Sebaiknya Pulangkan Piala Wahana Tata Nugraha

Kamis, 9 Maret 2017

Pengirim: Agustinov Tampubolon, SE, Jl. Harmonika N0. 84 Padang Bulan Medan

SEJAK tahun 2013 sampai  dengan ta­hun 2016  Kota Medan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara selalu men­jadi langganan peraih Piala Wahana Tata Nugraha kategori Lalu Lintas untuk kota Metropolitan dari Menteri Perhubu­ngan Republik Indonesia.

Tepat pada 31 Januari 2017 Kota Me­dan diwakili oleh Walikota Medan, Dzulmi Eldin menerima piala tersebut di Merlyn Park Hotel Jakarta.  Prestasi ini se­benarnya membi­ngung­kan saya se­ba­gai penduduk Kota Medan yang masih de­ngan jelas melihat bagaimana pena­taan lalu lintas di kota ini. Terdapat ke­ti­dak­sesuaian antara prestasi dengan fak­ta di lapangan.

Sebagai contoh, jika kita menyusuri Jalan Aksara di Kota Medan dengan je­las kita melihat pedagang yang ber­jua­­lan tepat di tengah jalan tersebut. Para pedagang menderikan stand atau kios tempat mereka berjualan, mereka meng­gunakan setengah bagian dari badan jalan.

Kondisi ini telah berlangsung dengan lama dan tentunya ber­dampak pada efek­tifitas peng­gunaan jalan. Dampak yang dapat dilihat secara jelas adalah tim­bulnya kemacetan di ruas jalan ter­se­but sebagi akibat berkurangnya badan jalan, dan selanjutnya dampak kesela­ma­tan bagi pengguna jalan khususnya pe­jalan kaki yang melakukan transaksi jual beli di tengah jalan.

Fenomena ini telah lama berlangsung se­jak terbakarnya Pasar Aksara pada Juli 2016 dan tentunya merugikan ma­sya­­ra­­kat kota. Pertanyaanpun timbul, apa­kah pemerintah Kota Medan tidak me­lihat ini sebagai masalah? Tentunya tidak. Apakah Tim penilai Wahana Tata  Nu­graha juga tidak melihat­nya? Pada ke­sempatan ini saya mencoba untuk ti­dak menya­lahkan siapapun, terlalu rugi ra­sanya  jika kita menyalahkan berbagai pihak,  kita akan rugi secara waktu, rugi se­cara tenaga dan materi, selanjutnya rugi secara perasaan akibat adanya kon­flik.

Saya mengajak masyarakat serta pe­me­rintah Kota Medan untuk segera ber­benah ke arah yang lebih baik demi ke­nyamanan kota ini. Pemerintah harus be­rani bersikap terhadap fenomena ini, tidak  perlu takut kepada apa dan siapa­pun.

Pemerintah harus menanggalkan ke­pentingan pribadi dan kelompok terha­dap fenomena ini.  Penegasan terak­hir yang harus diserukan kepada pemerin­tah Kota Medan adalah agar pemerintah Kota Medan secara kesatria untuk me­ngembalikan Piala Wahana Tata Nu­graha tersebut, karena kita harus me­nya­dari pada kesempatan ini kita belum ber­­prestasi, dan harus kita akui feno­mena di atas merupakan salah satu cer­minan lalu lintas yang sedang terjadi di kota yang kita dambakan ini.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar