Rosni Lim. Kota X gempar! Pak Dermawan -seorang tokoh masyarakat yang selama ini dikenal sebagai orang yang dermawan, baik hati, berwibawa dan bijaksana, suka menolong dan dijadikan panutan oleh siapa saja, berilmu dan berakhlak tinggi- ketangkap basah sedang berduaan dengan seorang gadis. Masih ABG cantik di dalam kamar sebuah hotel.
Pak Dermawan tidak bisa lagi mengelak, ketika belasan wartawan menerobos masuk kamar hotel tempat dia berindehoy. Dengan kamera di tangan, menjepret wajahnya yang pucat pias menahan malu; dadanya yang berbulu telanjang bulat dan bawahnya hanya ditutupi oleh selembar handuk putih.
“Wow! Ini bakal jadi berita dan foto yang menghebohkan esok hari!” begitu kata hati para wartawan foto di saat kamera mereka mengabadikan pemandangan langka dalam momen ketangkap basah yang menakjubkan itu.
Pak Dermawan yang kaya-raya, sengaja memilih kamar hotel kelas melati; mungkin sebagai tindakan untuk berjaga-jaga alias berhati-hati dari kesialan bertemu dengan relasi atau sobat yang dikenal, menghindari kepergok oleh mata-mata. Siapa sangka, di mana-mana saja sosok terkenal seperti Pak Dermawan tidak bisa lepas dari incaran para pencari berita.
Keesokan paginya, koran-koran lokal penuh bermuatan berita dan foto Pak Dermawan dengan gadis abg selingkuhannya. Beritanya menempati headline di halaman pertama surat kabar. Bukan itu saja, selain mengisi setengah halaman headline, di bagian bawah juga dimuat berita seputar cerita mengenai gadis abg dan keluarganya, juga tentang keluarga Pak Dermawan itu sendiri. Anggota keluarga Pak Dermawan yang tidak ikut berselingkuh pun turut diwawancarai dan diberitakan.
Para pembaca merutuk dalam hati; ternyata beginilah belang sebenarnya dari sosok tokoh masyarakat yang selama ini disanjung dan dihormati oleh mereka. Seketika rasa segan mereka berubah menjadi rasa muak dan jijik. Tak henti-hentinya mereka memaki Pak Dermawan dengan mulut mencibir setelah mengetahui perselingkuhan beliau.
“Laknat!” maki Pak Husin, mantan anak buah Pak Dermawan yang dulu pernah bekerja di pabrik plastik milik Pak Dermawan. Selama bekerja di sana, Pak Dermawan memberikan gaji paling besar untuknya dan mendapat tunjangan ini itu disebabkan Pak Dermawan melihat Pak Husin kehidupannya cukup melarat dengan enam orang anak.
Kata makian itu keluar begitu saja dari mulut Pak Husin, tanpa mengingat setitik pun kebaikan yang pernah diberikan oleh orang yang dimakinya itu.
“Dasar tua bangka!” makian kedua datang dari Bu Ratih, seorang Ibu setengah baya yang dulu pernah meminjam duit lima juta rupiah dari Pak Dermawan, sewaktu anak bungsunya sakit dan diopname seminggu di rumah sakit. Bu Ratih tidak ingat bila pinjaman itu tidak pernah dikembalikannya pada Pak Dermawan karena tak pernah ditagih atau diminta kembali.
“Tua-tua keladi! Makin tua makin jadi!” ini adalah makian ketiga yang datang dari Nenek Kasih. Bulan lalu, Nenek Kasih baru mengantri pembagian beras 10 kg yang disponsori oleh Pak Dermawan. Tak terhitung sudah berapa ratus kg beras yang berpindah masuk ke perut Nenek Kasih yang berasal dari sumbangan Pak Dermawan.
Selain makian pertama, kedua dan ketiga, masih banyak lagi makian yang keluar dari mulut orang-orang yang sebenarnya dulu pun telah menerima banyak kebaikan dari Pak Dermawan. Hanya karena suatu kesalahan yang tidak ada kaitannya dengan mereka secara langsung -kesalahan yang sebenarnya sangat manusiawi yang bahkan tidak merugikan mereka sedikit pun- telah membuat mereka berbalik badan secepat-kilat; membuang muka dan meludah dengan kata-kata kotor. Sedikit pun tidak lagi bersisa budi baik dan jasa-jasa Pak Dermawan di masa lalu.
Di kedai kopi, di sekolah, di tempat ibadah, di kantor-kantor, bahkan di plaza dan di kafe-kafe di mall, orang-orang sibuk menggunjingkan perbuatan Pak Dermawan yang mencoreng nama baik keluarga dan suatu hal penting yang mereka sebut “moral”.
Berita perselingkuhan Pak Dermawan ternyata menjadi berita yang laris-manis, diminati para pembaca dari muda-tua, hingga mendatangkan rejeki bagi para penjual dan loper koran, menaikkan tiras/oplah dari koran-koran lokal tersebut. Ternyata di saat ditimpa kesulitan pun Pak Dermawan masih mendatangkan rejeki bagi orang lain. Bukan main!
“Aduh… Kasihan sekali istri dan anak-anaknya yang selama ini menghormati sosok suami dan ayah mereka sebagai figur yang pantas ditiru,” kata yang satu, di tengah keramaian saat mereka berkumpul-kumpul di tempat umum.
