Annisa V Pulungan, S.Psi, M.Sc

Belajar Mandiri di Nottingham

Oleh: Nirwansyah Sukartara

PERATURAN dan sistem drop out (DO) di universitas ini cukup ketat dan tanpa kompromi. Beberapa pelajar yang tidak mampu memenuhi standar yang ditetapkan akan drop out dengan sendirinya. Walaupun sudah hampir 2 semester mengikuti pendidikan. Dari sistem inilah, ia belajar kemandirian. Perlu adanya ketekunan dan kepercayaan diri mahasiswa dalam menghadapi perbedaan sistem belajar-menagajar dan penyelesaian studi di University of Nottingham.

Hal inilah yang diutarakan Annisa V Pulungan, S.Psi, M.Sc, mahasiswa yang telah menyelesaikan studi S2-nya di University of Nottingham, Inggris. Sempat terbesit akan menyelesaikan S2 di Australia. Namun karena berbagai pertimbangan, lulusan S1 Psikologi USU tahun 2014 ini akhirnya memilih Nottingham sebagai tempat ia menimba ilmu. 

Menurutnya, program dan modul yang ada di Nottingham sesuai dengan minatnya. Work and Organisational Psychology Msc Programme. Awalnya ia tertarik saat melihat website universitas ini. Tersedia video dan juga testimoni dari para pelajarnya.  Melalui beberapa persyaratan dan proses administrasi akhirnya April 2014, ia resmi diterima di universitas tersebut. 

Nottingham salah satu kota di Inggris  yang “hidup” karena universitasnya. Kota ini tidak begitu besar. Cocok untuk pelajar. Segala sesuatu dipermudah untuk mereka yang belajar di sana. Pelajar diberi berbagai fasilitas, misalnya dengan memiliki student card. “Jadi kita mendapatkan diskon untuk transportasi atau pun untuk berbelanja. Saat pertama tiba, saya merasa kota ini sangat tenang dan teratur. Transportasi umumnya juga tertata dengan baik, bis kota dan bis universitas selalu datang dan pergi tepat waktu. Demikian pula jika saya menggunakan kereta api semua jadwal selalu tepat waktu dan informasi yang diberikan jelas. Saya merasa nyaman dengan kota ini. Meski kaku, namun orang Inggris sangat sopan dan mereka dapat menerima kehadiran orang asing di negaranya,” ujarnya. 

Kebanyakan pelajar S2 disana sudah berkeluarga, bekerja dan memiliki banyak pengalaman di bidang psikologi industri organisasi. Annisa sering merasa takjub dengan komentar kritis dari pelajar, mereka banyak membaca  sehingga pengetahuannya pun sangat luas. Hal itu yang menginspirasinya.

Metode pengajaran di luar negri dengan Indonesia  tidak jauh berbeda. Perbedaan lebih kepada faktor kemandirian siswa dalam belajar serta kondisi sosiol kultural. Dalam hal kemandirian, pelajar dilatih untuk lebih aktif dalam mencari informasi mengenai topik yang dibicarakan di kelas. Lebih banyak berdiskusi dengan teman.

Dalam hal sosial kultural, perbedaannya yakni dari cara memanggil staf pengajar. Hanya dengan sebutan nama, Hal lainnya juga tidak ada sistem absensi. Kita diharapkan bertanggung jawab atas diri sendiri.  Lulus ataupun tidak lulus sangat ditentukan dari beberapa kriteria nilai, baik essay maupun ujian. 

Di kelas  sangat diharapkan sifat pro aktif dari pelajar.  Bahan diberikan biasanya studi kasus sehingga bukan sekadar hafalan atas apa yang dibaca. Namun juga dibutuhkan kemampuan logika dan analisa pelajar untuk menyelesaikan tugas tersebut. Para pelajar diminta untuk membuat dan mempersentasekan hasil diskusi yang dibuat. 

Menginap di Perpustakaan

Saat memasuki masa ujian, para pelajar umumnya sangat tekun belajar. Tidak sedikit yang menginap di perpustakaan. Perpustakan pun  di lengkapi fasilitas seperti kamar mandi, shower room, sofa maupun cafe. Suasana untuk belajar memang sangat kondusif dan nyaman sehingga para pelajar betah untuk diskusi, membaca dan belajar di perpustakaan.

Selain ujian, tentu bagi post graduate student ada kewajiban untuk menyelesaikan tesis. Tidak jauh berbeda dengan program di Indonesia, pelajar memiliki seorang dosen pembimbing. Hanya saja perbedaannya jika di Nottingham, ia bisa bebas kapan pun bertemu dan berdiskusi dengan pembimbing. 

“Di jurusan yang saya pilih setiap siswa hanya memiliki jatah 10 kali pertemuan dengan lama waktu 30 menit setiap sesi. Pertemuan itu untuk membahas tesis. Pembimbing memberikan catatan agar setiap pelajar mengetahui bagaimana kriteria penilaian tesis.  Pelajar diberi kebebasan untuk menentukan judul dan tema, membuat sesuai dengan apa yang ingin diteliti dan tesis pun hanya bisa dibaca satu kali oleh dosen pembimbing, diberi feedback untuk perbaikan,” ucapnya.

Dalam hal etika penelitian, standarnya sangat jelas. Peneliti diwajibkan untuk memasukkan hasil penelitiannya ke program Turnitin. Program ini dibuat untuk melihat apakah hasil penelitian bisa dikatakan original atau plagiat. Hasil dari software yang digunakan universitas ini menjadi salah satu kriteria kelulusan. Sangat dilarang keras bagi pelajar melakukan copy-paste bahan dari referensi mana pun. 

Begitu juga dengan data sampel penelitian. Semua data dari sampel penelitian kuantitatif yang menggunakan online survey akan masuk ke universitas melalui program Bristol Online Survey (BOS) yang dicek kebenarannya. Data ini akan disimpan oleh universitas selama 7 tahun sehingga bisa dijamin bahwa hasil penelitian pelajar sebelumnya tidak diambil atau dicontek oleh pelajar lainnya. “Dari pengalaman belajar di UK, saya banyak belajar tentang kemandirian dan ketekunan,” ujar Annisa mengakhiri.

()

Baca Juga

Rekomendasi