Mencermati Penanganan Sampah Plastik

Oleh: Mega Yudia Tobing

Bahan plastik (polimer) semakin banyak dipergu­na­kan dalam kehidupan. Bahan plastik memang memiliki keunggulan tersendiri diban­ding bahan lain, yaitu kuat, ringan, fleksibel, tahan karat, dan tidak mudah pecah. Sa­yangnya, bahan plastik mem­butuhkan waktu ratusan bah­kan ribuan tahun untuk dapat diuraikan oleh mikro orga­nis­me dan beberapa di anta­ranya mengandung bahan ki­mia yang berbahaya bagi ke­se­hatan.

Bahan plastik tidak hanya digunakan sebagai tempat ba­rang-barang belanjaan (kan­tong platik) tetapi seba­gai kemasan dari produk-produk yang dijual di pasaran (botol plastik, sterofoam, ke­masan sampo, kemasan ma­kanan ringan, dan lain-lain). Tidak hanya itu, bahan plas­tik juga dipakai untuk mem­buat peralatan kebutuhan ru­mah tangga, peralatan kantor, peralatan sekolah, dan lain sebagainya.

Penggunaan produk ber­ba­han plastik yang meningkat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa faktor ter­sebut diantaranya yaitu pe­ningkatan jumlah penduduk, jumlah pendapatan pendu­duk, kemajuan teknologi, dan gaya hidup. Peningkatan jum­lah penduduk tentu saja berdampak pada peningkatan kegiatan konsumsi di mana konsumsi ini juga akan men­cakup konsumsi produk ber­bahan plastik. Jumlah penda­patan penduduk juga mendu­kung jumlah barang yang dibeli untuk memenuhi ke­bu­tuhan atau bahkan hanya un­tuk sekedar pemuas ke­ingin­an.

Kemajuan teknologi telah membuat informasi dapat di­akses dengan mudah dimana banyak informasi tersebut mengarah pada penawaran suatu barang sehingga ba­nyak orang tertarik untuk membeli. Gaya hidup seperti membeli produk-produk ke­masan ekonomis tentunya sa­ngat mempengaruhi jum­lah peningkatan penggunaan pro­duk berbahan plastik.

Penggunaan produk ber­ba­han plastik yang meningkat juga meningkatkan sampah plastik yang dihasilkan. Ber­dasarkan data dari LIPI, kon­sumsi plastik di Indonesia per kapita sudah mencapai 17 kilogram per tahun dimana pertumbuhan konsumsi men­capai 6-7 persen per tahun. Indonesia bahkan menempati urutan ke-2 sebagai penyum­bang sampah plastik ke laut. Hal ini tentu sangat meng­kha­watirkan sebab sampah plastik memberikan dampak buruk bagi kehidupan.

Dampak Sampah Plastik

Peningkatan jumlah sam­pah plastik akan mening­kat­kan dampak buruk yang tim­bulkannya bagi kehidupan. Kebanyakan sampah plastik bahkan tidak dikelola dengan baik dan dibuang begitu saja juga semakin menambah dampak buruk yang ditim­bul­kannya. Sampah plastik dapat menyebabkan pence­mar­an lingkungan (air, ta­nah, dan udara). Membuang sampah plastik sembarangan dapat mencemari tanah se­hing­ga menurunkan kesu­bur­an tanah dan bahkan mem­bunuh makhluk hidup di dalam tanah misalnya ca­cing.

Membuang sampah plastik sembarangan juga dapat men­cemari air di sungai mau­pun di laut karena sampah plastik yang dibuang semba­rangan akan dibawa oleh alir­an air hujan melalui saluran air menuju sungai kemudian beruara di laut. Kegiatan mem­bakar sampah plastik untuk mengurangi sampah plastik yang menumpuk juga dapat menyebabkan terjadi­nya pencemaran udara dan da­pat mengganggu kese­hat­an. Hal ini dikarenakan pro­ses pembakaran yang tidak sempurna, sampah plastik akan mengurai di udara se­bagai dioksin yang memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, ganggu­an sistem saraf, dan memicu terjadinya depresi (sumber: www.hrcindonesia.org).

Tidak hanya dampak yang disebutkan di atas, jika sam­pah plastik berada di laut ma­ka rantai makanan makhluk yang hidup di sana dapat ter­ganggu dan pada akhirnya da­pat membahayakan kese­hatan manusia yang meng­kon­sumsinya. Selain itu, sam­pah plastik juga dapat membunuh hewan-hewan di laut di mana hewan-hewan tersebut menduga sampah plas­tik tersebut adalah ma­kan­an mereka.

Menurut One Green Pla­net, beberapa spe­sies yang pa­ling terkena dampak sam­pah plastik adalah kura-kura laut, singa laut, burung laut, ikan, paus, dan lumba-lum­ba. Tak hanya itu, sampah plas­tik juga dapat menye­bab­kan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran air se­hingga mengakibatkan terja­dinya banjir.

Penanganan Sampah Plas­tik

Berbagai cara telah dilaku­kan untuk mengatasi masalah sampah plastik. Salah satu ca­ra penanganan sampah plas­tik adalah dengan pene­rapan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle). Reuse adalah kegiatan memakai ulang plas­tik yang telah digunakan. Reduce adalah mengurangi pemakaian plastik misalnya dengan membawa tas belan­jaan sendiri atau menggan­tikan plastik dengan kertas koran bekas.

Sementara recycle adalah ke­giatan mendaur ulang sam­pah. Adanya kegiatan men­da­wur ulang sampah plastik menjadi sesuatu yang berni­lai seperti tas, dompet, dan pakaian juga menjadi salah satu cara dalam penanganan sampah plastik yang ada. Be­berapa perusahaan pun turut serta dalam proses mendaur ulang sampah plastik untuk dapat digunakan kembali atau sebagai bahan campuran da­lam memproduksi produk­nya.

Beberapa kota di Indonesia bahkan membangun bank sampah sehingga masyarakat dapat membawa sampah yang mereka kumpulkan un­tuk dapat didaur ulang kem­bali dimana masyarakat juga mendapat keuntungan dari sampah-sampah tersebut be­ru­pa uang, beras, atau lain se­bagainya.

Pengurangan jumlah kan­tong plastik yang digunakan juga dilakukan dengan ada­nya uji coba program kan­tong plastik berbayar oleh pe­merintah untuk mening­kat­kan kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam peng­gunaan kantong plastik se­hingga konsumen yang ber­belanja dapat membawa ba­rang belanjaannya tanpa meng­gunakan kantong plas­tik jika masih dapat dipegang dengan tangan saja atau de­ngan menggunakan tas be­lan­ja sendiri.

Bahkan sejak diterapkan Februari 2016 hingga akhir tahun lalu, pembayaran kan­tong plastik seharga Rp.200 oleh konsumen telah mendo­rong turunnya penggunaan kantong plastik sekitar 30% hingga 50% (Sumber: www. bbc.com). Penanganan masa­lah sampah plastik masih terus diupayakan oleh peme­rintah. Kampanye-kampaye untuk gerakan bersih juga semakin ditingkatkan.

Sekarang ini, plastik ra­mah lingkungan (biodegradable) bahkan menjadi salah sa­tu produk yang dikem­bang­kan. Menurut Pusat Penelitian Bioteknologi LI­PI, bahan ini lebih murah di­banding bahan plastik lain­nya, waktu hancurnya lebih singkat, dan tidak beracun. Pengembangan plastik biodegradable dilatarbelakangi oleh masalah penguraian plastik yang sulit di alam. Sa­lah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat plastik biodegradable adalah singkong. Bahan lain yang dapat digunakan untuk mem­buat plastik ini adalah jagung dan lidah buaya.

Sebaiknya penanganan sampah plastik dimulai dari diri kita sendiri. Beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi sampah plastik yang dihasilkan selain beberapa cara yang disebut­kan dalam kegiatan 3R di atas, yaitu membawa botol minuman sendiri jika beper­gian, bawa tempat makanan jika membeli makanan untuk dibawa pulang ke rumah un­tuk menggantikan plastik se­bagai wadahnya, membeli pro­­duk berbahan plastik yang ramah lingkungan.

Lalu menghentikan kebia­saan membeli barang yang tidak diperlukan, meng­ganti barang yang ada jika benar-benar telah rusak, mengu­rangi membeli barang dalam ukuran ekonomis (kemasan sekali pakai), bawa barang yang dibeli di warung atau su­permarket dengan tangan jika itu masih dapat dibawa dengan tangan tanpa meng­gunakan kantong plastik. Buanglah sampah pada tem­patnya, hentikan pembakar­an sampah, dan ikutilah ke­giatan-kegiatan peduli ling­kungan, misalnya gotong ro­yong membersihkan ling­kung­an sekitar tempat ting­gal.

Persoalan sampah plastik bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi kita juga turut serta. Jika kita saja enggan untuk memperbaiki tindakan kita, ba­gaimana permasalahan sampah ini bisa diatasi atau dikurangi? Jadilah pribadi yang peduli lingkungan! Bah­kan meskipun sudah mela­kukan hal-hal di atas, hen­dak­nya kita tidak diam saja atas tindakan saudara-saudara kita yang belum sadar. Kita sebaiknya menyadarkan me­reka dan mengajak mereka untuk bersama-sama peduli pada lingkungan sehingga lingkungan kita dapat terjaga kelestariannya dan kita pun dapat hidup dengan sehat.

()

Baca Juga

Rekomendasi