Karena Cuaca Dingin

Pasukan Nazi Gagal Kuasai Uni Soviet

NAZI sangat yakin dapat meraih kemenangan cepat dan mudah terhadap Uni Soviet tahun 1941. Dalam be­­be­ra­pa bulan pertama pe­rang, mereka tidak memiliki banyak alasan untuk dieva­luasi lagi. Dalam dua bulan per­tama perang, Nazi telah mengambil alih sejumlah wilayah luas, termasuk apa yang sekarang disebut Esto­nia, Latvia, Lithuania dan Ukraina serta Belarus.

Soviet jatuh dan terus mengalami kekakalahan sampai Desember 1941. Saat itu Nazi sudah berada di ger­bang Leningrad dan Moskow.

Saat fajar 22 Juni 1941, le­bih 4,5 ju­ta pasukan Nazi, yang didukung de­ngan pesa­wat, tank dan artileri menye­rang Soviet — kelak dikenal sebagai Ope­rasi Barbarossa.

Sejarawan sependapat bahwa seha­rusnya pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin tahu terkait serangan besar-be­sar­an tersebut. Faktanya, Stalin menga­baikan sejumlah peringatan penting, termasuk laporan intelijen yang mempredik­sikan tanggal invasi itu.

Presiden AS Franklin D. Roosevelt dan Perdana Men­teri Inggris Winston Chur­chill pun pernah mengingat­kan Stalin akan rencana se­rangan Hitler.

“Tak lama setelah menak­hlukkan Pran­cis, Hitler akan menyerang Soviet,” ujar Roo­sevelt kala itu seperti dilansir History, Selasa barusan.

Namun peringatan itu ditepis Stalin, dia berke­yakinan bahwa Jerman tidak akan membuka front di timur selama Perang Dunia II mengingat negara itu tengah bertempur di Barat.

Pemimpin Soviet itu juga menga­bai­kan informasi inte­li­jennya dari se­jumlah negara seperti Jerman, Jepang, Ru­­mania, dan Swiss — seluruh mata-mata itu melaporkan bah­wa Nazi akan melan­car­kan serangan.

Semisal, pada 1941, seo­rang mata-mata di Berlin mengabarkan bahwa ‘perang dengan Rusia akan terjadi pada tahun itu’. Sejumlah penjaga perbata­san juga men­dengar informasi bahwa pasukan Nazi telah bergerak ke timur.

Tanda-tanda Perang Mulai Terlihat

Kendati laporan tidak se­lalu dapat dibuktikan kebe­narannya, namun informasi intelijen tentang tanggal invasi nyaris tepat.

Informan Soviet bahkan mencatat pe­nyadapan dari Jerman yang men­dis­kusikan rencana Hitler, termasuk omo­ngan seorang perwira yang menga­ta­kan, “Mereka (Soviet) bahkan tidak menya­dari bahwa kita sedang mem­persiapkan perang”.

Hitler menganggap remeh etnis Ru­sia menyebut mereka sebagai ‘bu­dak mas­sal yang membutuhkan tuan’, dan dia ingin ‘membersihkan’ mere­ka se­hing­ga pemukim Jerman bisa memiliki tempat tinggal.

Pertengahan Juni 1941, sejumlah tan­da-tanda jelang perang mulai ter­lihat. Pasu­kan perbatasan di masing-masing negara telah berhenti saling mem­beri hormat.

Kapal dagang Jerman telah ‘meng­hilang’ dari pelabuhan Soviet, dan diplomat Axis dan sekutu telah mengo­song­kan kantor mereka di Mos­kow.

Sementara di udara, orang-orang dapat menyak­sikan bagaimana pesa­wat-pesawat milik Nazi melanggar wila­yah udara Soviet ratusan kali dalam se­minggu untuk melakukan pengin­taian terha­dap lapangan udara, benteng, serta tempat-tempat strategis lainnya.

Bahkan setelah semua ini terjadi, Stalin masih berge­ming. Dia menyebut laporan itu sebagai provokasi Inggris dan tetap mengirimkan pa­sokan bahan baku ke Jerman.

Tak hanya itu, dia me­me­rintahkan anak buahnya un­tuk tidak menembak pesawat Jerman yang melintasi wila­yah udara Soviet.

Terbatasnya Sistem Lo­gistik

Ketimbang fokus pada persiapan de­fensif, Stalin justru lebih menyibuk­kan diri dengan pembersihan militer.

Harus diakui bahwa mesin propaganda Nazi telah be­kerja sangat baik untuk me­ngecoh perhatian Stalin.

Mereka beralasan pesawat-pesawat Nazi yang memasuki wilayah udara Soviet itu dise­babkan karena pilot hi­lang arah sementara bergeraknya pasu­kan Jerman ke timur demi menghindari serangan udara Inggris.

Stalin baru terjaga dari ‘tidurnya’ setelah seorang ten­tara Jerman mem­belot pada 21 Juni dan memberikan ke­sak­sian bahwa Jerman akan me­nye­rang Soviet keesokan harinya.

Lalu dia memerintahkan pasukan di perbatasan siaga dan mengkamuflase lapangan udara, namun di sisi lain dia te­tap menyimpan harapan bahwa pe­rang besar dengan Jerman bisa dicegah.

Harapan Stalin itu tidak ter­wujud. Jerman tetap me­nyerang Soviet, bom yang dapat menjangkau jarak 2.000 mil ditembakkan dari Laut Baltik ke Laut Hitam — dengan mudah meng­han­­curkan pertahanan Soviet.

Dalam beberapa minggu, pasukan Jerman berhasil me­mukul mundur Soviet lebih dari 400 mil. Ratusan ribu Tentara Merah ditangkap dan dibunuh, begitu juga dengan nasib orang-orang Yahudi. Invasi yang dimulai di musim panas itu berakhir di musim dingin. Keme­na­ngan sempat dikecap pasukan Hitler, namun tibanya musim dingin yang meru­pakan se­kutu terbaik Soviet telah mem­­balikkan keadaan.

Jerman mampu meng­han­curkan mi­liter Soviet, namun gagal mem­per­siap­kan perang yang berkelanjutan di te­ngah musim dingin Soviet yang me­matikan. (lpt/wqc/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi