Kualanamu dan Adam Malik

Sabtu, 19 Oktober 2019

Pengirim: DRS. H. M. NUH HARAHAP, Labuhan Batu Selatan

SEBAGAI warga asli Sumatera Utara berasal dari Kabupaten Labuhan Batu Selatan (Labusel) melalui Surat Pem­baca ini ingin menyumbangkan kepada penguasa di Sumut agar Bandar Udara Kualanamu yang megah itu diganti namanya dengan Bandar Udara Adam Malik. Usulan ini didasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

1. Adam Malik adalah tokoh nasio­nal. Pernah menjabat Menlu RI dua periode, malah pernah menjabat Wakil Presiden RI setelah Sultan Hamengbuwono IX, juga termasuk tokoh internasional pernah menjabat Ketua Majelis Umum PBB di New York dan juga salah seorang pendiri Negara-negara ASEAN.

2. Meskipun nama Adam Malik dijadikan nama satu rumah sakit di Medan, tapi menurut pendapat saya nama itu akan lebih tepat menjadi nama Bandar Udara Medan Sumatera Utara atau nama rumah sakitnya tetap Rumah Sakit Adam Malik sekaligus menjadi nama Bandara Adam Malik, sebagaimana di Jakarta ada Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Gatot Subroto sekaligus menjadi nama salah satu jalan protokol.

3. Di kota-kota seperti Pekanbaru, Jambi, Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Makassar dan lain-lain, Bandar Udaranya diabadikan dengan nama toko daerah masing-masing. Medan sebagai kota terbesar ketiga setelah Jakarta dan Surabaya sudah sangat pantas Bandar Udaranya diberi nama dengan Bandar Udara Adam Malik.

4. Setiap warga Sumut yang pulang kampung melalui Bandara Kualanamu melihat tulisan di atas bandara yang dapat dibaca dari jauh “Kualanamu Airport Internasional” barangkali akan lebih senang dan bangga apabila tulisan itu diganti dengan “Adam Malik Airport Internasional”.

5. Apabila di pintu gerbang masuk Bandara Sukarno-Hatta berdiri gambar patung Proklamator Sukarno-Hatta dengan gagah, maka di pintu gerbang Bandara Adam Malik pun nanti­nya hendaklah dibangun patung Adam Malik dengan senyum khasnya yang terkenal itu.

6. Tulisan ini sifatnya usulan atau pemikiran/pendapat, apabila diterima syukur, dan jika tidak dapat perhatian tidak apa-apa. Diharapkan tidak ada konsekwensi apapun.

Demikian pula Surat Pembaca ini ditulis dengan harapan mendapat tanggapan dari yang berwenang di Provinsi Sumatera maupun pembesar-pembesar Sumut yang ada di Jakarta. Terima Kasih

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar