Pacaran Setelah Menikah

pacaran-setelah-menikah

Menikah adalah ibadah yang sakral, suci, dan salah satu ibadah yang perlu disegerakan apabila sudah mampu melakukannya. Menikah adalah kegiatan mulia yang paling ditungg-tunggu oleh pria dan wanita. Sangking mulia pernikahan, sampai-sampai ‘Arasy Allah Swt bergetar setiap kali kalimat akad nikah diucapkan.

Oleh karenanya diperlukan upaya pembela­jaran baik dari ilmu agama maupun ilmu akhirat. Mau dibawa kemana rumah tangga kita adalah poin dari persiapan pernikahan itu sendiri. Jangan terjadi istilah “membeli kucing dalam karung”. Sebelum kita memilih pasangan, Islam mengajarkan kepada kita mengenal terlebih dahulu bagaimana sifat atau kehidupan calon pasangan kita yang sering disebut Istilah “Ta’aruf”.

Sebagai seorang mukmin kita harus berhuznudzon kepada allah SWT karena konsep jodoh dalam pandangan islam bagian dari takdir, artinya, hal tesebut menjadi ketentuan Allah SWT. Sesungguhnya Allah menciptakan jodoh sesuai kualitas diri serta keimanan yang ada pada setiap manusia. Sering dikatakan sebagian orang bahwa jodoh itu cerminan diri kita. Jangan pernah lelah berhusnudzon kepada Allah SWT dan teruslah memantaskan diri untuk kekasih sejati.

Akhir zaman ini adakah seseorang yang suci terhindar dari budaya pacaran, bisa iya, bisa tidak, namun secara umum sepertinya kita pernah terjebak pada masa kelam, kemu­dian mengambil ittibar agar tidak terulang kem­bali. Bahkan yang lebih parah orang justru meng­halalkan pacaran dengan alasan salah satu­nya pacaran itu menambah semangat belajar

Buku yang ditulis oleh 5 penulis ini sangat patut untuk dibaca. Hal ini dikarenakan setiap masalah yang ada dalam pembahasan buku ini dikuatkan argumennya dengan Alquran dan Hadist, sehingga akan menambah ‘penguatan’ terhadap isi tulisan yang ada. Selain itu, bahasa yangdigunakan oleh penulis begitu komunikatif sehingga sangat mudah dipahami semua kalangan baik kalangan remaja maupun dewasa.

Namun, tidak ada buku yang sempurna. Pasti ada kekurangannya. Salah satu kekurangan buku ini menurut peresensi pemilihan judul yang kurang ‘menggelitik’. Kalimat: Maaf, Aku belum siap nikah, seolah-olah ada penolakan untuk menikah karena belum siap. Apalagi di dalam cover buku ini ada kalimat: Panduan lengkap untuk yang masih pacaran, agar segera halal dengan cara benar. Artinya seolah-olah penulis membo­lehkan pacaran, sementara jika kita baca lihat lebih jauh buku ini, buku ini mencoba membahas tentang seorang mukmin agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan atau tepat disebut dengan pacaran. Jadi memang pacaran tidak ada kamus dalam Islam, seperti tren anak muda sekarang ini. Tetapi bukan berarti tanpa pacaran tidak boleh menikah, bahkan sebaliknya pacaran dapat dilakukan setelah menikah, dan ini yang dianjurkan. Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini sangat layak untuk dibaca untuk menjadi panduan untuk segera menikah.

Peresensi: Muhammad Saleh, mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN SU, Jurusan Ilmu Hadis semester IIA.

()

Baca Juga

Rekomendasi