Soara Taman, Menyelamatkan Ki Hujan di Lapangan Merdeka

Sabtu, 22 April 2017

Pengirim: Miduk Hutabarat, Pegiat Di Komunitas Taman. MEDAN 20131 Miduk Hutabarat

Bapak/Ibu dan Warga Medan yang dimuliakan. Beberapa literatur menyebut­kan, Lapangan Merdeka dibuka bersama­an dengan pembangunan gedung Sta­sion Deli Spoor Maats­chappij pada tahun 1884. Merujuk kepada angka tersebut, jika dikurangkan dengan tahun 2016, usia po­hon ki hujan (baca; trembesi) yang be­rada di sekeliling Lapangan Merdeka itu, sudah berkisar 132 tahun.

Terkait dengan tumbangnya pohon ki hujan Senin, 02 Januari 2017 di sisi Utara-Ba­rat Lapangan Merdeka. Beritanya saya ke­­tahui pukul 13.42 WIB dari grup WA Heritage Pan Sumatera. Disusul dari grup WA HUD Institut (Housing Urban Deve­lop­­ment) -domisili Jakarta-, pukul 14.52 WIB. Berikutnya, dari grup WA Dewan Ke­se­nian Medan (DKM) pada pukul  16.35 WIB.

Dari grup WA DKM - oleh rekan Ba­ha­ruddin yang bekerja di Poltabes Medan -mem­posting perihal tumbangnya pohon ki hujan tersebut sekitar pukul 13.00 wib. Mengakibatkan antara lain ; 1) dua buah mobil tertimpa kayu dan satu se­peda motor, 2) terjadinya korban luka yang di­alami oleh 3 orang. Dan menurut ke­­te­rangan dari Bahar, tindakan yang di­la­ku­kan orang di lapangan adalah meng­hu­bu­ngi pihak pertamanan supaya se­gera me­lakukan pembersihan batang dan da­han kayu yang re­bah melintang di tengah ja­lan. Menghu­bungi PLN supaya me­­ma­tikan listrik sementara. Serta tin­da­kan un­tuk mengalih­kan arus lalulin­tas yang be­ker­jasama dengan anggota pol­sek Medan Barat.

Percakapan yang cukup panjang ter­jadi ada di grup WA Pan Sumatera. Se­buah grup yang anggotanya adalah para pe­­merhati dan atau peduli dan atau pen­cinta serta pegiat heritage. Soroton mun­cul dari berbagai sudut. Ada yang me­nga­takan, tumbangnya pohon itu disebabkan oleh abainya Pemko atas keberadaan po­hon ki hujan di lapangan Merdeka. Mem­buat kerusakan yang terjadi pada pohon ki hujan di sana tidak terpantau. Pemko Me­dan lah yang telah merusak karakter kawasan Lapangan Merdeka. Apalagi dengan menebang dua pohon lagi -karena menurut tim investi­gasi mengata­kan-,  ada dua pohon lagi yang sudah kritis, sehingga pohon itu wajib ditebang.

Oleh seseorang anggota grup menga­ta­kan, tindakan itu ada­lah tindakan me­ren­canakan pembunuhan atas pohon-po­hon yang ada di sana. Alasannya adalah, ke­napa tidak dari awal Pemko Medan me­lakukan perawatan atas pohon-pohon yang sudah berumur kurang lebih 130-an tahun tersebut. Karenanya, diantara ang­gota grup ada yang mengecam Pem­ko dan meng­usulkan supaya ada yang melakukan gugatan. Dengan ala­san, karena Pemkolah yang bertang­gung­­jawab terhadap pengelola­an ruang publik. Karena itu wajib hukumnya, Pemko cq dinas pertamanan harus tau kondisi seluruh pohon yang ada di kota ini. Artinya jika terjadi kerusakan bukan tersebab badai atau kondisi yang tidak normal, ten­tunya Pemko Medan dan pemanfaat objek setempat wajib bertanggungjawab.

Pandangan keras itu muncul setelah Kepala Dinas Perta­manan buang badan ketika ditanyai wartawan tentang masalah ganti rugi yang diakibatkan tumbangnya pohon ki hujan yang menimpa dua buah mo­bil dan tiga sepeda motor dan empat orang kor­ban luka. Karena Kadis Perta­ma­nan men­jawab terkait dengan masalah ganti rugi itu, supaya menanyakannya ke pihak Badan Pe­nanggulangan Bencana. Karena di tem­pat beliau tidak ada posnya. Begitulah pen­jelasan beliau.

Lalu seorang anggota grup mengata­kan, bahwa sebelumnya tim BWS dan Arsitektur USU sudah pernah melakukan audiens ke Kepala Dinas Pertamanan Medan pada tahun 2009. Perwakilan BWS menyarankan supaya pihak dinas pertaman­an melakukan treatment terha­dap pohon-pohon yang ada di sana. Supaya tidak terjadinya kerusakan yang le­bih parah lagi. Namun sayangnya, se­telah kunjungan berlangsung Kepala Di­nas Pertamanan berganti. Hingga pohon ki hujan itu tum­bang Senin 02 Januari, ternyata Dinas Per­tamanan tidak melaku­kan tindakan apa-apa kecuali pemang­ka­san dahan dan ranting-ranting yang di­anggap sudah kritis untuk patah.

Sekalipun perbincangan itu tidak ada kon­kritnya, tetapi me­nu­rut saya, ada baik­nya Tim Ahli yang dipimpin Dinas Perta­nian dan Kelautan yang sudah turun ke la­pangan ke depan tidak sekedar me­re­ko­mendasikan pohon mana saja yang se­dang dalam kondisi kritis. Dan me­nye­rah­kan sepenuhnya kepada Pem­ko apa yang akan dilakukan. Justru yang terpen­ting dari itu adalah, apa seharusnya yang dilakukan oleh Pemko supaya dua pohon yang sudah kritis itu bisa tetap diperta­han­­kan. Apa yang perlu diberikan supaya mem­­­buatnya sehat kembali. Seperti mi­salnya, tindakan untuk merehabilitasi ke­se­hatan pohon dan  tanah yang ada di sana supaya pohon-po­hon itu pulih kem­bali. Mengingat banyaknya fungsi dan arti dari pohon-pohon ki hujan di lapangan Merdeka yang bersejarah itu. 

Demikian yang perlu disampaikan. 

Salam Hormat Dari Taman,

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar