-enam-

Broken Home

Oleh: Rosni Lim. “Hah?!” Maya tersentak kaget. Selama beberapa detik dia tak bersuara dan cuma mampu menatapi wajah Mimi dengan tatapan bingung. Setelah sadar dari keterkejutannya, Maya baru membuka mulut, “Maksudmu, kamu hamil?”

Mimi mengangguk. “Aku takut begitu.”

“Apa kamu telah melakukannya dengan Robby, maksudku, dengan pacarmu yang sering mengantarmu ke sini?”

Mimi mengangguk lagi. “Cincin berlian seharga 30 juta yang dia belikan untukku tempo hari, harus kubalas dengan imbalan, memberikan tubuhku...,” jawabnya tersendat.

“Kamu menjual diri?!” sentak Maya spontan. “Kamu menjual dirimu pada pacarmu demi secuil cincin berlian seharga 30 juta?! Kamu menukar kesucianmu dengan emas permata, itukah yang kamu lakukan, Mi?!” Maya hampir berteriak karena marah.

Mimi rada kaget juga. Selama ini dia mengenal Maya adalah seorang yang lemah lembut dan tak pernah Mimi melihatnya marah. Tapi entah kenapa disebabkan persoalan dirinya bisa membuat Maya tampak marah.

“Aku terpaksa, May, dia merayuku dengan minuman. Kurasa dia menaruh pil di dalamnya hingga aku tak sadar…,” Mimi membela diri.

“Apa pun itu ceritanya, kamu telah menukar tubuhmu dengan cincin berlian! Kamu menjual harga dirimu pada pacarmu sendiri! Kamu tak malu, Mi? Bagaimana jika orangtuamu yang di kampung halaman tahu bahwa putrinya telah…”

“Sudahlah, May, aku khilaf. Jangan marahi aku terus dong, aku sudah sangat galau sekarang ini, hiks…,” Mimi mulai terisak.

“Oh…,” Maya membulatkan bibir. Untuk sesaat dia berusaha diam seperti kehendak Mimi. Dia coba menguasai kembali emosinya yang sempat terganggu tadi akibat pengakuan Mimi. Bagaimana pun, itu bukan salah Mimi sepenuhnya. Mungkin seperti katanya, dia dirayu dan dibius menggunakan pil tidur atau semacamnya hingga membuatnya tak sadar ketika bersama Robby.

“Saranku, bila setelah periksa ke dokter besok dan ternyata memang benar kamu hamil, kamu harus meminta pertanggungjawaban Robby,” kata Maya setelah beberapa saat mereka saling diam.

Mimi mengangguk. “Aku akan coba,” balasnya pasrah.

“Sekarang kamu ke ruang penyimpanan tas, ambil tasmu dan pulang saja, biar kumintakan izin dan kupanggilkan taksi untukmu,” kata Maya lagi.

“Thanks, May.”

Maya memegang lengan Mimi, mengangguk sekali, lalu memberi isyarat padanya untuk sama-sama keluar dari toilet.

Mereka berjalan menuju ke ruangan bar lagi. Sesampainya di luar, Mimi berjalan ke ruang penyimpanan tas untuk mengambil tasnya dari dalam laci karyawan. Sedangkan Maya memintakan izin untuk Mimi, pulang lebih cepat,  pada manajer bar di ruangan kerjanya.

Setelah diberikan izin, Maya memanggilkan taksi untuk Mimi di halaman parkir bar. Mimi melambaikan tangan pada Maya setelah dia masuk ke taksi dan taksi itu membawanya pergi.

“May, mana Mimi?” tanya bartender pria di dekat Maya, tak lama setelah Mimi pulang. Kesibukannya melayani pesanan tamu tadi membuatnya kurang memerhatikan ketika Mimi lewat di depannya sambil membawa tas untuk pulang lebih cepat.

“Dia sudah pulang, John,” jawab Maya pada bartender pria yang ada di meja melingkar yang memajang beraneka minuman berkelas. Saat itu Maya sedang berdiri di dekat bartender pria, tapi di luar dari meja melingkar itu. Kedua tangannya yang lelah bertumpu pada meja tersebut.

“Waduh, ada tamu istimewa yang baru datang. Tamu ini sudah lama sekali tak berkunjung ke bar kita. Tapi mereka ini benar-benar tamu khusus yang biasanya minta dilayani Mimi, baik dari tugas membawa minuman hingga menemani mereka ngobrol.”

“Ohya?” Maya tertarik. “Tamu istimewa apa? Di mana mereka?”

“Mereka sudah ada di ruang VIP,” jawab John.

“Aku tak melihat mereka masuk tadi,” kata Maya. Oh, mungkin mereka datang waktu dia dan Mimi sedang ngobrol di dalam toilet, pantas saja bila kelewatan oleh pandangan matanya.

“Gawat juga, Mimi sudah pulang,” kata John. “Entah siapa yang bisa menggantikan Mimi mengantarkan minuman-minuman ini ke ruang VIP. Sedari tadi banyak yang menghindar. Tabiat tamu-tamu ini sangat buruk, temperamental dan suka berulah. Cuma Mimi yang biasa mengatasi mereka dengan mudah.”

Maya mendengarkan penjelasan John dengan mulut ternganga. Ah, apa benar ada tamu yang begitu banyak berulah hingga tak seorang pun waitress di bar ini yang bersedia mengantarkan minuman ke sana selain Mimi seorang?”

“Biar aku saja, John,” putus Maya tanpa pikir panjang lagi. Dalam hati selain penasaran, dia juga ingin tahu bagaimana tampang tamu-tamu “seram” itu.

“Ah, apa kamu bisa?” John memandang Maya dengan pandangan tak percaya. Dia sangsi pada Maya yang lemah lembut tapi yang biasanya juga ketus pada tamu yang kurang ajar itu. Dibandingkan Mimi yang selalu memasang wajah nakal dan tersenyum manis, Maya jelas bukan tipe wanita penggoda pria.

“Janganlah…,” kata John sambil menggeleng-geleng. “Aku tak tega menyuruhmu ke sana, dan terutama lagi aku tak mau jika nanti timbul masalah. Biar kupanggilkan Santi atau Lala saja.”

“Biar aku saja, John…!” pinta Maya meyakinkan, setengah memaksa. “Masa kamu nggak percaya padaku sih? Kalau mereka macam-macam dan banyak berulah, aku sepak  kaki mereka atau tempeleng,” cetus Maya.

“Hah?!” John terhenyak.

“Ini minuman mereka ya?” mata Maya melirik pada nampan di atas meja bartender yang berisi 5 gelas, 1 Tequila Sunrise, 2  Bacardi Cola, dan 2 Singapore Sling.

“Iya,” jawab John ragu.

Sebelum John sempat melanjutkan ucapannya, Maya sudah bergerak pergi membawa kelima gelas minuman yang diletakkan di atas nampan itu. Langkah-langkah kakinya begitu yakin dan bersemangat.

Maya menguakkan pintu ruang VIP yang terletak di sudut kanan dari bar itu yang adanya di ujung dari barisan bagian bartender. Dia tadi berjalan melewati ruang penyimpanan tas karyawan sebelum sampai di ruang VIP. Ruang itu jarang digunakan atau disewa tamu. Bar ini menyediakan sebuah ruang VIP  khusus untuk tamu istimewa yang mungkin tak suka bila berbaur di tengah keramaian bar, namun begitu mereka tetap ingin mengunjungi bar tersebut.    

Setelah pintu terkuak, Maya melangkah masuk dengan hati-hati sambil tangannya membawa nampan berisi 5 gelas minuman. Matanya dengan cepat melihat pada tamu-tamu “seram” yang sedang duduk berselonjor di sofa melingkar dalam ruangan itu.

Mereka ada 5 orang. Dua orang berpakaian kaos putih dengan lengan, 2 orang berpakaian kaos preman tanpa lengan, dan 1 orang lagi berpakaian rapi, jas hitam dengan celana panjang yang tampak mahal. Maya menebak, pastilah yang berpakaian jas hitam itu bos mereka, sedangkan yang empat lainnya hanya anak buah yang mengikut di belakang atau berjaga-jaga.

Yang berpakaian kaos putih dua-duanya memiliki tubuh tinggi atletis, cukup berisi. Yang duanya lagi berpakaian kaos preman tanpa lengan, berperawakan kekar dengan otot-otot bertato di lengan kiri-kanan. Yang terakhir, si pemakai jas hitam memiliki tubuh atletis yang biasa, tapi wajahnya masih muda dan tampan.

