Salut Untuk Pondok Puyu Kang Lathifc

Jumat, 31 Agustus 2018

Pengirim: J Anto, Perumnas Helvetia, Medan.

MINGGU (26/8)  sore, sekitar pukul 14.30 WIB, saya bersama famili mampir ke Pondok Puyu Kang Lathif di Jalan Si­dempuan, Tim­bang Galung, Pema­tang­­siantar. Sore itu kami baru pulang dari Panguguran, Samosir setelah meng­hadiri pesta pernikahan puteri dari kakak ipar, Sabtu (25/8).

Selesai menikmati puyuh goreng ca­bai hijau dan ikan bakar, kami lalu me­lanjutkan perjalanan ke Medan via Per­dagangan karena harus mengantar  se­orang famili yang tunggal di Kerasaan.

Pukul 16.32 WIB, tak lama saat masih di Kerasaan, sebuah telpon masuk ke pon­sel saya. Si penelpon seorang laki-laki, belakangan saya tahu itu adalah pemilik Pondok Puyu Kang Lathif. Beliau mena­nyakan apakah saya adalah pe­m­­lik tas warna coklat yang tertinggal saat kami makan di Pematang­siantar. Saya kaget dan baru menyadari rupanya tas saya yang berisi  tablet, obat dan kartu nama tertinggal Siantar.

Mobil pun segera kembali kami pacu ke Pematangsiantar. Pukul 17.45 WIB kami sampai lagi di Pondok Puyu itu. Be­gitu keluar dari mobil, abang tukang parkir yang rupanya masih mengenali saya tersenyum sembari melon­tarkan canda:

“Wah, mau makan lagi ya pak?” Saya pun tersenyum simpul, lalu bergegas me­nemui bagian kasir. Tas coklat saya su­dah ada di atas meja kasir. Saya lang­sung mengu­cap syukur. Bukan apa. Dalam memory card di tablet, banyak berisi file tulisan yang belum semuanya sempat dipindahkan ke laptop.

Dari  cerita kasir, saya menda­pat info bahwa setelah setengah jam saya tidak kem­bali ke pondok mengambil tas yang ter­tinggal, mereka bingung. Tas me­mang sudah diamankan, tapi kemana dan bagaimana harus dikembalikan?

Beruntung sore itu datang Pak Lathif pemilik pondok tersebut. Pondok di Jalan Sidempuan memang cabang dari Pon­dok yang ada di Jalan Ulakma Si­naga, Rambung Merah. Sehari-hari Pak Lathif berada di sana.

Beliau langsung memerintahkan ke stafnya untuk membuka isi tas dan mencari identitas saya. Kebetulan dalam tas ada kartu nama saya. Lalu Pak La­thif mengambil inisiatif menelpon say­a. Begitulah ceritanya. Tas itu pun kembali ke pangkuan saya. Saya pun sore itu segera menelpon Pak Lathif un­tuk mengungkapkan rasa terimakasih dan salut saya.

Sekali lagi matur nuwun Akang Lathif, semoga makin sukses dalam mengelola usahanya!

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar