Cara Asyik Minum Jamu, Menyulapnya Jadi Es Krim

JAMU memiliki banyak manfaat bagi manu­sia, bah­kan untuk anak-anak. Na­mun karena rasanya yang dianggap pahit, anak-anak seringkali tidak mau me­ngon­sumsi jamu. Tapi saat ini sudah ada inovasi baru untuk lebih mempopulerkan jamu, yaitu es krim jamu.

Es krim ini memiliki bahan herbal yang alami dan khasiatnya tidak akan berku­rang. Salah satu pembuat es krim jamu ini adalah Retno Widati, wanita yang tinggal di Jalan Kayu Manis Timur 8, Matraman, Jakarta ini memiliki keinginan yang kuat untuk dapat membuat jamu lebih digemari  masya­ra­kat, terutama anak-anak.

Menurutnya, saat ini jumlah penjual jamu masih banyak, sementara penik­mat­nya semakin berkurang. Karena itu ia berupaya me­les­tarikan jamu dengan berinovasi membuat es krim jamu.

"Es krim jamu ini meru­pakan ide saya untuk bisa lebih mengenalkan jamu ke berbagai kalangan. Saya saat ini melihat jamu sudah mulai terlupakan, padahal jamu sudah memiliki khasiat yang dipercaya turun-temu­run. Saya sangat menya­yangk­an hal ini. Maka dari itu saya mencetuskan ide untuk mempopulerkan jamu dalam bentuk es krim, kare­na yang saya lihat banyak orang menyukai es krim," ujarnya.

Es krim yang paling diminati menurut Retno adalah beras kencur, karena rasanya manis alami dan tidak terlalu pahit, sehingga anak-anak di sekitar rumah­nya sangat menyu­kai es krim jamu beras kencur. Namun tidak hanya beras kencur saja yang dapat dibuat menjadi es krim. Jamu yang lain pun bisa sela­ma tersedia bahan lain, yaitu es batu dan garam.

"Tidak hanya jamu favorit seperti beras kencur dan kunyit asam saja yang dapat dibuat jamu, semua jamu dapat dibuat es krim. Hal ini karena memang teknik yang digu­nakan tidak membatasi hanya jamu ter­tentu saja yang dapat dibuat es krim," lanjutnya

Ia menjamin khasiat es krim jamunya ini sama dengan meminum jamu tradisional yang biasa dijual. Es krim jamunya memang disukai banyak orang, namun ia memiliki prinsip hanya ingin melestarikan jamu pada masyarakat, tanpa unsur bisnis. Saat ini usianya pun sudah cukup tua untuk berbisnis, sehingga ia tidak menjual es krim jamu inovasinya ini. Wanita ini juga sangat terbuka jika ada yang ingin melakukan pelatihan membuat es krim jamu.

"Pelatihan ini tidak dipungut biaya. Datang saja ke tempat te­ra­pi saya, akan saya ajari bagai­mana cara membuat es krim jamu. Saya justru senang kalau ada orang yang mau belajar cara melestarikan jamu," tuturnya.

Aman

Pembuat es krim sekaligus pendiri Komu­nitas Honocoro ini menambahkan, pihaknya mem­buat es krim dari jamu yang aman bagi pengidap penyakit gula (diabetes). “Membuat es krim jamu adalah salah satu cara untuk menarik generasi muda agar mengenal penge­ta­hu­an tradisional tentang rempah-rempah sehat yang ada di Indonesia,” katanya.

Menurutnya, dikatakan revolusi jamu, yaitu jamu dapat diolah menjadi es krim yang tidak pahit dan disenangi oleh orang dewasa maupun anak-anak, sehingga mereka dapat merasakan hasil karya jamu tersebut dengan nikmat.

“Komunitas Honocoro sejak Desember 2011 telah membuat es krim jamu. Selain maka­nan, jamu pun harus mengalami revo­lusi. Jadi, orang minum jamu tidak harus pahit dan berbentuk pil, tablet, kapsul atau berupa bubuk,” serunya.

Menurutnya, seluruh dunia harus tahu, bahwa es krim jamu merupakan milik Indo­nesia, tanpa harus dipatenkan sudah secara pandangan merupakan buatan Indonesia.

Es krim jamu, tambahnya, bisa disajikan sebagai hidangan penutup untuk pesta-pesta eksklusif, selain itu dapat menjaga daya tahan tubuh dalam era pemanasan global.

Selain Retno Widati, di Yogyakarta juga ada lima mahasiswa Fakultas Teknolo­gi Pertanian (FTP) Universitas Gajah Mada (UGM) yang membuat bisnis es krim jamu.

Lima mahasiswa itu antara lain Elok Pawening Maharani, Sari Yuslia, Arif Sugianto, Anisa Dian Safitri, dan Aryo Dwi Nugroho. Produk yang mereka hasilkan diberi label 'Herbatic' yang merupakan kepanjangan dari Herbal Nabati Ice Cream.

Dalam satu pekan mereka mampu menjual hingga 90 cup es krim Herbatic yang dijual seharga Rp3.500 per cup. Herbatic baru dipasarkan seca­ra terbatas di kantin FTP, Resto Vegan Somayoga, Vihara Bodhicitta Maitreya, Minimar­ket Plaza Agro. Rasa yang ditawarkan pun bervariasi, jahe, kunyit asam, kencur, temulawak, dan jahe merah.

Berbagai variasi olahan jamu ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian jamu. Dengan dilakukannya berba­gai inovasi baru kepada jamu, diharapkan jamu akan terus menjadi warisan di Indonesia dan tidak akan punah walau­pun kini sudah banyak minum­an lain yang memiliki fungsi seperti jamu. (dtc/int)

()

Baca Juga

Rekomendasi