Kearifan Budaya Lokal dalam Kajian Ilmiah

Oleh: Fadmin Prihatin Malau. Jika berkunjung ke Huta Si­allagan di Samosir akan melihat bangunan rumah Batak. Tidak ja­uh dari deretan rumah Adat itu terdapat sebatang  pohon diperki­rakan umurnya ratusan tahun. Po­hon itu disebut Hau Habonaran (pohon kebenaran atau pohon keadilan). Ceritanya ditanam se­belum membangun Huta. Kala itu para tetua masyarakat berdoa (martonggo) bila pohon yang di­tanam tumbuh subur, berarti ada kehidupan. Ternyata tumbuh su­bur maka jadilah huta atau per­kampungan.

Dahulu, pada hari tertentu raja dan para tetua huta memberikan persembahan atau sesajen di po­hon itu. Memberi persembahan di­percayai akan mendapatkan ber­kah. Budaya kearifan lokal ini masih ada di Samosir. Memperi­ngati Hari Pohon 21 November teringat akan pohon kebenaran. Hari Pohon juga teringat melesta­rikan lingkungan sebab ditandai dengan menanam pohon.

Memperingati Hari Pohon se­lalu dikaitkan dengan kelestarian lingkungan hidup. Mengapa Hari Pohon tidak dikaitkan dengan bu­daya kearifan lokal Indonesia. Pa­da hal hampir semua daerah di In­donesia memiliki kearifan budaya lokal tentang pohon. Ham­pir semua suku bangsa di Indonesia menempatkan pohon sebagai budaya kearifan lokal yang pen­ting untuk kehidupan manusia.

Berbagai suku bangsa, terma­suk Suka Batak misalnya Pohon Hariara menyatu dengan kehidu­p­an Suku Batak. Pohon Hariara merupakan pohon penting di tano (tanah) Batak. Pohon Hariara menjadi ciri khas budaya Batak yang sejak zaman. Pohon Hariara menjadi panutan hidup masyara­kat Batak dan menjadi penentu da­lam mengambil keputusan pen­ting. Hal itu terjadi pada Huta Si­allagan yang kini ada di Samo­sir. Keputusan penting untuk me­nentukan Huta Siallagan itu di­dirikan atau tidak.

Hal yang sama juga terjadi de­ngan huta-huta lain di Tanah Ba­tak. Bila ingin membuka huta atau kampung terlebih dahulu di­tanam Pohon Hariara. Bila selama tujuh hari Pohon Hariara yang di­tanam itu tumbuh dengan baik maka lokasi itu bagus menjadi per­kampungan. Masyarakat Ba­tak meyakini lokasi itu akan mem­bawa berkah bagi penghuni­nya. Sebaliknya jika dalam waktu tujuh hari tidak tumbuh subur, maka lokasi itu tidak baik bagi pemukiman manusia.

Pohon Hariara dalam Bahasa Batak artinya hari ketujuh. Kini hampir semua lumban, sosor, huta yang ada di Tano Batak tumbuh subur Pohon Hariara. Selama lima belas tahun penulis berada di Tano Batak tidak melihat masyarakat menanam Pohon Hariara. Tidak melihat menanamnya sewaktu membuka pemukiman baru. Pas­tinya memang Pohon Hariara tum­buh subur di Tano Batak, se­bab mudah menemukan pohon itu. Tidak melihat di bawah Pohon Hariara dijadikan sebagai lokasi membuat perjanjian di masyara­kat Batak.

Sampai kini Pohon Hariara ma­sih diyakini masyarakat Batak sebagai penolak marabahaya bagi penghuni kampung. Pohon Haria­ra masih dinilai memiliki makna filosofi dalam kearifan budaya lo­kal di tanah Batak. Pohon Hariara bermakna perlindungan dari se­gala marabahaya. Pada bagian ba­tang bermakna pembawa re­ze­ki dan keberkahan. Pada bagian akar bermakna persatuan antara manusia dengan manusia serta keselarasan dengan alam di se­kitarnya. Makna filosofi Pohon Ha­riara berguna bagi sesama ma­nusia hidup di bumi ini.

Mengkaji Kearifan Lokal

Pohon Hariara diyakini ma­sya­rakat Batak sebagai penolak marabahaya bagi penghuni kam­pung. Dalam kajian ilmiah pohon menjadikan lingkungan sekitar se­gar, nyaman dan bebas dari polusi udara. Lingkungan hidup asri mem­buat manusia bernafas lega.

