Hidup di Jakarta Dikepung Tinja

Berjalan menyusuri lorong-lorong kampung di Kecamatan Tam­bora, Jakarta Barat, seolah tersesat di dalam sebuah labirin raksasa. Se­makin dalam lorong-lorong sempit itu ditelusuri, makin pusing kepala menentukan arah mata angin. Apalagi bau semriwing kadang menyergap indra penciuman.

Sepuluh tahun lalu, ketika Ria pertama kali pindah ke Kelurahan Duri Utara di Tambora, dia kaget bukan main. Ria berjalan menuju ke rumahnya melewati lorong demi lorong, lebarnya paling hanya satu setengah meter. Makin jauh berjalan, lorong itu makin sempit. Banyak gang bercabang yang ujung dan pang­kalnya bagai benang kusut.

Kondisi ini sangat kontras dengan kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah. Dulu di kampung, begitu pintu rumah dibuka, sepanjang mata memandang dia dapat melihat ham­paran sawah menguning menjelang musim panen.

“Waktu itu saya masih pengantin baru, diboyong suami. Karena dia kerja di perusahaan konveksi di sini, jadi cari kontrakan yang dekat,” kata Ria, kini ibu rumah tangga dengan dua anak. Dia pun terpaksa tinggal di rumah kontrakan dua lantai berukuran 2 x 3 meter. Harga sewanya Rp6 juta per tahun.

Dengan gaji suami, ditambah uang hasil kerjanya sebagai tenaga penga­jar kursus anak-anak sekolah dasar (SD), keluarga kecil Ria bertahan hidup di ibukota.

Kondisi lingkungan di RW 02 tempatnya tinggal membuatnya sengsara. Setiap hari Ria harus mencium bau tak sedap yang berasal dari selokan penuh tinja dan sampah di sekitar rumah. Kebetulan selokan itu letaknya hanya dua meter dari rumah kontrakannya. Sampai-sampai Ria melarang dua anaknya bermain di depan rumah.

Tak hanya itu, mutu air tanah dari keran membuat Ria makin meringis. Sebetulnya dia tak ingin meng­guna­kan air keruh berwarna ke­coklatan itu. Tapi hanya air itu seperti itu yang keluar dari sumur. Ria hanya meng­gunakan air tanah untuk keper­luan mandi, mencuci piring dan baju. Untuk memasak dan minum, ia terpaksa membeli air pikulan.

“Kotoran warga semua numpuk di kali karena dari toilet memang buang­nya langsung ke sana. Dari awal me­mang nggak ada septic tank. Di selokan itu kalau lagi penuh-penuh­nya sampai ada banyak belatung,” Ria menuturkan dengan muka jijik.

Warga RW 02 tempat Ria tinggal memang kompak membuang hajat di selokan. Bisa dibilang hampir tidak ada yang memiliki tangki penam­pungan tinja. Meski dampak pence­maran akibat pembuangan tinja serampangan itu telah terasa, warga merasa “sebodo amat”.

Di Duri Utara, warga asli Tambora dan para pendatang seperti Ria, hidup berjejal. Satu rumah mungil kadang bisa dihuni hingga tujuh keluarga sekaligus. Beberapa rumah kontrakan beralaskan triplek juga lebih mirip kan­dang ketimbang hunian. Uurusan mandi dan buang hajat, mereka meng­gunakan toilet umum berbayar. Toilet umum ini juga langsung terhubung de­ngan selokan.

Saking kepingin gratis, ada pula warga yang menghalalkan segala cara untuk membuang tinja. “Mohon maaf nih ya, habis BAB (buang air besar) dimasukin ke dalam plastik, udah di­buang begitu aja di pinggir jalan atau di kali,” ujar Denny Aputra, Lurah Duri Utara.

Terpapar bakteri tinja

Hidup bertahun-tahun dikepung tinja, hanya tinggal waktu saja, peng­huninya bakal kena dampaknya. Sete­lah melahirkan anak pertama, Ria keti­ban sial. Dia menderita radang kulit akibat terpapar air yang tercemar Escherichia coli, salah satu bakteri yang terdapat pada tinja manusia se­telah datangnya banjir.

Dokter di puskesmas mengatakan, Ria terkena infeksi radang kulit akibat terpapar kotoran manusia. Akibatnya, sekujur tubuh Ria bengkak dan timbul bisul-bisul kecil. Selama 40 hari dia seperti orang lumpuh.

