimmick berupa voucher po­tongan belanja.

Makanya tidak mengherankan ma­syarakat yang akan belanja ke super­mar­ket selalu membawa botol plastik ko­song utk ditukarkan voucher belanja. Bila belanja dan meminta kantong plastik maka kita wajib membelinya,tidak ada kan­tong plastik gratis!

Negara di Asia adalah pengguna plas­tik terbesar dan paling boros. Tulisan dari salah seorang pembaca Harian Analisa yang mengingatkan Pemko menerbitkan SK pelarangan mungkin tidak begitu diperhatikan pemerintah.

Jangankan menerbitkan SK pelara­ngan kantong plastik, jalan yang berlu­bang saja tak ada inisiatif menutupnya. Tro­toar yang kupak kapik saja tak ada niat untuk memperbaiki, apalagi ma­salah remeh temeh kayak kantong plas­tik.

Meminjam istilah kaum rema­ja,” emang gue pikirin”. Solusi terbaik dan mu­dah untuk mengugah masyarakat me­mulai membawa tas sendiri saat belanja ada­lah mulailah dari komunitas.

Saat ini banyak sekali komunitas di ma­syarakat. Misalnya komu­nitas sepe­da, komunitas vespa, komunitas night run, komunitas ibu arisan dsb. Ko­munitas ke­cil ini biasanya sangat kom­pak dan rata rata terdiri dari orang yang berpen­di­dikan dan mudah diajak ber­buat kebaikan.

Selain itu bisa juga dari pihak pe­nyelenggara acara, sebisa mungkin mem­beri gimmick beru­pa tas belanja yang dibuat menarik sehingga masyara­kat termotivasi memakai tas cantik untuk belanja. Pihak supermarket besar se­misal Berastagi Supermarket, Hyper­mart, Transmart dsb tentunya bisa mem­buat tas belanja yang cantik dan menarik (istilahnya yang eye catching) sehingga pelanggan bangga menggunakannya. 

Intervensi lainnya adalah dari sekolah, kenalkan anak sekolah dengan tas belanja non plastik, anak-anak ada­lah sosok  yang jujur dan paling mudah diajak berbuat perubahan. Anak-anak bisa menja­di role model di dalam ke­luarganya ,makanya di Jepang, sekolah-sekolah mengajarkan kebersihan lingkungan dan go green.

Masyarakat luas tidak sama taraf pen­di­di­kannya dan keperdu­liannya, ma­ka­nya susah memoti­vasi mereka untuk say no to plastic. Masyarakat yang ber­pen­­didikan tinggi sekalipun belum tentu ter­­gugah krn prinsip mereka “buat apa re­pot kalau sudah ada yang nyediain kan­tong plastik”. Mengubah mindset itu susah, me­reka harus ada role model dan penalty untuk berubah.

Demikianlah tanggapan kami, semo­ga bermanfaat.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar