Medan, (Analisa). Prof. Dr. Bonatz, Arkeolog Jerman mengeritik ketidaksesuaian kurikulum pendidikan Indonesia dengan fakta sejarah. Kurikulum 2013 masih memasukkan masa megalitikum sebagai bagian dari zaman prasejarah. Padahal, hasil temuan arkeolog terbaru telah mematahkan teori usang tersebut. Megalitikum justru menandai sejarah peradaban manusia yang sudah mahir dengan desain-desain, pematungan, dekorasi, sistem perpolitikan, batas teritorial, sistem dagang, kontak spiritual dan pelestarian lingkungan (alam).
Arkeolog Ketut Wiradnyana menambahkan, dari hasil eskavasi tim Balai Arkeologi Medan yang dilakukan di Samosir menegaskan megalit di Sumatera relatif muda dan bukan menandai zaman prasejarah. Bahkan ada megalit yang berumur 50 tahun. Pada penelitian di Samosir menunjukkan pentarikan bahwa usia megalit diperkirakan paling tua abad ke 14 atau 15 Masehi.
Bonatz hadir sebagai pemateri dalam ceramah khusus di Ruang Sidang A Biro Rektor Unimed, Jumat (24/4). Turut hadir Wakil Rektor IV Unimed Prof. Dr. Berlin Sibarani, Sejarawan Dr. phil Ichwan Azhari, sejumlah peneliti, akademisi, arkeolog, jurnalis, guru sejarah, tim MGMP sejarah dan mahasiswa.
Dalam paparannya, Prof. Bonatz membuka materi dari situs-situs megalit, jenis batu dan macam-macam fenomena serte knomologinya. Penelitiannya dilakukan di dataran tinggi pulau Sumatera, mulai dari Kerinci, lalu ke Suamtera Barat, naik terus ke pegunungan Toba, dan berakhir di wilayah Nias. Ia memaparkan dalam slide-slidenya gambar-gambar megalit di are-area penelitiannya, dekorasi, geometris serta temuan lainnya. Ia juga memunculkan satu peta yang sudah sangat lengkap tentang proses penelitian namun sampai saat ini, katanya, eskavasi masih minim dilakukan.
Hasil temuannya ini menekankan berbagai fungsi megalit yang ia teliti di berbagai kawasan dataran tinggi Sumatera yaitu berupa simbol kekuasaan, penanda/batas teritori, penanda makam, batu leluhur serta objek spiritual. Penanggalan, katanya, memang sulit disimpulkan, tapi bisa dikatakan bahwa megalit berasal dari abad 5-20 Masehi. Di beberapa area seperti Nias dan Toba, megalit masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal, tetapi di beberapa area lain seperti Pasemah, Kerinci dan Mahat, megalit hanya menjadi bagian masa lalu yang tidak diketahui. Oleh karena itu penting untuk menjaga dan melestarikan peninggalan kebudayaan megalitikum ini sebagai cagar budaya Sumatera agar tetap ada dan awet, katanya lagi.
Selain ceramah, acara dirangkai dengan peluncuran buku: 4000 Tahun Jejak Permukiman Manusia Sumatera yang ditulis dalam perspektif Arkeolog di dataran tinggi Pulau Sumatera. Buku tersebut karya Dominik Bonatz. Buku ini, kata Dr. phil Ichwan Azhari, Sejarawan Unimed, lahir sebagai buah provokasi. Kalau tidak diprovokasi, kata Azhari, Mungkin buku ini tidak akan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Karya-karya arkeolog semacam ini melimpah di luar negeri, tapi tidak diketahui, sulit diakses dan dipahami sebagian pembaca sejarah, mahasiswa dan guru sejarah Indonesia. Karya-karya beginian terasing dari masyarakat terdidik di Indonesiayang jadi objek kajiannya,
Padahal, terang Ichwan lagi, melalui buku begini, sejarah bisa diluruskan. Sejarah bisa bengkok karena masyarakat Indonesia hanya mengetahui fakta yang keliru tentang masa lalu mereka, sementara Pemerintah Indonesia cenderung abai terhadap dekontruksi masa silam yang keliru. Saya katakan provokasi, karena memang saya memprovokasi Prof. Bonatz untuk menerbitkan karya-karya penelitiannya dalam bahasa Indonesia tanpa menunggu instansi pemerintah atau sponsor resmi, ujarnya.
Karena itu, pihak Unimed berencana akan mempetisi kementerian pendidikan agar merevisi buku sejarah kelas 1 SMA yang masih mencantumkan megalitikum sebagai zaman prasejarah. Zaman megalitikum adalah zaman sejarah.
Relevansi
Lantas bagaimana melihat megalitikum di zaman sekarang? Apa relevansinya? Muncul sejumlah kekuatiran bahwa warga yang pengetahuannya terbatas tentang megalitikum rentan akan menghancurkan batu-batu besar (megalit). Mereka hanya memandang batu besar semata bahan-bahan bangunan. Lebih sadisnya, timbul ide untuk manghancurkan megalit karena mempercayai mitos tentang kandungan emas di dalam batu-batu tersebut. Padahal itu tidak benar, punkas Bonatz.
Melalui megalit ini, sambung Bonatz, orang Indonesia bisa belajar bagaimana nenek moyangnya orang-orang Sumatera di zaman megalitikum, ternyata sudah menguasai sistem perekonomian, menjalankan sistem pemerintahan, menentukan batas-batas wilayah, membangun hubungan dengan wilayah luar melalui hubungan dagang dengan dinasi Ming, dinasti Song dari China dan barter barang-barang keramik dari India.
Peradaban manusia megalitikum menunjukkan hidup selaras dengan alam. Tak lupa, megalitikum mengajarkan peradaban manusia tentang prestise, mental masyarakat masa itu yang sudah menghormati leluhurnya.
Fokusnya ke situs-situs megalitikum di Pulau Sumatera. Tujuannya agar tau sejarah Sumatera, apa hubungan megallitikum dengan zaman kini baik di bidang ekonomi, politik, budaya dan lingkungan. Serta mengupas fenomena, kronologi konteks-konteks sosial dan ekonomi secara kontekstual.
Wakil Rektor IV Unimed Prof. Dr. Berlin mengatakan, buku hasil penelitian Bonatz ini adalah sumbangsih besar terhadap sejarah dan budaya Indonesia. Apalagi karena penelitiannya di Sumatera, maka peradaban manusia Sumateralah yang dilulas di buku ini dalam perspektif arkeologi. Ini sangat membantu bagi Unimed. Apalagi Bonatz menerbitkan buku tersebut dengan dananya sendiri. Dibutuhkan banyak hasil karya penelitian sepasti dilakukan Bonatz,pungkasnya. (dgh)