Anaknya yang baru lahir, Caca, ju­ga sering sakit-sakitan. Selama sebu­lan Caca bisa tiga kali bolak-balik kli­nik karena diare dan muntaber. Pe­nyakitnya ini berulangkali kumat hing­ga Caca duduk di bangku kelas 4 SD.

Data Puskesmas Kecamatan Tam­bora tahun 2015 menunjukkan, setiap bulan terjadi sekitar 50 kasus diare di Duri Utara. Kasus diare tertinggi me­nimpa warga RW 02.

Untunglah ada Yayasan Plan International Indonesia. Bekerja sama de­ngan Kelurahan Duri Utara dan warga, juga sejumlah lembaga sosial lainnya, organisasi kemanusiaan internasional itu mencari solusi mengolah air limbah domestik di permukiman padat itu.

Akhirnya, terwujudlah proyek BERSIH (Bersama Perbaiki Sanitasi dan Higiene Kota) di Duri Utara. Hasilnya adalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Biofilter Komu­nal.

Berada di tengah pemukiman war­ga, IPAL Biofilter Komunal dihu­bung­kan dengan jaringan perpipaan dari rumah ke rumah sehingga air lim­bah domestik bisa dikelola bersama.

IPAL ini terdiri atas lima sampai enam bak penampungan dan ditanam di dalam tanah. Masing-masing bak me­miliki tugas berbeda, di antaranya menampung, memadatkan, dan mem­busukkan tinja. Sisa air hasil olahan tinja yang telah memenuhi standar ba­ku mutu bisa dibuang kembali ke su­ngai. Sementara lumpur tinja diangkut secara berkala oleh truk tinja milik PD PAL Jaya. IPAL Biofilter mulai diga­rap pada Oktober 2016 dan tuntas pada Juli 2017.

Bagi rumah warga yang tidak ke­bagian jaringan perpipaan IPAL Bio­filter Komunal, mereka juga dipasang­kan beberapa jenis tangki septik yakni satu unit tangki pinastik, satu unit tang­ki tripikon dan empat unit tangki si­linder.

Sebanyak 1.323 warga menerima manfaat dari proyek ini. Namun masa­lah tinja di Duri Utara tak seketika be­res hanya dengan membangun IPAL Biofilter Komunal.

Untuk memastikan infrastruktur ini dikelola dengan baik, dibentuk Sanitasi Total Berbasiss Ma­sya­rakat (STBM) Kelurahan.

“Program ini tidak 100 persen ban­tuan tapi dibutuhkan partisipasi ma­sya­rakat. Tim STBM dibentuk tokoh ma­syarakat dan warga yang secara ala­mi memiliki kepedulian terhadap ling­kungan,” kata Herie Ferdian, WASH Project Manager, Plan International In­donesia..

Alami perubahan

Setahun setelah proyek ini berjalan, kondisi gang di Duri Utara memang tak banyak berubah. Tapi setidaknya dua sudut lorong di RW 02 suasanan­nya tak sesuram dulu.

Seorang warga, Suharti, wanita asal Sumedang, Jawa Barat, terlihat sedang bersantai sambil menunggu cucunya pulang sekolah. Dia duduk di atas IPAL Biofilter Komunal.

Lokasi IPAL tertanam itu kini bertambah fungsinya menjadi ruang terbuka dadakan. Tem­bok dan lantai di sekelilingnya pun diberi cat warna-warni.

“Sekarang enak, udah bisa nafas le­ga. Bahkan siang-siang emak-emak di sini pada ngumpul makan. Padahal du­lu sebelahnya persis selokan yang isinya tinja. Sekarang bahkan airnya udah ngalir lancar,” katanya semri­ngah.

Semenjak pemasangan IPAL Bio­filter Komunal bukan cuma kondisi lingkungan yang berubah. Kelurahan Duri Utara khususnya di RW 02 juga mengalami perbaikan kesehatan. Data Puskesmas Kecamatan Tambora me­nun­jukan, dari 2017 ke 2018 terdapat penurunan kasus diare sebesar 57,65 persen.

“Walaupun dari berbagai macam aspek sudah banyak perubahan. Tapi air selokan masih belum bebas dari pencemaran. Faktornya karena antara satu selokan dengan selokan lain sa­ling terhubung. Artinya kalau mau me­nye­lesaikan masalah ini harus menye­luruh. Nggak bisa di satu RW atau satu kelurahan saja, tapi semua harus diper­baiki,” kata Herie Ferdian dari Plan International Indonesia. (Melisa Mailoa/dtc)

()

Baca Juga

Rekomendasi