Kecewa dengan Pembina Layanan Terapi Gratis

Sabtu, 19 Agustus 2017

Pengirim: JASMINE, Jln. Zainul Arifin Medan

SAYA salah satu pasien yang meng­ikuti terapi gratis di Choyang di Jalan Wa­hidin Medan. Kejadian pada Senin 7 Agustus 2017 sangat mengecewakan. Se­perti biasa saya menunggu antrian se­lama 1 (satu) jam, saat tiba waktu te­rapi, saya melihat ada 2 (dua) alat te­­rapi CY7000 yang kosong maka saya minta izin, untuk menggunakannya ber­sama dengan anak saya kepada salah satu pembinanya (lao she) dan diizinkan maka diaktifkanlah alat terapi tersebut se­lama empat puluh menit oleh pem­bi­na­­nya.

Namun, beberapa saat tiba-tiba da­tang salah satu pembina yang bernama Vera (Zhuren) mema­tikan alat terapi ter­sebut. Katanya, alat terapi yang ko­song ini untuk para lao she (pembina) di tempat tersebut. Dan saya menjawab­nya bahwa saya telah minta izin dengan pem­bina yang akan terapi di tempat ter­sebut dan diizinkan maka diaktifkan ka­rena kita sebagai pasien tidak tahu cara untuk mengaktifkan. Namun tapi Vera tetap tidak mengizinkannya.

Dan saya bilang tidak usah sampai em­pat puluh menit juga tidak apa-apa, cu­kup dua puluh menit saja saya terapi. Karena saya masih harus kerja juga, tapi apa pun yang saya katakan tidak ada gunanya.

Vera tetap memaksa saya untuk ba­ngun dari alat terapi tersebut dan saya harus menunggu satu jam lagi. Padahal sudah saya katakan kalau saya masih ha­rus kerja lagi maka saya minta pe­nger­tiannya. Lagian alat terapi inikan ma­sih kosong, tapi kata Vera disini pem­bina juga harus terapi perintah ata­san­nya.

Kemudian dia memanggil pembina lain­nya untuk segera mengambil alat yang sedang saya gunakan. Akhirnya dengan kesal dan emosi saya batal terapi pada hari itu, karena kesannya sangat intoleransi sekali dan sombong.

Mentang-mentang gratis, pada­hal yang memberikan gratis adalah pemilik­nya orang Korea dan dia di upah untuk melayani para pasien dengan ramah bukan dengan kesombongannya.

Kebetulan pada saat kejadian ini ma­nagernya sedang tugas kerja di kantor pusat Jalan Guru Patimpus. Saya per­caya kalau managernya ada di tem­pat pa­da saat itu, kejadian ini tidak akan terjadi.

Begitu juga pada saat pembagian hadiah batu dan serbuk Gwi Sa Mun Sok pada pasien yang sudah datang selama 6 hari berturut-turut, tetap di tahan-tahan dan akan diberikan dengan syarat harus terapi selama 40 menit lagi dan saya bilang kalau begitu bukan 6 hari tapi 7 hari berturut-turut.

Selalu dan selalu begitu terus, kalau tidak ikhlas memberikan ja­ngan berjanji  ataupun memberikan terapi gratis kepada pasien. Alasan para pembina (Lao she) ini adalah aturan dan instruksi dari atasannya. Banyak pasien yang kecewa dengan layanan ulah para pembina yang di Jalan Wahidin, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena te­ra­pi­nya gratis.

Melalui Surat Pembaca ini, saya ber­harap managernya dapat membina para pembina alat terapi yang di Jalan Wa­hidin dengan baik, melayani pasien de­ngan hati yang ikhlas, bukan dengan ke som­bongan apalagi meremehkan pa­sien.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar