SRIKAYA, buah satu ini bagi sebagian masyarakat menyebutnya sebagai buah yang sudah mulai langka. Padahal zaman nenek-nenek kita, tanaman ini sering ditemui tumbuh di pekarangan rumah.
Namun, sekarang tidak gampang mencari buah ini khususnya di Medan. Adapun dijual tapi hanya di tempat tertentu.
Salah satu supermarket buah ternama di Medan, srikaya bisa kita temukan. Pun begitu, harganya tergolong mahal dan jumlahnya sedikit tidak seperti penjualan buah lainnya.
Nama lain buah ini atau paling dikenal masyarakat adalah dengan sebutan buah nona (Annona Squamosa). Di Indonesia nama lainnya adalah sirkaya, sarikaya, atis. Dalam bahasa Melayu disebut Nona Sri Kaya, Buah Nona, Sri Kaya. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut Sugar Apple.
Tanaman ini tergolong dalam genus Annona yang berasal dari daerah tropis. Buah srikaya berbentuk bulat dengan kulit bermata banyak, daging buahnya berwarna putih, mirip sirsak.
Srikaya termasuk semak semi-hijau abadi atau pohon yang meranggas mencapai 8 m tingginya. Daunnya berselang, sederhana, lembing membujur dengan panjang 7-12 cm dan berlebar 3-4 cm. Bunganya muncul dalam tandan sebanyak 3-4. Tiap bunga berlebar 2-3 cm dengan enam daun bunga/kelopak dan berwarna kuning-hijau berbintik ungu di dasarnya.
Kulit pohonnya tipis berwarna keabu-abuan, getah kulitnya beracun. Daun bertangkai, kaku, letaknya berseling. Permukaan daun warnanya hijau, bagian bawah hijau kebiruan sedikit berambut.
Buahnya semu, bentuk bola atau kerucut, permukaan berbenjol-benjol, warnanya hijau berserbuk putih, penampang 5-10 cm. Saat buah matang, anak buah akan memisahkan diri satu dengan lainnya. Warnanya hijau kebiru-biruan. Daging buah berwarna putih, rasanya manis. Biji masak berwarna hitam mengilap.
Sumber Rupiah
Meski tergolong sukar menemukan buah ini, namun ada sejumlah daerah menjadikan tanaman ini sebagai sumber mata pencarian. Seperti di Desa Oro-Oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Antara warga dan srikaya tidak bisa dipisahkan. Keduanya bak koin mata uang, dibolak-balik tak akan pernah berubah.
Desa Oro-Oro Ombo Wetan, khususnya Dusun Sumberboto merupakan sentra terbesar penghasil Srikaya. Puluhan petani srikaya rembang menggantungkan sebagian hidupnya dari buah ini.
Suwoto (52), salah satu petani Srikaya mengatakan, dirinya mendulang keuntungan sebesar Rp150.000 per- 100 buah, sedangkan hampir setiap harinya, Suwoto bersama dengan Kholifah (47) istrinya memanen antara 60-80 buah srikaya.
“Kalau musim penghujan, buah srikaya gampang besar dan cepat matang, makanya kami bisa setiap hari memanen", ujar Suwoto.
Pria ini memiliki kebun srikaya yang ditumbuhi sekitar 200 pohon dan sudah berbuah. Katanya, tanaman ini merupakan pohon warisan nenek moyang sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu.
“Saya belum lahir, srikaya sudah ditanam oleh mbah buyut saya. Makanya di dusun ini hampir semua warga punya pohon srikaya", tegasnya.
Buah srikaya sendiri tergolong buah musiman dengan masa panen dua kali selama satu tahun yakni kisaran Januari-Maret, dan dilanjutkan pada September-November. Sejak ditanam dari isi atau benih, pohon srikaya dapat berbuah hanya dalam jangka waktu dua tahun lamanya.
“Panen srikaya tak sekali saja, melainkan setiap hari sampai tiga bulan, dan tergantung dari berapa pohon yang dipunyai. Semakin luas kebunnya maka rentang waktu panen juga bisa berbulan-bulan”, jelasnya.
Sejauh ini para petani srikaya sudah mendapat bantuan pupuk dan pestisida dari Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan. Hanya saja, besar harapan mereka, agar Pemkab Pasuruan dapat memberikan ruang untuk mempromosikan “Srikaya Khas Rembang”.
“Seandainya dibuatkan stand khusus atau kios srikaya, itulah keinginan kami sejak lama. Semoga Bupati Pasuruan dapat merealisasikannya,” harapnya. (Int)










