Penting Dialog Anak-Orangtua saat Mengerjakan PR Sekolah

Adanya PR (Pekerjaan Rumah) dari sekolah di antaranya untuk membangkitkan motivasi anak dengan menyelesaikan sejumlah persoalan. Karena mustahil bila berlangsung di sekolah saja, mengingat waktu yang tidak cukup. Sedangkan untuk mengecek, apakah PR dikerjakan, biasanya guru menjanjikan bahwa PR harus dikumpulkan serta diperiksa.

Banyak anak yang bila tidak mampu, langsung minta tolong, seperti orangtua. Itu memang baik, sekaligus isyarat adanya niat untuk menyelesaikan tugas.

Sayangnya, sering orangtua buru-buru. Karena sibuk, capek atau ngantuk, “to the point” saja. Terutama pada pelajaran yang banyak mengandalkan uraian dan hitungan.

Si anak biasanya puas, apalagi bila teman-teman di sekitarnya sudah menunggu untuk bermain. Tinggal hasilnya diserahkan besok.

Tetapi tanpa disadari mereka telah mendidik anaknya untuk manja. Bak langsung makan ikan di piring , tanpa peduli dengan asal-usulnya, sehingga ikan sampai berada di di piring.

Meskipun dilihat dari kedisiplinan, tugas sudah selesai, tetap merupakan langkah yang salah. Seharusnya orangtua menerangkannya dari sejumlah sisi, sehingga mengendap pada pikiran anak sampai kapan pun. Bila perlu disertai sejumlah contoh dari pengalamannya sendiri, terutama yang rutin.

Para kirikus pendidikan umumnya mengakui PR sebagai asset yang mempunyai kekuatan dalam membentuk kecerdasan anak. Ketika anak mengerjakan PR, apalagi ketika fisik/mental sedang bugar, otaknya akan dimasuki memori pengetahuan.

Walaupun hasilnya banyak yang salah, asal anak sudah mengerjakan PR, memori pengetahuan tetap akan diperolehnya. Ini pun termasuk tujuan pemberian PR.

Ada sejumlah faktor penting dalam membantu anak mengerjakan PR. Antara lain : Menciptakan situasi yang memungkinkan anak mau mengerjakannya, memilih waktu yang tepat, mengurutkan persoalan yang semakin lama semakin sulit, mengoptimalkan kesehatan anak yang merupakan unsur penting untuk menciptakan konsentrasi intelektual, dan merencanakan materi pelajaran secara jelas.

Yang penting, setiap menyelesaikan persoalan berlanjut dengan pemahaman. Apalagi bila anak mampu menganggapnya sebagai bagian hidupnya sehari-hari. Selain itu, anak selama itu mampu bersikap aktif, kritis, dan kreatif.

Tanpa pengertian akan membuat anak hanya akan berwawasan klise dalam berucap, seiring yang dihapalnya. Prof. Dr. Paulo Freire asal Brasil menganggapnya sebagai cara belajar yang hanya membentuk anak yang miskin bahasa, yang gilirannya beresiko bagi timbulnya perilaku bisu. Itu sama saja menjadikan pengetahun sebagai “mekanisme sistim nilai tanpa mangfaat dalam hidup”, bak teka-teki silang saja.

Dialog

Membantu menyelesaikan PR akan semakin jitu bila disertai dialog yang merangsang. Sehingga anak akan memusatkan perhatian terhadap berbagai persoalan yang kurang jelas, sekaligus menjadikannya sebagai problematika yang gilirannya akan dicuatkan melalui pertanyaan. Sedangkan pengajuan pertanyaan bisa meningkatkan substansi pengetahuan, mengingat sifatnya yang sering ditimbulkan oleh rasa penasaran.

Dengan dialog, anak dibentuk seperti pohon asli, yakni akan terus berkembang setiap saat, bukannya seperti pohon plastik, yakni tidak akan berkembang sedikit pun.

Tanpa dialog bisa membuat anak terasing oleh pelajaran yang sering bersifat naratif dan verbal. Apalagi bila harus menerima pelajaran secara pasif dengan mendengarkan, memperhatikan, dan mengerjakan saja yang diarahkan untuk menghadapi evaluasi setiap periode tertentu. Bila banyak sarjana sekarang yang tidak mampu mengaplikasikan spesialisasi ilmunya ke pekerjaannya, itu antara lain karena kurangnya dialog ketika masih sekolah.

Ingat ! Sekolah itu mempunyai : “makna yang dalam dan nilai yang tinggi”, yaitu fasilitas untuk meningkatkan kesejahteraan dan membebaskan kesengsaraan. Justru sebenarnya karena inilah, sehingga manusia terdorong untuk menciptakan pendidikan, agar apa-apa yang diinginkan bisa tercapai dengan segara dan nyata. (Nasrullah Idris)

()

Baca Juga

Rekomendasi