Tagihan PDAM Tirtanadi Rp6000,-

Selasa, 24 April 2018

Pengirim: Hendri Chandra, Jalan Bilal, Medan

Sebagai konsumen PDAM, kami dike­jutkan dengan tagihan bulan De­sember 2017 dan Januari 2018 yang ha­nya sejumlah Rp. 6.000,- notabene bu­kan tanpa pemakaian.

Bukannya merasa bangga mendapat tagihan murah berturut-turut, mereka justru merasa was-was dan terheran-heran. Sembari menunggu rincian kekurangan penagihan dari PDAM, yang tak pernah ada, tagihan pun dilunasi demi menghindari penunggakan. Jum­lah tersebut kami anggap hanya sebatas biaya abodemen.

Penulis mencoba menklarifikasi pe­rihal tagihan tersebut dengan menda­tangi kantor PDAM di Jalan Tuasan, Me­dan. Selain harus kembali tanpa ha­sil, berebut antrian juga menghadapi pe­tugas yang melayani mereka yang tid­ak dalam antrian.

Saya perhatikan, staf yang melayani yang kurang ramah diban­ding pelayan­an yang diberi­kan perusahaan-pe­rusa­haan yang sudah go public. Ja­waban yang diberikan pun masih me­ng­ambang tak bersolusi. Mengenai ta­gihan Rp. 6.000,-

Penulis diinformasikan bahwa petu­gas lapangan memang tidak melakukan pen­dataan dan keku­rangannya akan ditagih­kan di bulan berikutnya. Namun ketika ditanya­kan rincian perhitungan dan hingga berapa bulan proses pena­gihan ini akan berlangsung, petugas ragu dan beralasan tidak tahu karena ter­gantung sistem.

­Benar saja, tagihan kemudian me­nan­jak dari Rp. 242.400,- di bulan Fe­bruari dan Rp. 344.660,- di bulan Maret 2018. Per­lakuan tersebut hanya akan mem­bi­ngung­kan kita antara mana yang meru­pakan tagihan pemakaian aktual dan serta yang termasuk kekurangan penagihan.

Kemudian, apakah jumlah tersebut su­dah sesuai dengan perhitungan meng­­ingat “katanya” tidak ada petugas di lapangan yang melalukan pendataan dan penca­tatan. Jadi pertanyaannya, apa yang mendasari munculnya jumlah ta­gihan tersebut.

Perlu digarisbawahi bahwa berbeda dengan sistem penagihan pajak yang menganut asas self-assessment sys­tem, konsumen PDAM tidak mela­ku­kan­nya sendiri perihal pendataan, pencatatan angka stand meter, perhitu­ngan hingga pembayaran. Hampir jar­ang bahkan tidak pernah kita melaku­kan­nya. Tapi bukan berarti juga kita harus acuh tak acuh. Konsumen se­ha­rusnya wajib mempunyai catatan angka pe­makaian sendiri per bulannya sebagai acuan perhitungan tagihan.

Sebagai penutup, tagihan bulan April yang barusan dilunasi sudah meroket hing­ga Rp. 458.100,- dengan posisi stand meter di lembar tagihan tertera di angka 4995164. Sedangkan malam ini ketika menyelesaikan tulisan ini, penulis terlibat mengintip dan angka pemakaian sudah mencapai 5112032.

Dalam hal ini, bagaimana pihak PDAM akan mengejar keterting­galan tersebut? Apakah kekurangan penagih­an tersebut dicicilkan secara bertahap ke dalam tagihan berjalan setiap bulannya? Adakah rincian perhitungan yang disepakati kedua pihak dan bersediakah juga jika konsumen membayar keku­rangan penagihan juga dengan metode cicilan bertahap?

Pembaca yang budiman, per­nah­kah anda mengalami kejadian serupa? Sudahkah kita jeli dan tanggap dalam hal mencocokkan akurasi angka pema­kaian aktual anda dengan apa yang dita­gihkan? Apa yang anda lakukan? Cuek-cuek saja? Mungkin hal ini ter­dengar sepele, namun dalam era ke­ter­bukaan ini, menagih sesuai pemakaian jelas merupakan suatu KEHARUSAN.

Semoga pihak PDAM selalu beru­saha memperbaiki pelayanan dengan s­e­lain selalu menyalurkan air bersih, juga menyajikan akurasi tagihan bagai­mana caranya itu dengan selalu men­sinkroni­sasi kondisi aktual pema­kaian konsu­men di lapangan setiap bu­lannya. Semo­ga air yang didistribusikan ke rumah tang­ga konsumen juga kelak su­dah layak mi­num langsung dari sum­bernya.

Komentar

Komentar

Silahkan masuk atau daftar untuk memberikan komentar