Siswa Nakal karena Pengaruh Lingkungan

Oleh: Agustia Saputra

DUNIA pendidikan di Aceh Barat Daya (Abdya) dewasa ini menghadapi berbagai masalah yang kompleks. Masalah tersebut antara lain kurikulum yang berubah-ubah sehingga sekolah kurang siap melaksanakannya, keadaan guru yang kurang memenuhi syarat dari tingkat pendidikan, fasilitas sekolah yang tidak lengkap maupun masalah kesiswaan yang menyebabkan menurunnya tatakrama sosial dan etika moral dalam praktik kehidupan sekolah yang mengakibatkan sejumlah ekses negatif yang merisaukan masyarakat.

Ekses negatif itu antara lain kian maraknya berbagai penyimpangan norma kehidupan agama dan sosial kemasyarakatan. Bentuknya ialah kenakalan siswa di sekolah, seperti kurang hormat kepada guru, kurang disiplin dan tidak mengindahkan peraturan. Siswa sering terlambat, membolos, tidak memakai seragam lengkap, dan menggunakan seragam yang tidak sesuai ketentuan sekolah dan membawa senjata tajam, serta kurang memelihara keindahan dan kebersihan lingkungan.

Perilaku ini tampak dari mencoret-coret dinding sekolah atau kelas, merusak tanaman, dan membuang sampah seenaknya. Perkelahian antar pelajar, merokok di sekolah pada jam istirahat, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu, belasan pelajar di Abdya dari berbagai jenjang pendidikan seperti terpaksa diamankan Satpol PP dan WH setempat. Mereka keluyuran di luar sekolah pada jam belajar. Akhirnya, beberapa siswa terpaksa digunduli. Kondisi ini memang kian memprihatinkan.

Penggundulan itu sempat menuai kritikan dari beberapa kalangan, salah satunya Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Abdya yang menilai cara tersebut merupakan tindakan yang tidak baik dan tidak mendidik.

“Tugas kita membina mereka secara baik dan sesuai etika kependidikan, bukan dengan cara kekerasan,” ujar Ketua KNPI Abdya, Idris SHI.

Pihaknya benar-benar menyesalkan tindakan Satpol PP dan WH tersebut. Para guru juga harus bertanggungjawab. Menurutnya, masih ada cara persuasif, seperti dengan melibatkan berbagai pihak terkait, bukan langsung dengan cara-cara yang tidak beretika.

Bila tidak segera diatasi, masalah ini akan semakin mengancam kehidupan generasi bangsa, khususnya dan tata kehidupan sosial masyarakat pada umumnya. 

Di lingkungan sekolah, keberadaan remaja adalah sebagai siswa. Jadi, kenakalan yang dilakukannya dapat disebut sebagai kenakalan siswa. Dari pengertian ini dapat disimpulkan kenakalan siswa adalah penyimpangan perilaku siswa yang berakibat siswa melanggar aturan, tata tertib, dan norma kehidupan di sekolah dan masyarakat.

Kenakalan siswa saat ini sudah cenderung pada perbuatan kriminal yang meresahkan. Di sekolah, kenakalan mereka menjadi tanggung jawab sekolah dalam mengelolanya Namun, mengingat semakin kompleksnya permasalahan yang timbul akibat kenakalan itu, sekolah perlu melibatkan instansi terkait dalam pemecahannya, seperti LSM, polisi dan lainnya. Ini supaya solusinya menjadi optimal.

Kepala Dinas Pendidikan Abdya, Drs Yusnaidi MPd, Kamis (20/11) menilai, setiap anak di manapun mereka berada pasti mengalami perubahan akibat interaksi antarmanusia. Perubahan sosial tidak dapat dielakkan lagi, antara lain berkat adanya kemajuan ilmu dan teknologi yang membawa banyak perubahan antara lain perubahan norma, nilai, tingkah laku dan pola-pola tingkah laku baik individu maupun kelompok.

Menurutnya, pada dasarnya, kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai norma-norma yang hidup di masyarakat. Secara tegas dan jelas dia memberikan batasan kenakalan remaja merupakan gejala sakit secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yan menyimpang. Perilaku anak-anak ini menunjukkan kurang atau tidak adanya konformitas terhadap norma-norma sosial.

“Kenakalan remaja ataupun siswa adalah kelainan tingkah laku atau tindakan remaja yang bersifat antisosial, melanggar norma sosial, agama dan hukum yang berlaku di masyarakat maupun di sekolah,” terangnya.

