Kuala Lumpur Ternyata Dihuni Banyak Gelandangan

METROPOLITAN Kuala Lumpur yang megah, dengan dua gedung kembar Petronas yang masyhur, dan hampir tak lagi punya perkampungan lama, ternyata juga banyak dihuni gelandangan.

Di wilayah Jalan Petaling yang ramai dikunjungi turis pada tengah malam Sabtu (7/6) lalu terlihat sudah senyap, tulis koran Singapura,  The Straits Times. Dalam kesenyapan itu, mulai banyak gelandangan yang tidur di emperan-emperan dengan beralasakan kardus atau koran bekas.

Sebuah survei jalanan yang dilakukan Kechara Soup Kitchen, LSM Budha di Malaysia, menemukan setidaknya ada 1.500 gelandangan di jalanan Kuala Lumpur. Mereka berusia antara 30 dan 60 tahun.

Pemerintah Malaysia sulit mencacah jumlah gelandangan ini karena jumlahnya berubah-ubah. Tapi tidak semua gelandangan Kuala Lumpur itu tidak punya tempat tinggal.

Ada kalanya mereka tinggal di rumah teman atau kerabat selama waktu tertentu, dan kembali hidup di jalanan dan merasa merdeka.

Biasanya mereka tidur di atas bangku-bangku kayu di dekat gedung-gedung pencakar langit Kuala Lumpur yang menjadi pusat keuangan.

Tolerir

Satpam yang menjaga bank dapat mentolerir gelandangan yang tidur dekat kantor-kantor bank, asal mereka tidak bikin masalah. Polisi pun dengan senyum menularkan simpati terhadap mereka, meskipun sebagian para kere itu teler akibat narkoba.

Para gelandangan itu luntang-lantung, menganggur, dan berusaha mencari pekerjaan. Mereka umumnya berasal dari luar Kuala Lumpur, yang mencari pekerjaan dan ternyata tak kunjung mendapatkannya.

S. Sathi pindah ke kota besar itu empat tahun silam, pindah dari perkebunan karet di Seremban demi penghidupan yang lebih layak.

Ia bekerja sebagai buruh konstruksi pembangunan kondominium mewah. Tapi dua tahun silam, maling menyiram wajah Sathi dengan zat asam dan menggondol jinjingannya yang berisi KTP dan duit simpanannya. Sejak saat itu ia tidak bisa bekerja lagi dan memilih menjadi gelandangan.

“Saya sangat ingin bekerja, apa saja bisa saya kerjakan. Saya ini tidak bisa setiap hari makan,” katanya pada Sunday Times di antara gedung-gedung perbankan di Kuala Lumpur.

Ngenas

Cerita ngenas lain dialami oleh gelandangan Siti Salmi Suib, orang Melayu. Ia mengasuh puterinya Siti Soffea Emelda Abdullah yang berusia dua tahun. Puterinya diculik oleh gelandangan lain pecandu narkoba.

Apa lacur? Siti Soffea, bayi malang itu, kedapatan dipenggal kepalanya dan dibuang ke Sungai Klang.

Peristiwa pembunuhan ini yang membuat Kuala Lumpur heboh. Sejak saat puterinya hilang dan dipenggal kepalanya, Siti Salmi tak lagi nampak di bawah jembatan stasiun kereta api besar Pudu, Kuala Lumpur, yang banyak dihuni gelandangan pecandu narkoba.

Banyak titik di kota berpenduduk sembilan juta itu yang dihuni gelandangan.

Meningkat

Berbagai kelompok kemanusiaan di Kuala Lumpur mengatakan, jumlah gelandangan di ibukota federasi Malaysia itu makin meningkat belakangan akibat naiknya populasi dengan cepat, kurangnya lapangan kerja dan tingginya biaya hidup, sementara rumah singgah buat mereka jumlahnya terbatas.

Pekerjaan kasar banyak diraih oleh orang asing dengan upah rendah.”Ini akibat populasi yang tumbuh kencang. Kebanyakan gelandangan dan orang miskin perkotaan tak punya keterampilan dasar,” kata Munirah Abdul Hamid, yang mengetuai Pertiwi Soup Kitchen.

Badan amal seperti Pertiwi Soup Kitchen menyediakan makanan berisi nasi dan daging, sayuran, wafer, kacang merah dan jus buah empat kali sepekan kepada gelandangan dan orang miskin di jalanan Kuala Lumpur. Pertiwi memberi makanan untuk 800 orang dalam semalam atau 1.200 orang dalam sebulan.

Selain Pertiwi, ada sejumlah restoran di Kuala Lumpur yang juga menyediakan makanan buat gelandangan dan orang miskin.

Kota besar di mana pun di dunia ini selalu dihuni oleh kalangan papa. Merekalah yang menjadi penopang kehidupan orang berpunya di kota besar seantero dunia. (ic/bh)

()

Baca Juga

Rekomendasi