Oleh: Islahuddin Panggabean.
Setiap hari tatkala salat seseorang senantiasa mengucapkan doa yang agung nan tercantum dalam Ummul Kitab di tiap raka’at. Permohonan agar ditunjuki jalan yang lurus. Ihdina ash-shirat al-mustaqim. Sebuah doa yang paling utama. Ibnu Katsir berkata, ”Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnya…”
Namun, yang sering manusia menyangka bahwa “jalan yang lurus” itu mulus tanpa halangan. Benarkah demikian? Dalam ayat selanjutnya diterangkan bahwa “jalan yang lurus” adalah jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah swt. Menurut ulama tafsir ialah jalan para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’ dan orang-orang shalih. Ternyata jalan yang lurus itu ialah jalan orang-orang yang jikalau ditilik kisah hidup mereka penuh dengan lika-liku, penuh peluh, curam terjal dan bergelombang.
Penempatan Surah al-Fatihah pada mushaf yang memang sebagai pembuka (fatihatul kitab) mengajarkan bahwa di dalam al-Quran ini, manusia bisa belajar mengemudi hati menuju ilahi di atas shirat al-mustaqim melalui kisah mereka yang lurus. Abdullah bin Abbas ra. Berkata “Al Quran ini 6000 ayat isinya kisah, 600 ayat tanda-tanda kebesaran Allah, 60 ayat aturan muamalah, dan 6 ayat hukuman/ hudud.” Pendapat beliau ini ditengarai menjadi penyebab sebagian manusia berpendapat jumlah ayat dalam al-Quran 6666 ayat. Padahal yang dimaksud beliau adalah kandungan bukan jumlah.
Dari pendapat Sahabat yang dijuluki bapak ahli tafsir itu, dapat diambil hikmah bahwa kisah-kisah mengambil bahagian terbesar di dalam al-Quran. Bahkan al-Quran itu sendiri turun berangsur agar manusia meneliti sirah Nabi dan para Sahabatnya. Sebagaimana yang diungkapkan Ibnu Katsir mengenai QS al-Isro ayat 106, bahwa diturunkannya Al Qur’an berangsur-angsur diriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, “Al Quran diturunkan berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa yg terjadi selama risalah, ayat itu turun selalu cocok dengan perjalanan nabi dan para sahabatnya.”
Dari kisah-kisah tersebutlah manusia dapat mengetahui lika-liku, suka duka, sempit dan lapang serta senyum dan luka di jalan Allah. Kisah-kisah itu membentang dari kisah Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad saw. Jadi meskipun belum mencicipi surga, kita bisa mengerti bahaya sebuah dosa dan mengerikannya dendam si Iblis yang jumawa. Sehingga kita gemar bertaubat atas segala dosa. Kita juga bisa belajar bagaimana sebab nafsu terhadap dunia, saudara kandung pun dapat dibunuh tanpa tega seperti yang dilakukan keturunan pertama manusia.
Kita bisa mengerti bagaimana perjuangan tanpa putus asa Nabi Nuh as beratus tahun berdakwah hanya sedikit yang menerima. Bahkan istri dan anak sendiri pun tak patuh. Namun, beliau tetap tegar dan gigih berbagi kebenaran dengan beragam cara. Kita juga dapat belajar cinta dari keluarga penuh cinta Ibrahim, Sarah dan Hajar. Teguh Tauhidnya sedari remaja, menempatkan cinta pada-Nya di atas segala, hingga berkeluarga hasilkan keturunan sholih-sholihah.
Kita bisa belajar untuk tetap optimis meski rintangan terlihat lebih besar dan kuat sebagaimana Daud berhadapan dengan Jalut. Kita bisa belajar syukur dan tawadhu dari raja Sulaiman atas nikmat dari Rabb-nya. Ia tetap mendengar ucapan bawahan dengan seksama seperti semut dan burung Hudhud. Kita bisa belajar memanfaatkan keperkasaan tubuh dan keamanahan untuk melepaskan negeri dari penjajahan seperti Nabi Musa al-qawwiyul amin.
Kita juga dapat mengerti untuk mengukir kisah terbaik (ahsanul qoshsosh) dalam kehidupan mesti siap seperti Nabi Yusuf yang tahan menerima derita serta godaan. Melupakan kesalahan dan senang memaafkan orang. Tampan akhlaknya setampan wajahnya. Kita juga bisa belajar melawan musuh dengan cinta sebagaimana Nabi Isa yang kisah hidupnya penuh keajaiban semenjak bayi hingga diangkat ke langit diselamatkan Ilahi. Kita juga bisa menghiasi jiwa dengan kepasrahan sebagaimana Nabi Yunus yang merintih tatkala berada di kondisi gelap di dalam gelap ditelan ikan di dalam perut ikan dalam lautan. Kita juga bisa mencoba bertabah atas kehilangan, musibah, kesakitan, kemiskinan seperti Nabi Ayyub. Juga Nabi Yaqub yang mengadu hanya pada Allah semata tatkala kehilangan anak kesayangan. Kita juga berharap agar Allah memberikan kita keturunan sholih-sholihah sepert Yahya dan Isa meskipun ibadah tak sehebat Nabi Zakaria, meski tak sesuci dan sempurna Maryam.
Kita bisa belajar mementingkan aqidah daripada segalanya dari ashabul Kahfi yang lebih memilih lari dan sembunyi ketimbang melepas iman di hati. Kita bisa belajar dari DzulQarnain yang kepemimpinan dimanfaatkan di jalan kebaikan dan menebar kemanfaatan bagi ummat. Kita juga bisa belajar untuk memilih rumah di sisi Allah ketimbang berada di dalam istana Fir’aun dari Asiyah. Percaya akan janji Allah dan firasat kebenaran seperti Ibunda Nabi Musa untuk selamatkan anak kesayangan. Kita bisa belajar dari Luqman al-Hakim yang bisa mengambil ibrah dari setiap kejadian.
Penutup
Salah satu hikmah mempelajari kisah-kisah ialah untuk meneguhkan hati dalam meniti jalan kebenaran. Sebagaimana terdapat dalam Firman Allah “Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu, dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS Hud: 120). Ada 4 kriteria manusia terhadap al-Quran yakni menjadikannya mahjur (tidak dpedulikan), bayan (sumber informasi), huda (petunjuk) dan mau’idzoh (nasehat). Semoga kita menjadikan al-Quran sebagai petunjuk dan nasehat untuk dapat mengemudi hati menuju Ilahi. Aamiin. Wallahua’lam.










