Gemas dengan Walkot, Trotoar Dijadikan Jalan Motor

Sabtu, 23 Desember 2017

Pengirim: Marina Novianti Tampubolon, Medan

TROTOAR itu apa ya, bahasa In­do­nesianya? Terakhir saya cek, artinya ma­sih jalur di pinggir jalan yang diper­untukkan bagi pejalan kaki untuk tempat jalan. Saya bahagia melihat trotoar yang di­bangun luas dan apik, seperti yang ada di depan Hotel Adimulia.

Tapi ternyata, pengguna trotoar se­karang bukan lagi bagi pejalan kaki, me­lainkan pengendara motor. Pejalan kaki terusir, dan kalau berani-berani berjalan di situ harus siap diserempet atau malah ditabrak motor.

Duh! Dan jangan harap ada pengen­dara motor yang lewat di trotoar itu ba­kal merasa bersalah. Malah lebih gede pelototan matanya, lebih galak dam­pratannya dari si pejalan kaki.

Lalu, kalau sudah begini, ke mana pe­jalan kaki mengadu? Polisi? Jangan harap! Sudahlah mereka semacam tak pernah muncul di lokasi di mana dibutuhkan. Kalau pun ada paling-pa­ling mereka hanya melihat tanpa niat me­negur apalagi melarang. Bikin hati pe­jalan kaki ini makin miris.

Ini semua takkan terjadi kalau Medan punya aturan, punya pimpinan yang me­mas­tikan hukum ditegakkan, per­aturan dilaksanakan. Secara konsisten dan berlaku untuk semua. Pimpinan yang turun ke jalan, melihat kebutuhan, me­negur pelanggaran dan memperbaiki kerusakan. 

Pimpinan yang dibutuhkan Medan adalah yang, antara lain, mau mengkaji ulang izin Pajus dan kisah kesemra­wu­tan Jalan Jamin Ginting oleh sebab ang­kot di depan Pajus dan sekitarnya yang menaik turunkan penumpang sem­barangan. Pagi siang sore malam, ma­cet bikin naik pitam!

Pimpinan yang berpikir jauh ke depan, dan tahu yang paling mampu melakukan perubahan adalah kaum muda. Dan karenanya, mau melu­ang­­kan waktu ke kampus dan sekolah untuk me­nasehati pemuda-pemudi, maha­siswa-mahasiswi, dan siswa-siswi.

Tentang apa? Tentang hebatnya pe­ran mereka dalam mewujudkan Medan yang lebih baik (Medantopia, ini impian sa­yaaa!). Caranya dengan menerapkan disiplin, patuhi peraturan, dan saling mengingatkan.

Setiap tahun masalah kota selalu sama saja: gali-tutup lubang, byar-pet listrik. Inilah yang lagi bikin saya gemas. Pejalan kaki yang haknya berjalan di trotoar dizolimi penunggang motor. 

Maafkan omelan saya Pak Walkot Medan. Medan berhak memiliki pemim­pin idaman, seperti yang saat ini saya celotehkan. Kapan? Hmm nyanyi lagi lah:”Kapan-kapaaann..!

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar