KA Binjai-Medan Tanpa Nomor Bangku

Kamis, 16 Maret 2017

Pengirim: LANNY, Jl. Wahid Hasyim 2 Binjai

SAYA adalah pelanggan kereta api (KA) tujuan Binjai-Medan. Awal-awal ada kereta api yang beroperasi saya se­­nang sekali karena dengan adanya trans­portasi ini saya tertolong dari ke­macetan yang ada di jalan raya yang ka­dang bisa memakan waktu sampai berjam-jam.

Awal beroperasi kereta api sangat nya­man untuk dinaiki meskipun tidak ada nomor bangku. Seiring berja­lannya waktu kereta api makin diminati banyak orang karena efisiensi waktu. Tetapi, dengan bertambah penumpang, manaje­men kereta api tidak berubah dengan ti­dak ada nomor bangku sehingga ter­jadi perebutan naik ke kereta api hanya demi bisa duduk. Kadang sampai se­sa­ma penumpang bertengkar hanya demi sebuah bangku dan itu hanya disaksikan pe­tugas tanpa ada inisiatif merubah sis­tem dengan dicantumkan nomor bangku di tiket. Kadang saya perhatikan, petugas juga ikut memaki penumpang.

Saat naik kereta api pun petugas hanya tahu memarahi penumpang yang b­e­re­but naik. Pernah saya nampak pe­tugas mencoba menarik tas salah satu penum­pang hendak naik. Kalau tertarik pe­numpang itu akan jatuh, apa pihak ke­reta api mau bertanggung jawab bila pe­numpang terjatuh? Maaf Pak, kita ini pe­numpang yang bayar bukan naik gra­tis.

Akhir-akhir ini, naik kereta api juga di­minati pihak sekolah dengan mem­ba­wa anak didik naik kereta api, katanya u­ntuk pengenalan kereta api. Tidak ma­salah sih mendidik anak naik kereta api, tapi kadang gara-gara anak TK sering ke­habisan tiket. Kalau waktunya bukan wak­tu jam kerja, tidak apa-apa, ini me­ngambil jam orang berangkat kerja se­hingga yang berangkat kerja sering tidak men­dapat tiket.

Kereta api masih lama jalan tapi tiket sudah habis, dan ini sangat mengecewa­kan. Seharusnya pihak kereta api be­ker­ja­­sama dengan sekolah yang mem­bawa anak didik supaya membawa anak jangan pada jam orang berangkat kerja.

Saran saya untuk pihak kereta api, tolong dibuat nomor tempat duduk. Buat yang duluan dapat tiket sehingga tidak ada lagi yang namanya berebut tempat duduk. Yang terakhir men­dapat tiket ber­diri. Karena cara naik ke kereta api sudah tidak sehat main sikut-an, yang kuat me­nang. Penumpang yang sudah tua dan hamil besar hanya bisa pasrah me­naiki kereta api terakhir yang akhirnya di da­lam cuma bisa berdiri sampai tujuan. Mo­hon pihak perusahaan kereta api mem­benahi sistem kereta api tujuan Binjai.

Terima kasih sebelumnya.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar