Menyoal Pelayanan PT Pos  Kampus USU

Sabtu, 1 September 2018

Pengirim: Miduk Hutabarat, Jl. Mesjid Syuhada Padang Bulan, Medan

SUDAH beberapakali saya meng­ala­minya ketidaknyamanan di Kantor PT Pos Jl. Universitas No.50 Kampus USU Medan. Kejadian terakhir Rabu, 22 Maret 2018 sekitar pukul 09.00 WIB.  Lalu saya membuat komplain itu ke ru­brik Surat Pembaca Harian Kompas. Harusnya, Humas PT POS Indonesia cq PT POS Indonesia Sumut sudah mem­baca apa yang saya sampaikan.

Kejadian yang sama berulang kem­bali oleh  petugas yang berbeda pada Sabtu, 28 Juli 2018. Ketika saya mau mem­beli perangko kilat, si petugas men­dorong kita untuk mengunakan jasa pe­ngiriman tercatat. Dengan alasan supaya ada tanda bukti pengiriman. Tujuannya, kalau terjadi keterlambatan atau pun berkas hilang, kita punya tanda bukti pengiriman untuk menyam­paikannya, sehingga petugas bisa lebih mudah melakukan pelacakan terhadap surat tersebut.

Ada benarnya memang, walau­pun se­belum menggunakan sistem tercatat itu, sangat langka terjadi surat yang saya kirim dengan perangko bisa hilang tanpa ada berita. Kenapa, karena sistem kerja PT Pos Indonesia sudah standart. Dalam arti, punya SOP dalam bekerja, dan itu dimonitor terus oleh pimpinan PT Pos Indonesia. Jadi, tidak dibeban­kan kepada pengguna jasanya.

Masalahnya sepotong kertas yang mau saya kirim hanyalah lembar tiket pe­­sawat, tanda bukti yang tidak bisa saya kirim dengan WhatsApp (WA) maupun scan E-mail. Karena sang ad­min meminta supaya lembar tiket yang asli dikirimkan ke sekretariat panitia.

Karena tidak terlalu mendesak untuk sam­pai, lalu saya mengirim­kan­nya de­ngan jasa PT Pos Indonesia. Tetapi saya merasa terusik ketika sang Petugas de­ngan nada memaksa supaya saya meng­gu­nakan pilihan jasa ‘surat ter­catat’. 

Kemudian permintaan yang kedua ka­li­nya saya lakukan dengan mengata­kan; “Ibu saya mau beli perangko kilat dua buah”.  Lalu jawabnya, “Pak.. pe­tugas yang megang kunci berkas pe­rang­ko sedang keluar kota. Jadi pe­rangkonya tidak tersedia”.

Ternyata, urusan perangko, urusan pe­ngiriman surat tercatat dan jasa wesel pos yang masing-masing ada petugas­nya, secara managemen tidak bisa sa­ling melengkapi. Semisal satu diantara pe­tugas pergi atau tidak datang, kunci laci tidak bisa diakses oleh sesama pe­tu­gas ?

Karena sudah tahu kondisi seperti itu, saya pun melangkah keluar kantor terse­but.  

Apa yang mau saya katakan kepada Ke­pala PT Pos Indonesia Cabang Su­matera Utara, mohon ditertibkan supaya para petugas PT Pos UPT Kampus USU Me­dan mempunyai perilaku yang sesuai dengan SOP-nya budaya pelaya­nan PT POS Indonesia.

Ada ungkapan mengatakan, ‘ada uang ada barang dan kualitas menentu­kan harga’. Dalam kasus yang saya alami ini bukan masalah harganya, tetapi sikap dan mentalitas cara melayani pe­tugas PT Pos Indonesia yang perlu di­re­volusi.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar