Pohon Mangga yang Seram

Oleh: Miranda Irawan

Rasanya senang sekali, hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu sepanjang tahun. Aku dan anak-anak lainnya akan lomba bermain layangan. Perlombaannya sangat mudah, layangan yang paling tinggi akan menjadi peme­nangnya. Perlombaan ini akan diadakan di depan rumah Pak Karmin, karena halaman rumah Pak Karmin sangat luas. Halaman rumahnya sudah seperti lapangan bola.

“Ayah.... ayo cepat, nanti aku terlambat lomba bermain layangannya.”

“Iya, sebentar, ayah sedang mencari benang layanganmu.”

“Benang dan layangannya sudah di tanganku, yah. Ayo cepat kita pergi.”

Setiap tahun, aku akan ditemani ayah untuk mengikuti lomba bermain layangan. Pemenang lomba bermain layangan tahun kemarin adalah aku. Layanganku terbang tinggi, mengalahkan layangan-layangan lainnya. Tahun kemarin, aku dapat hadiah karena menang, hadiahnya uang. Saat itu aku sangat senang, karena teman-temanku mengucapkan selamat kepadaku.

“Ayah, tahun ini kita harus menang juga ya.”

“Kita usahakan ya, Nak,” kata ayah.

Setelah sampai di halaman rumah Pak Karmin, teman-temanku sudah ramai datang. Si Arif bersama ayahnya mem­bawa layangan dengan bentuk ikan, layangannya punya ekor di belakang. Si Toni dan ayahnya membawa layangan berbentuk kepala boneka, layangan Toni sangat besar. Aku dan ayahku membawa layangan berbentuk kepala naga.

Sambil menunggu yang lain, aku memasang benang layangan agar mudah terbang, ayah membantuku. Toni dan Arif juga melakukan itu. Tiba-tiba, aku melihat pohon mangga yang sangat besar di samping rumah Pak Karmin. 

“Ayah, pohon mangga itu besar sekali.”

“Iya, itu pohon mangga Pak Karmin memang besar.”

“Pohonnya seram ya, yah.”

“Tidak, itu hanya pohon mangga biasa.”

Setelah semuanya berkumpul, perlom­baan dimulai. Aku dan ayah mulai me­nerbangkan layangan kami yang ber­bentuk kepala naga. Kulihat layangan Arif sudah mulai naik tinggi. Layangan Toni belum juga naik-naik, mungkin karena layangan Toni terlalu berat. Layanganku sudah mulai naik, tapi belum setinggi Arif.

Tiba-tiba saja Toni menjerit. “Aaaaa layanganku tersangkut.” Aku melihat ke arah layangan Toni, ternyata layangan Toni tersangkut di pohon mangga Pak Karmin. Toni menangis. Aku kasihan padanya.

Tak lama kemudian, ganti Arif yang menjerit. “Aaaaaaa layanganku.” Arif me­nangis, ayahnya memeluknya. Layangan Arif juga tersangkut di pohon mangga Pak Karmin.

Angin sangat kencang, layanganku terbang ke kiri dan ke kanan. Tali layangan­ku putus. Aku langsung mengejarnya, tapi layanganku tersangkut di atas pohon mangga Pak Karmin.

Kuperhatikan pohon mangga itu, pohon itu sangat seram. Di pohon itu pasti ada hantu yang suka memakan layangan. Sejak saat itu, aku, Toni, dan Arif memu­tuskan untuk tidak mau lagi bermain layangan di halaman Pak Karmin. Karena di halaman Pak Karmin ada pohon mangga berhantu yang suka makan layangan.

Keesokan harinya, teman-teman mengajakku bermain layangan lagi di la­pangan bola yang berada di samping seko­lahku. Karena layanganku sudah dimakan oleh pohon mangga Pak Karmin, aku pun memutuskan untuk membuat layangan biasa untuk kumainkan bersama teman-teman di lapangan bola.

Kami bersepeda ke lapangan bola. Setelah berpamitan dengan Ibu, aku langsung berangkat ke lapangan bola dan siap untuk bermain layangan. Untuk sam­pai ke lapangan bola, aku harus melewati rumah Pak Karmin terlebih dahulu. Tiba-tiba aku merasa takut karena mengingat pohon mangganya yang telah memakan layanganku dan layangan teman-temanku.

Sampailah aku tepat di depan rumah Pak Karmin, kuperhatikan pohon mangga yang seram itu. Kulihat tak ada lagi layanganku dan layangan teman-temanku yang tersangkut di sana. “Pasti hantu itu sudah memakannya semalaman,” ucapku dalam hati

Tiba-tiba saja ada suara memanggilku. “Jimi..Jimi..” Aku mencari asal suara itu dan memberhentikan sepedaku. Ternyata suara itu adalah suara Pak Karmin. “Ada apa, Pak,?” ucapku takut karena melihat wajah Pak Karmin.

“Ke sinilah sebentar,” pintanya.

“Jimi mau ke lapangan bola bermain layangan, Pak.”

“Iya, ke sini sebentar!”

Aku pun menghampiri Pak Karmin. “Ada apa, Pak?” tanyaku. Bapak hanya ingin mengembalikan layangan ini padamu, layangan ini milikmu kan? Nanti kalau bertemu dengan Toni dan Arif, suruh dia ke rumah bapak. Layangan mereka juga ada sama bapak.”

Aku terkejut sambil mengambil layanganku yang berada di tangan Pak Karmin. “Loh.. bukannya layangan ini sudah dimakan hantu yang berada di pohon mangga bapak?” Pak Karmin tertawa terbahak-bahak. “Tidak ada hantu di pohon mangga bapak. Pohon mangga ini hanya pohon mangga biasa. Hantu itu tidak ada, Jimi. Orang-orang yang percaya hantu hanya orang-orang yang penakut. Lagipula mana ada hantu yang memakan layangan.” Ucap Pak Karmin.

Aku pun merasa malu karena percaya bahwa di pohon mangga Pak Karmin ada hantunya. Setelah itu, aku berpamitan dengan Pak Karmin untuk bermain layangan di lapangan. Aku sangat senang karena ternyata layanganku bisa kembali. Aku pun memberi tahu dengan Toni dan Arif bahwa layangannya berada di rumah Pak Karmin, kuberitahu juga pada mereka bahwa pohon magga Pak Karmin tidak ada hantunya.***

()

Baca Juga

Rekomendasi