“Bagaimana pula dengan keluarganya yang menanggung malu ya?” tanya yang satu lagi, menanggapi yang tadi.
“Ibaratnya buah yang sudah lama, kulitnya kadang masih tampak bagus tapi di dalamnya penuh dengan ulat!” sumpah mereka menyerapah, suara-suara mereka terdengar sadis dan kejam.
Anak-anak bermain dengan riangnya di atas jembatan beraspal yang dulu sempat hampir rubuh ketika masih tersusun dari papan-papan yang rapuh. Oleh Pak Dermawan, jembatan itu diperbaiki, diaspal dan dipagari sisi kiri-kanannya hingga anak-anak dapat berlarian di atas sana dan bermain dengan riangnya tanpa takut akan terjatuh ke bawah sungai. Sekarang, orang tua mereka berkumpul di samping pagar jembatan itu dan menggunjingkan orang yang dulunya memperbaiki jembatan itu.
“Bagaimana kelanjutan kisah Pak Dermawan?” tanya khalayak ramai setelah seminggu kejadian di kamar hotel kelas melati itu berlalu.
“Katanya orang tua dari gadis abg itu minta ganti rugi atas diri anak gadis mereka yang diperawani secara paksa.”
“Lho? Bukankah katanya suka sama suka? Kok ada unsur paksaan pula?”
“Nggak tahu, itu berita terbaru.”
“Berapa yang diminta?”
“Satu milyar!”
"Hah?! Apaaa?! Satu milyar?!”
“Iya lho, katanya Pak Dermawan telah melanggar pasal sekian-sekian-sekian dari KUHP dan terancam hukuman penjara sekian tahun. Sementara ini bebas bersyarat dengan uang jaminan. Bila uang ganti-rugi yang diminta tidak dipenuhi, mereka bilang akan menuntut Pak Dermawan hingga masuk penjara.”
"Ckckck…,” mereka menggeleng-gelengkan kepala, entah merasa kasihan atau bersyukur alias bersorak kegirangan melihat orang yang selama ini kehidupannya selalu tampak senang, terjerembab jatuh ke dalam lumpur.
* * *
Hujan masih mengguyur Kota X selama dua bulan terakhir. Jalan-jalan di pinggir kota banjir karena hampir setiap hari turun hujan lebat. Jembatan-jembatan dari papan di kampung-kampung banyak yang ambruk karena terseret arus deras sungai. Jalanan macet, tidak ada jembatan baru yang dibangun di perkampungan kecil. Tidak ada sosok dermawan yang bersedia mensponsori perbaikan jembatan ambruk menjadi aspal. Terpaksa penduduk yang ingin menyebrang sungai memilih caranya masing-masing.
Pak Husin kegerahan di dalam rumah; enam orang anaknya yang masih kecil-kecil -bersusun bagaikan deretan anak tangga- menangis terus karena kelaparan dan menahan dingin.
“Carilah kerja, Pak! Anak-anak kita perlu makan!” kata istrinya.
Pak Husin mendengus, “Ke mana aku harus cari kerja lagi? Di mana-mana aku kerja selama setahun ini gajinya selalu tidak sampai setengah dari gajiku sewaktu bekerja di pabrik plastik milik Pak Dermawan.” Jadi malas aku, lebih baik duduk di rumah saja, katanya membatin.
Seandainya saja Pak Dermawan tidak berada di penjara saat ini, pastilah Pak Husin sudah pergi mencari beliau dan meminta untuk bekerja kembali di pabriknya.
Di sudut lain Kota X, Bu Ratih menahan tubuhnya yang gemetaran merawat anak bungsunya yang sedang kumat penyakitnya dan demam tinggi. Cara satu-satunya untuk menyembuhkan si bungsu adalah segera membawanya ke rumah sakit untuk diopname atau dirawat tinggal.
Pihak rumah sakit tidak bersedia menerima anak Bu Ratih karena tidak mampu membayar uang panjar dua juta rupiah sebagai syarat. Akhirnya Bu Ratih membawa kembali si bungsu ke rumah untuk dirawat sendiri.
Ah, seandainya saja Pak Dermawan ada di rumahnya, pasti Bu Ratih sudah ke sana untuk menemui beliau dan meminjam uang. Jangankan dua juta rupiah, sepuluh juta pun dirasa Bu Ratih akan diberikannya tanpa syarat. Ini para tetangga tak ada satu pun yang bersedia meminjamkan uang segitu banyak.
Di sudut lain lagi, Nenek Kasih tampak sedang memegangi perutnya yang sakit melilit karena menahan lapar. Persediaan beras di dalam kaleng telah habis sejak dua hari lalu. Seharian ini Nenek Kasih cuma makan sepotong biskuit kecil yang diberikan oleh tetangganya. Sudah dua bulan tidak ada lagi acara pembagian beras karena tidak ada dermawan yang mensponsori.
Seandainya saja kamu ada di rumahmu sendiri, Pak Dermawan, atau di kampung ini dan bukannya di penjara, tentu kami tidak akan ikut susah seperti sekarang ini.
Ah, Pak Dermawan, Pak Dermawan, sungguh malang nasibmu, bisik Nenek Kasih…
Medan, Desember 2013










