Dunia Erika, Dunia Kanak-kanak

Oleh: Amram Ekoprawoto 

LUKISAN pada hakekatnya, merupakan hasil daya cipta seorang pelukis dalam menyampaikan sesuatu, tentang gagasan-ide, peristiwa dan kejadian. Menjadi ungkapan sebagai aksi-reaksi dari suatu peristiwa. Menyampaikan ungkapan rasa-intuisi  tentang cinta, kasih sayang, ketidakberdayaan, kekaguman, kekerasan maupun rasa keindahan.

Proses penggubahan karya seni, menunjukkan sebuah motivasi dari kreatifitas dengan motivasi yang kuat. Juga dedikasi yang tinggi untuk mewujudkan sebuah karya cipta.

Senilukis merupakan bahasa ekspresi dari seseorang dalam mengungkapkan rasa  emphaty terhadap sesuatu kejadian. Peristiwa yang dihayati, diresapi, bahkan pula  dialami. Keberadaan sebuah karya seni mampu mewujudkan proses pencerahan jiwa dari apa yang ingin diungkapkan-disampaikan melalui bahasa rupa.

Erica Hestu Wahyuni, sosok pelukis perempuan kelahiran Yogyakarta tahun 1971.  Dalam berkarya lukis, mengungkapkan tentang dunia kanak-kanak dan ungkapannya pun bergaya anak-anak. Lukisan Erica tidak mengenal perspektif sebagaimana yang diajarkan para guru kepada murid.

Pembagian ruang bagi Erica, itulah perspektif bagian bawah, tengah dan atas. Menampilkan obyek secara bertumpu. Ungkapan obyeknya layaknya gambar anak-anak.

Dalam karyanya berjudul: “Pagi-pagi ke Borobudur“, menggambarkan angkutan tradisional Andong ( sado ). Ibu bersama anak dan sang kusir  mengenakan pakaian khas Jawa dengan Surjan dan Blangkon.

Pada bagian bawah terlihat sederetan pepohonan dan lampu hias  khas Yogya  serta  dua ekor gajah dan bagian tengah  tergambar dua ekor kuda  yang menarik kereta Andong. Sang kusir bersama seorang anak  gadis kecil memegang kembang didampingi sang ibu. Pada bagian belakang ada sangkar burung  serta  di depan kusir dua ekor burung. Pada bagian atas terlihat Candi Borobudur, dengan dikelilingi pepohonan serta sebuah mobil dengan penumpangnya menuju arah Candi.

Dalam karya-karyanya, Erica menampilkan sosok figur anak-anak dengan kepolosan dan keluguannya.

Tema maupun obyek yang diungkapkan Erica, senantiasa berbicara tentang dunia anak-anak. Ungkapanyapun  bergaya lukisan anak-anak. Penuh dengan kecerian, keluguan dan kepolosan dengan warna-warna lukisan yang cerah.

Lukisan “Keluarga Bahagia“ Erica  menampilkan tentang rasa kebahgian sebuah keluarga. Terungkap kecerian wajah anak-anak yang berada di depan meja makan, sang ibu menghidangkannya.

Anak adalah generasi penerus yang memiliki hak untuk hidup dan meneruskan kehidupan suatu bangsa. Sama halnya dengan perempuan. Ibu dari anak bangsa, sangat besar andilnya bagi kehidupan ini. Tanpa  seorang ibu bagaimana mungkin kehidupan ini akan berlangsung. 

Dalam setiap karya Erica senantiasa menampilkan sosok hewan. Demikian dalam karya Keluarga Bahagia,  di bawah meja terlihat seekor kucing.

Karya seni dapat menjadi simbol ungkapan  dari ekspresi  pribadi. Menvisualisasikan pengamatannya  terhadap lingkungan secara aktual, kontekstual ataupun filosofis. Hal mendasar dalam proses penciptaan, adanya kesadaran menciptakan struktur bentuk dan pola berpikir yang disampaikan sang pelukis.

Pagi-pagi ke Borobudur 

Dengan begitu yang divisualkan merupakan wujud bentuk ungkapan ekspresi dari pemaknaan rasa. Rasa menjadi sebuah identitas, berada pada keseimbangan jiwa, intuisi  dan rasional. Tersirat dalam karya Erica, sebuah dinamika dalam ungkapan dan ekpressi. merepreserntasikan berbagai hal yang tidak nyata kasap mata.

Luapan  emosi, rasa kasih sayang, dijadikan simbol  dengan pengalaman jiwa, peristiwa maupun kejadiaan, divisualisasikan dengan rasa kecerian, keluguan dan kepolosan layak dunia anak-anak yang penuh fantasi, imajinasi dan kreasi.

Apa yang diungkapan tidak terbatas dengan bahasa rupa, tetapi dapat dinikmati oleh rasa, imajinasi  secara bebas bagi para pengamatnya untuk menelusuri keindahan dunia anak-anak. Ungkapannya  memiliki ruang  dalam nilai kultur, latar belakang  budaya  yang terekspresi secara bebas dalam ungkapan. 

Persepsi mendasari wacana  kesenirupaan, disiratkan Erica  tentang realitaas kehidupan dari dunia anak-anak, demikian fantastik. Mampu membangkitkann energy dalam proses penciptaan karyanya. 

Penulis; pemerhati seni rupa, tinggal dan menetap di Bogor

()

Baca Juga

Rekomendasi