Begitu langkah Maya sampai di dekat mereka, kelimanya langsung mengarahkan pandangan kepadanya. Walaupun agak grogi dan berdebar, tapi Maya berusaha menata perasaannya supaya tetap tampak tenang. Apalagi semuanya menatap Maya dengan pandangan tajam yang menusuk.

Maya berusaha meyakinkan dirinya sendiri, dia harus berlaku wajar, bila dia tak berbuat kesalahan, tak mungkin mereka memperlakukannya dengan kasar. Lagipula, Maya yakin, bahwa dengan kelembutan akan bisa mencairkan kekerasan ataupun kekejaman hati.

“Siapa kau?!” tanya satu dari kelima orang itu.

Maya tersentak kaget mendapat pertanyaan yang cukup kasar seperti itu. Setelah meletakkan nampan berisi 5 gelas minuman yang dibawanya ke atas meja persegi panjang yang ada di depan sofa, Maya menatapnya dengan pandangan tak berdosa. Yang bertanya adalah pria bertubuh kekar, berpakaian preman dengan tato di lengan kiri-kanan.

“Waitress,” jawab Maya sopan. “Aku disuruh mengantar minuman ke sini. Silakan diminum, Tuan-tuan sekalian,” dengan gerakan tangan yang mempersilakan, Maya membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi hormat.

Setelah itu, Maya membalikkan tubuh hendak pergi dari situ, tapi sebuah hentakan keras membatalkan langkahnya untuk keluar dari ruangan itu.

“Tunggu…!”

Apa lagi ini? pikir Maya. Langkahnya terhenti di dekat pintu. Hatinya mulai menciut. Jangan-jangan betul yang ditakutkan oleh John, Maya tak mampu mengatasi mereka.

“Ke sini kau!” bentak yang tadi melontarkan pertanyaan. Seruannya tadi juga yang  mencegah Maya keluar dari pintu.

Dengan mengepalkan tangan, Maya berusaha memasang senyum manis di wajahnya. Bukankah selama ini dia melihat Mimi selalu tersenyum manis dan sedikit nakal pada tamu-tamu yang suka berulah? Maya mencoba memasang mimik wajah nakal pada ekepresi wajahnya, tapi entah kenapa dia tak berhasil, yang ada malah wajahnya terlihat seperti menyeringai.

“Hai…!” Setelah berbalik menghadap mereka kembali, Maya melambaikan tangan dengan wajah yang tersenyum menyeringai. “Hai, Tuan-tuan, namaku Maya. Sori, aku menggantikan Mimi yang sudah pulang tadi. Jadi aku harap Tuan-tuan tak keberatan ya?”

Yang berpakaian jas hitam dan duduk di tengah-tengah sofa tiba-tiba menatap Maya dengan pandangan aneh. Dia merasa ekspresi wajah gadis di depannya itu sangat lucu dan geli.

“Siapa namamu, Nona?” tanyanya memperjelas, suaranya terdengar ramah.

Maya menjawab hati-hati, “Ehm, Maya, Tuan,” Maya menyebutkan namanya sekali lagi. Kali ini dia mencoba tersenyum tulus sambil memandang wajah di depannya.

“Oh, Maya ya? Nggak apa-apa, jangan takut pada mereka. Mereka semua anak buahku. Ke sini kamu, Maya,” pintanya dengan suara yang cukup sopan.

Ops! Mendapat panggilan yang cukup sopan dan ramah dari seorang bos muda yang tampan dan gagah, yang di sekelilingnya dikawal oleh banyak anak buah, membuat hati Maya sedikit sejuk dan seketika itu  juga berkurang rasa takutnya.

Dengan langkah kaki perlahan, Maya mendekat ke arah pria berjas hitam itu. Wajahnya yang tampan tersenyum mengandung misteri ketika dia menatap sosok Maya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Pandangan matanya yang walaupun cukup ramah, tapi seolah mengandung hasrat yang liar.

Maya agak bergidik juga dipandang seperti itu, tapi seperti keinginan John, Maya bertekad harus bisa mengatasi mereka dengan cerdas supaya jangan sampai timbul keributan atau masalah.

“Apa yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Maya sopan.

“Ada,” jawab pria itu spontan. “Kamu duduk di sini dan temani aku ngobrol,” walaupun kalimat itu diucapkannya dengan ramah, tapi dirasakan Maya seperti sebuah perintah.

