Lima Tingkat Kehidupan

BUKU “Said Nursi Pemikir dan Sufi Besar Abad 20 Menjawab Yang Tak Terjawab dan MenjelaskanYang Tak Terjelaskan” memang buku yang sudah lama saya beli. Sudah beberapa kali buku ini saya baca, tetapi semakin saya membaca buku ini rasa ingin tahun saya semakin tinggi. Kenapa? Karena banyak hal-hal yang menurut saya untuk dikaji lebih dalam. Salah satunya berkaitan dengan kehidupan. Pada halaman pertama buku ini, ada pertanyaan yang menarik tentang tingkat kehidupan.

Seorang murid bertanya kepada Said Nursi apakah Khidir as masih hidup atau telah meninggal dunia? Jika iya masih hidup, kenapa beberapa ulama menolak keadaan hidupnya ini. Pertanyaan ini mungkin saja muncul dalam benak kita, karena memang ada statement yang menyatakan bahwa Nabi Khidir diberi Allah ‘mukjizat’ bahwa ia akan meningal pada akhir zaman. Walaupun ada yang beranggapan bahwa keberadaan Nabi Khidir telah wafat di zaman Rasulullah Saw, karena setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi nabi sesudahnya, karena Rasulullah Saw adalah penghabisan para Nabi dan Rasul. Ada juga yang menjawa masih hidup tetapi semua jawaban tersebut tentunya kurang memuaskan karena dalilnya kurang kuat.

Kekurangpuasan jawaban yang diberikan oleh para guru-guru terdahulu mungkin dapat sedikit ‘terpuaskan’ dengan jawaban Said Nursi di bawah ini.

Menurut Said Nursi, Nabi Khidir as masih hidup. Namun, kata ada lima tingkat kehidupan dan kehidupan Nabi Khidir ada dalam tingkat kedua. Sehingga beberapa ulama meragukan apakah ia masih hidup atau sudah wafat.

Sampai di sini, terus terang saya sangat tertarik apalagi dijelaskan bahwa kehidupan sesungguhnya ada lima tingkatan. Maka dengan serius saya kembali membaca uraian Said Nursi tersebut.

Katanya, tingkat pertama adalah seperti yang kita alami di sini dan sekarang ini, yang dibatasi oleh kondisi-kondisi tertentu.

Tingkat kedua, diujudkan dalam kehidupan Khidir dan Ilyas. Dalam batas tertentu, tingkat ini relatif bebas. Bagi mereka yang menga­laminya, mereka bisa berada di tempat-tempat yang berbeda dalam waktu yang sama dan tidak terikat oleh kebutuhan-kebutuhan hidup manusia biasa. Seperti kita, mereka makan dan minum, tetapi mereka tidak benar-benar mem­butuh­kannya. Pengalaman-pengalaman orang-orang suci bersama Khidir, yang bisa melihat kebenaran-kebenaran tersembunyi, menerangi dan membuktikan keberadaan tingkat kehidupan ini. Selain itu, suatu peringkat spritual yang dicapai oleh orang-orang suci dalam perjalanan spritual mereka adalah peringkat Khidir. Orang suci yang telah men­capai peringkat ini mungkin bertemu dengan Khidir dan diperintah langsung olehnya. Ka­dang-kadang seseorang yang telah mencapai peringkat ini bahkan disalahartikan sebagai Khidir sendiri.

Tingkat ketiga diujudkan dalam kehidupan Nabi Isa asa dan Idris as. Mereka hidup di surga dan bebas dari segala kebutuhan ma­nusiawi. Tubuh mereka telah mencapai se­macam pemurnian dan pencerahan.

Tingkat keempat adalah kehidupan para suhada. Beberapa ayat Qur’an menyebutkan secara eksplisit bahwa para suhada menikmati tingkat kehidupan yang lebih tinggi daripada non suhada. Karena suhada mengorbankan nyawa mereka di jalan Allah. Dan Allah menganugerahi mereka kehidupan di alam antara yang menyerupai kehidupan duniawi, tetapi tanpa penderitaan dan kesulitan seperti kehidupan dunia ini. Karena para suhada tidak merasakan pedihnya kematian,mereka bahkan tidak mengetahui bahwa mereka mati, tetapi mereka menganggap diri mereka ditransfer ke dunia yang lebih baik dan menikmati keba­hagian yang sempurna. Orang mati, bagai­manapun juga mengetahui jika mereka mati, meskipun roh mereka abadi.

Tingkat kelima adalah kehidupan roh orang yang telah mati. Sebenarnyalah, kematian adalah perpindahan tempat tinggal, sebuah pembebasan dari tugas-tugas duniawi yang memerdekakan roh. Kematian bukannya anihilisasi sepenuhnya menjadi non eksistensi (tidak ada). Tigkat kehidupan ini terbukti melalui fakta-fakta yang teramati berulangkali yaitu roh-roh para orang suci menampakkan diri dalam ujud manusiawi dan dilihat oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk memahami kebenaran-kebenaran tersem­bunyi. Bahwa orang mati bisa berkomunikasi dengan kita dalam mimpi atau bahkan pada saat kita terjaga.

Inilah lima tingkatan hidup menurut Said Nursi yang sangat menarik. Mungkin sebelum­nya kita hanya tahu bahwa kehidupan hanya ada dua tingkatan yaitu hidup di dunia ini dan kehidupan setelah di akhirat. Tetapi rupanya tingkatan kehidupan juga mempunyai fase-fase. Hal ini tergantung kepada tingkat keimanan kita.

Mungkin pernah kita mendengar, bahwa seorang ulama besar, hari ini terlihat di sebuah daerah sedang memberikan pengetahuannya. Tetapi pada saat yang bersamaan ia juga terlihat di tempat yang lain. Maka mungkin kita akan mengatakan, mustahil!

Tetapi fakta membuktikan demikian. Maka dengan penjelasan yang dijelaskan sufi besar Said Nursi ini hati kita berkata, rupanya ulama tersebut sudah mencapai tingkat kehidupan kedua. Maka tidak heran jika ia bisa berada pada dua atau tiga tempat pada waktu yang sama.

Ini bukan persoalan ilmu, tetapi ini meru­pakan persoalan hidayah. Jika Allah mem­berikan hidayah-Nya kepada orang yang ia sukai, kenapa tidak mungkin.

Banyak orang yang mencoba mempelajari hal itu, seolah-olah itu adalah ilmu yang bisa dipelajari. Boleh jadi demikian. Tetapi sesung­guhnya, apa yang diberikan Allah kepada orang-orang tersebut pada dasarnya bukan karena keinginan dirinya. Tetapi karena memang Allah memberikan karamah kepa­danya karena dekatnya ia kepada Allah.

Kedekatan orang-orang suci tersebut me­rupakan kedekatan yang ikhlas, bukan kede­katan semu. Sehingga banyak hal yang terka­dang sulit untuk kita pikirkan, tetapi muncul diha­dapan kita.

Demikian juga dengan kehidupan ini. Apalagi di saat para hajji dan hajjah kembali ke tanah air. Banyak cerita yang mungkin mustahil menurut kita, tetapi faktanya berbeda. Di sana mungkin Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, dan ketika Dirinya menunjukkan kekuasaannya, maka tidak ada seorangpun yang dapat meng­halang-halangi kekuasaan-Nya tersebut.

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

()

Baca Juga

Rekomendasi