Dasar kajian ilmiahnya, seba­tang pohon bisa menghasilkan Oksigen (O2) 1,2 Kg/hari. Seba­tang pohon besar bisa menyerap 1 ton Karbon Dioksida (CO2) yang dilepaskan manusia ketika berna­fas. Manusia membutuhkan minimal 0,5 Kg Oksigen/hari dan me­lepaskan Karbon Dioksida (CO2) ketika bernafas.

Jika sebatang pohon besar menyerap 1 ton CO2 maka bila ada 20.000.000 pohon besar maka menyerap 20.000.000 ton CO2. Pada saat yang sama menghasil­kan 24.000.000 ton Oksigen/hari. Seorang manusia membutuhkan 0,5 Kg Oksigen/hari, berarti bisa memenuhi kebutuhan Oksigen untuk 48.000.000 manusia. Efek rumah kaca terjadi karena penum­pukan gas Karbon Dioksida (CO2) di atmosfer menyebabkan berlubangnya lapisan atmosfer. Bila ada 20.000.000 pohon di hutan maka akan menyerap 20.000.000 ton CO2 di atmosper maka efek rumah kaca bisa dicegah.

Gas CO2 terbesar dihasilkan pabrik, kemudian terbesar kedua dihasilkan kendaraan bermotor. Aki­batnya banyaknya gas CO2 di dunia, maka terjadi hujan asam yang sangat membahayakan bagi tanaman, terutama manusia. Pe­nelitian Bianpoem (1997) pohon seluas 300 x 400 meter dapat me­nurunkan partikel debu. Hasil pengamatannya turun dari 7.000 partikel/liter menjadi 4.000 par­tikel/liter.

Kajian ilmiah ini sejalan de­ngan kearifan budaya lokal ten­tang pohon. Dahulu di Tano Batak Rapot Bius atau rapat yang dia­dakan raja huta tempatnya di ba­wah pohon. Istilahnya ditoru ni jabijabi.

Komunitas Sastra Indonesia-Me­dan (KSI-Medan) setiap Sabtu melakukan pertemuan di bawah Pohon Asam dan Beringin di Ta­man Budaya Sumatera Utara. Pohon Asam Jawa dengan hala­man rumput 10 x 7 meter. Di ba­wah Pohon Asam Jawa itulah sekretariat KSI-Mdn. Aktivitas­nya, membahas karya-karya ang­gota sebelum dikirimkan ke media.

Tidak salah karena pohon mem­berikan udara segar.  Pohon sa­ngat penting dalam semua makh­luk hidup di dunia ini, ter­utama manusia. Kearifan budaya lokal tentang pohon bermakna universal, tidak sekadar seremo­nial menanam pohon pada Hari Pohon.

Kearifan lokal budaya Batak menempatkan pohon sangat pen­ting termasuk pohon yang ada di hutan (harangan). Kumpulan tum­buhan pohon (hau) semak dan rum­put (ramba) mendapat perla­ku­kan khusus. Artinya, tidak sem­barangan bisa menebang pohon di hutan sebab dipercayai pohon hidup memiliki kebutuhan sama dengan manusia.

Pohon yang ditebang ada per­syaratan harus dipenuhi yakni me­lakukan komunikasi dengan po­hon. Caranya menancapkan “takke” atau sejenis kapak ke ku­lit pohon sebagai pertanda akan ditebang. Bila keesokan harinya “takke” masih lengket maka bisa ditebang, bila kapak tidak lengket lagi maka tidak bisa ditebang.

Selanjutnya kearifan budaya lo­kal Suku Batak ada “pinta-pin­ta” yakni setiap memanfaatkan se­suatu selalu kemudian ada pengganti. Artinya, barang siapa yang melakukan penebangan po­hon harus menanam pohon peng­ganti. Bila tidak berarti telah me­mu­tus satu siklus hidup.

Begitu ju­ga ketika menebang ada aturan atau “ruhut” yakni mem­perhati­kan arah pohon tum­bang agar ja­ngan menimpa pohon kecil. Ada istilah “Marobo hau bo­lon, malisat hau anak” atau tum­bang kayu besar, kemungkin­an besar akan menimpa kayu ke­cil.

Kearifan budaya lokal ketika dikaji secara ilmiah ternyata se­jalan, selaras. Tidak salah mem­pe­ringati Hari Pohon, 21 November setiap tahun diselaraskan de­ngan kearifan budaya lokal yang ada di Indonesia.

Penulis; Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, mantan Sekretaris Majelis Kebudayaan PW. Muhammadiyah Sumatera Utara pernah lima belas tahun di Tano Batak.          

()

Baca Juga

Rekomendasi