Oh! Haruskah aku duduk di situ menemaninya ngobrol? risau hati Maya. Tapi tak ada salahnya juga memenuhi permintaannya, bukankah hanya menemani dia ngobrol? Mungkin pria muda itu lagi butuh teman untuk cerita, jadi tak ada salahnya jika Maya menuruti permintaannya.

Dengan hati-hati, Maya berjalan lebih mendekat lagi ke arah pria berjas hitam itu. Dia melangkah masuk di antara meja dan sofa lalu duduk di samping pria itu. Sedangkan keempat anak buahnya ada yang duduk di ujung sofa dan ada yang berdiri saja.

“Ayo, temani aku minum,” kata pria itu tiba-tiba setelah Maya duduk di sampingnya.

“Aku tak bisa minum,” tolak Maya ketika pria itu mengambilkan salah satu gelas berisi Singapore Sling ke depan wajah Maya.

“Tidak bisa?” tanyanya heran. “Kamu seorang waitress 'kan? Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?”

“Dua tahun,” Maya menunduk.

“Dua tahun? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya?” dengan telapak tangannya yang berbulu, pria itu mengangkat wajah Maya yang menunduk supaya menghadap ke wajahnya sendiri. “Atau aku kurang memerhatikan satu-per satu waitress di sini.”

“Ehm, mungkin juga,” balas Maya sambil tangannya bergerak perlahan menepiskan tangan pria itu dari wajahnya.

“Hahaha,” tiba-tiba pria itu tertawa. “Jadi untuk apa kamu di sini kalau kamu tak bisa minum dan baru kusentuh sedikit saja  sudah ditepiskan begini,” tawanya terbahak-bahak.

“Menemani Tuan ngobrol, itu kata Tuan tadi,” jawab Maya polos.

Keempat pria yang ada di kiri-kanan bos muda itu tiba-tiba ikut tertawa bersama bos mereka. Tawa mereka amat keras dan seolah-olah hendak memecahkan gendang telinga Maya. Tiba-tiba Maya merasa hatinya panas. Dia merasa mereka meremehkan atau melecehkannya. Entah mengapa dia tak mampu menguasai emosinya kali ini.

“Tuan-tuan, aku bukan wanita panggilan ya! Walaupun aku ini waitress bar, tapi aku wanita baik-baik! Jangan pikir Tuan-tuan bisa berlaku tidak sopan padaku!” sentaknya ketus.

“Apa katamu?” Mereka bertanya bersamaan dan spontan lagi-lagi mereka tertawa bersama.

Maya merasa sama sekali tak lucu dan tak ada yang perlu ditertawakan, karena itu dia lalu bangkit dengan marah dan hendak beranjak pergi dari ruangan itu.

Tiba-tiba pintu ruang VIP itu terbuka dari luar. Seorang pria bertubuh kekar masuk, di tangannya menyeret seorang pria tua yang kelihatan kurus dan degil.

Maya tersentak di tempatnya berdiri. Oh! Tampaknya sekarang dia lagi berada di tengah-tengah mafia, dan bos muda itu adalah bos mereka? Lalu pria tua itu? Kenapa dia diseret masuk seperti ini? Tampangnya sangat kasihan dan…

Ops! Maya dan pria tua itu sama-sama terhenyak ketika tatapan mereka bertemu, merasa telah kenal satu sama lain. Maya memelototkan mata lebar-lebar. Dengan hati berdesir dia memerhatikan pria tua itu lebih teliti lagi, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Tak salah lagi, itu adalah Pak Tua yang menubruknya di tengah jalan dalam perjalanannya ke bar Sunflower Shine sore tadi!

Maya hendak membuka mulut menyebut nama Pak Tua itu, tapi wajah Pak Tua itu tiba-tiba berpaling setelah mereka saling bertatapan. Maya merasa dia seakan berpura-pura tak mengenal Maya, atau setidaknya dia menghindari, menampakkan isyarat supaya jangan disapa.

“Aku sudah dapat orangnya, Bos!” kata pria kekar yang baru masuk itu. Dia berpakaian preman warna hitam tanpa lengan. Wajahnya sangar dengan kacamata hitam.

Bersambung Minggu depan

()

Baca Juga

Rekomendasi