Ditambahkan, kenakalan remaja dapat dibagi ke dalam beberapa tingkatan, di antaranya kenakalan biasa, seperti berkelahi, keluyuran, membolos, pergi dari rumah tanpa pamit. Kemudian, kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai sepera motor tanpa SIM, dan mengambil barang orang tua tanpa izin. Berikutnya, kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika dan lain-lain.

Penyebab Kenakalan

Kenakalan siswa yang di sekolah dan masyarakat bukanlah suatu keadaan yang berdiri sendiri. Kenakalan siswa itu timbul karena adanya beberapa sebab, antara lain keadaan keluarga, seperti keluarga yang tidak normal (broken home) maupun jumlah anggota keluarga yang kurang menguntungkan. Broken home terutama perceraian atau perpisahan orang tua.

Dalam keadaan ini anak frustasi dan muncul konflik psikologis sehingga keadaan ini dapat mendorong anak menjadi nakal.

Lingkungan sekolah juga menjadi penyebabnya. Dewasa ini sering terjadi perlakuan guru yang tidak adil, hukuman yang kurang menunjang tercapainya tujuan pendidikan, ancaman dan penerapan disiplin terlalu ketat, disharmoni hubungan siswa dan guru, dan lainnya. Proses pendidikan yang kurang menguntungkan bagi perkembangan jiwa anak kerapkali memberikan pengaruh kepada siswa untuk berbuat nakal.

Sebagai anggota masyarakat, siswa juga selalu mendapat pengaruh dari lingkungan masyarakatnya. Pengaruh tersebut adanya beberapa perubahan sosial yang cepat yang ditandai dengan peristiwa yang sering menimbulkan ketegangan seperti persaingan ekonomi, pengangguran, media massa, dan fasilitas rekreasi.

Di masyarakat sendiri sering terjadi kejahatan seperti pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, pemerasan, gelandangan, dan pencurian. Bagi remaja, keinginan berbuat jahat kadang timbul karena bacaan, gambar-gambar dan film. 

Mengatasi Kenakalan

Untuk menghindari masalah akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orang tua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada anak. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan paksaan maupun mengada-ada. Anak diberi pengertian yang jelas sekaligus diberikan teladan. 

Dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan mengurangi waktu keluyuran tidak karuan sekaligus melatih anak mengetahui tugas, kewajiban dan tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin dan mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik mandiri.

Orang tua hendaknya membantu memberikan pengarahan akan masa depan anak. Mereka diarahkan memilih sekolah yang diharapkan dan mengembangkan bakatnya. Pemilihan studi lanjut tidak semata-mata karena keinginan orang tua atau pilihan orang tua. Pemaksaan ini justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski ada anak yang berhasil mengikuti kehendak orang tuanya, tetapi tidak sedikit yang frustasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. 

Banyaknya waktu luang yang dimiliki remaja sering mengakibatkan tindakan iseng. Ini dimaksudkan juga untuk menarik perhatian lingkungannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, mengebut tanpa lampu di malam hari, mencuri dan sebagainya.

Karena itu, orang tua hendaknya member pengarahan berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan diri sendiri, orang tua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orang tua hendaknya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan keisengan itu semacam penyegaran atas kejenuhannya dengan tugas-tugas sekolah. Misalnya, bila anak suka berkelahi, orang tua bisa mengarahkannya pada satu kelompok kegiatan bela diri.

Selanjutnya apabila suasana di rumah nyaman, orang tua tidak berlaku otoriter dan anak merasakan kedamaian dan kasih sayang. Di rumah, komunikasi dijalin dengan baik antara orang tua dengan anak. Penanaman nilai agama diberikan sejak dini sehingga anak tidak akan mencari perhatian dan kenyamanan di luar rumah yang bisa mengakibatkan terjerumus pada kenakalan remaja yang lebih parah, termasuk menggunakan obat-obat terlarang serta narkoba.

“Banyaknya masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan yang menimbulkan banyak ekses negatif yang sangat merisaukan masyarakat. Ekses tersebut antara lain makin maraknya berbagai penyimpangan norma kehidupan agama dan sosial masyarakat yang terwujud dalam bentuk kenakalan siswa atau kenakalan remaja. Oleh karenanya, peran semua pihak sangat menentukan masa depan para siswa khsusnya di Abdya,” pungkas Yusnaidi.

()

Baca Juga

Rekomendasi