Butuh Peran Pemerintah

butuh-peran-pemerintah

MENCIPTAKAN atlet berprestasi dunia bukanlah pekerjaan yang muda. Selain bakat, dibutuhkan biaya yang besar. Kalau dulu, untuk menjadi atlet berprestasi cukup memiliki bakat saja. Kini, syarat itu tidak berlaku lagi. Untuk menjadi atlet yang berprestasi terutama prestasi tingkat internasional atau dunia, dibutuhkan latihan yang komprehensif. Latihan ini didukung dengan teknologi canggih. Mulai dari menu yang harus dilahap, hingga kondisi tubuh tiap detiknya harus dipantau. Tentunya hal ini butuh sarana, prasarana pendukung serta infrastruktur yang penuh dengan teknologi canggih.

Dari cabang olahraga sepak bola, saat ini ada dua nama yang cukup populer yaitu Lionel Messi dan Christiano Ronaldo. Dua sosok ini memiliki bakat yang sangat luar biasa. Namun bakat ini, tidak akan bisa berkembang secara maksimal apabila tidak didukung teknologi dalam proses latihan. Baik secara pribadi maupun yang dimiliki klub, mereka didukung teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Menu apa yang harus dimakan, jam berapa harus tidur dan sebaginya semuanya dikontrol teknologi.

Tidak mengherankan jika Ronaldo yang telah berusia 32 tahun, ternyata ketika dites kesehatannya di Juventus, tubuhnya masih seperti orang berusia 23 tahun. Karena itu Juventus tidak merasa rugi menebus Ronaldo dari Real Madrid dengan harga ratusan miliar rupiah. Lihat pula legenda tenis asal Swiss, Roger Federer dalam usianya yang sudah mencapai 38 tahun masih mampu bersaing dalam pecaturan elite tenis dunia. Ia mengatakan, belum akan pensiun. Semua itu tidak terlepas dari dukungan teknologi. 

Bicara teknologi tidak bisa dilepaskan dari biaya tinggi. Semakin canggih teknologi, maka semakin besar biaya yang dibutuhkan. Inilah salah satu kendala yang dihadapi dunia olahraga di Tanah Air khususnya dalam pembinaan atlet muda. Banyak bibit-bibit muda yang sebenarnya memiliki bakat, akhirnya layu karena tidak tersentuh pembinaan yang sebagaimana mestinya. Hal ini terjadi karena negara (pemerintah) tidak punya dana yang cukup untuk sektor ini. Masih banyak sektor lain yang butuh perhatian pemerintah. 

Karena itu kehadiran swasta sangat dibutuhkan. Dalam cabang olahraga atletik dikenal nama Bob Hasan. Dalam cabang wushu ada nama Supandi Kusuma. Atau Eric Tohir di dunia bola basket. Di samping itu ada PB Djarum melalui Djarum Foundation yang telah melahirkan atlet-atlet bulu tangkis tingkat dunia serta nama-nama lain yang betul-betul ‘gila’ mencurahkan waktu dan dananya untuk meningkatkan prestasi olahraga di Tanah Air kita. Namun tidak banyak orang yang betul-betul ‘gila’ dalam arti mau berkorban menyumbangkan waktu dan biayanya di Tanah Air ini.

Sayangnya kiprah para donatur ini, tidak serta merta mulus dalam menjalankan misinya. Djarum Foundation kena ‘semprit’ Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Yayasan Lentera Anak (YLA) karena ‘dituduh’ telah mengeksploitasi anak. Djarum Foundation yang sejak 2006 telah membuka audisi secara umum dianggap telah mengeksplotasi anak karena di kausnya tercantum kata ‘Djarum’. Djarum seperti diketahui merupakan salah satu produsen rokok terbesar di negara ini. KPAI minta kata Djarum hilang dalam kaus atau pernak-pernik lainnya. Pada sisi lainnya Djarum Foundation bersikukuh mereka tidak mengeksploitasi anak. Dengan alasan tidak mau melanggar undang-undang, Djarum Foundation mengumumkan audisi tahun ini merupakan yang terakhir atau dengan kata lain, mulai tahun depan ditiadakan lagi.

Kabar ini tentunya sangat mengagetkan sekali terutama di komunitas bulu tangkis. Nama yang cukup populer saat ini seperti Kevin Sanjaya atau Mohammad Ahsan merupakan produk Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis Djarum. Kalau ditarik ke belakang ada nama-nama seperti Christian Hadinata, Liem Swie King dan lainnya yang merupakan produk PB Djarum. Kalau audisi ini dihentikan, tentunya salah satu jalur untuk menghasilkan atlet berprestasi dunia terhenti. Pada satu sisi, kita tidak ingin pula melanggar aturan. Tentu, butuh jalan keluar untuk mengatasi hal ini. Di sini peran pemerintah dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan ini. Bagaimana agar atlet berprestasi tetap lahir, namun tidak melanggar peraturan perundang-uandangan.

()

Baca Juga

Rekomendasi