Dari Cup Bekas, Guru Muda di Siantar Hidupkan Pembelajaran Siswa

Dari Cup Bekas, Guru Muda di Siantar Hidupkan Pembelajaran Siswa
Elsa Pardede, Guru Pendidikan Pancasila di SMP Negeri 9 Pematangsiantar. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Siantar - Di sebuah ruang kelas di Kota Pematangsiantar, suasana belajar tak lagi sekadar deretan bangku dan papan tulis. Di tangan seorang guru muda bernama Elsa Pardede, pembelajaran berubah menjadi pengalaman yang hidup; penuh interaksi, eksplorasi, dan kreativitas sederhana yang membumi.

Lahir di Medan pada 10 Desember 1999, Elsa kini mengabdikan diri sebagai guru Pendidikan Pancasila di SMP Negeri 9 Pematangsiantar. Perjalanan mengajarnya tidak hanya soal menyampaikan materi, tetapi tentang bagaimana memahami kebutuhan belajar peserta didik secara lebih utuh. Ia percaya, kelas bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan ruang tumbuh yang harus dirancang dengan empati.

Perubahan cara pandang itu tidak datang begitu saja. Elsa merupakan bagian dari dampak program pendampingan fasilitator daerah Tanoto Foundation dalam program perubahan di Kota Pematangsiantar. Di bawah bimbingan Tim Bincang Santai Kota Pematangsiantar, yang diisi oleh para pegiat pendidikan seperti Ion Genesis Situmorang, Daud Siregar, Judo Hamdani, Triwahyuni Tampubolon, dan Oktavia A. Purba Girsang, ia menemukan pendekatan baru dalam mengajar.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai pembelajaran mendalam atau deep learning, yang dipadukan dengan strategi MIKiR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi) serta pertanyaan PIT (Produktif, Imaginatif, dan Terbuka). Bagi Elsa, metode ini bukan sekadar teori pelatihan, melainkan alat untuk menjawab kegelisahan yang selama ini ia rasakan di kelas.

“Peserta didik tidak semangat jika pembelajaran hanya berupa penjelasan. Mereka juga kesulitan menangkap materi,” ungkapnya.

Dari situ, ia mulai bereksperimen dengan hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa.

Salah satu momen yang paling ia ingat terjadi saat mengajarkan materi tentang hierarki peraturan. Alih-alih menggunakan media konvensional, Elsa mengajak siswa menyusun piramida peraturan menggunakan cup minuman bekas dan karton. Bahan yang mudah ditemukan itu justru menjadi kunci keterlibatan siswa.

Di tengah kegiatan itu, seorang siswa bernama Rafa menunjukkan antusiasme tinggi. Bersama teman-temannya, ia berhasil menyusun piramida dengan benar. Bagi Elsa, momen itu menjadi penegasan bahwa pembelajaran akan berhasil ketika siswa terlibat secara aktif.

“Ketika mereka mengalami langsung, berinteraksi, lalu mengomunikasikan hasilnya, pemahaman mereka jauh lebih kuat,” tuturnya.

Transformasi yang dilakukan Elsa juga mendapat respons positif dari rekan sejawat. Guru-guru lain mulai melihat bagaimana pendekatan sederhana namun terstruktur itu mampu menghidupkan suasana kelas. Diskusi antar guru pun menjadi ruang berbagi praktik baik.

Namun, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Salah satu fase tersulit, menurut Elsa, justru saat hendak memulai penerapan metode baru. Keraguan muncul, terutama soal bagaimana mengelola kelas dengan pendekatan yang berbeda dari kebiasaan.

Untuk menjawab itu, ia terus mencari inspirasi, termasuk dari platform digital seperti YouTube dan TikTok. Dari sana, ia mengadaptasi berbagai ide pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.

Bagi Elsa, inovasi adalah keniscayaan. Ia menyadari bahwa peserta didik saat ini hidup dalam ekosistem teknologi yang dinamis, sehingga metode belajar pun harus ikut berkembang. Meski demikian, ia tetap berpegang pada prinsip sederhana: memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekolah dan mengaitkannya dengan nilai-nilai budaya sekitar.

Pendekatan itu membuat pembelajaran tidak terasa jauh dari kehidupan siswa. Contoh-contoh yang digunakan menjadi lebih kontekstual, sehingga materi tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan.

Ke depan, Elsa menempatkan peserta didik sebagai pusat dari setiap proses belajar. Ia terus berupaya mencari referensi baru dan menjaga semangat untuk berinovasi.

Baca Juga

Rekomendasi