Oleh: Azmi TS
Lukisan Lee Man Fong tentang merpati putih (doves) diciptakan sekitar tahun 1961 hingga 1966 itu terbanyak pula kreasinya. Beberapa kreasi lukisan merpati bergaya realisme itu mampu menggetarkan jiwa.
SENIMAN Lee Man Fong, salah satu yang mendapat mandat Bung Karno mengelola benda seni di istananya. Kedekatannya dengan presiden, cukup banyak melahirkan karya lukisan yang indah. Tawaran dari presiden RI kala itu juga menyempatkan dirinya membuat lukisan untuk menghias dinding istana negara. Selera sang presiden itu disahuti Lee Man Fong terutama tema fauna seperti burung merpati putih (doves).
Ada banyak kreasi lukisan merpati putih (doves) ciptaannya. Semua tema itu enak dipandang, sehingga ada kesan damai karena Lee Man Fong pandai mengkreasikannya. Pelukis kesayangan Sukarno tak hanya Lee Man Fong. Ada Dullah, Sudarso, Lim Wasim dan Huang Fong.
Keterampilan perupa berdarah Tionghoa ini, sangat menguasai tema fauna. Mulai anatomi, hingga tingkah laku hewan tersebut mirip aslinya.
Semua ragam merpati tergambar begitu apik lewat sapuan kuas yang halus pada kanvas, memakai cat minyak dan cat air. Keindahan lukisan Lee Man Fong tentang harmoni baik bentuk ideal, pemilihan latar hingga pewarnaan. Cocok dengan karakter bangsa ini yang beragam etnik. Lewat sapuan kuas yang halus menghadirkan kesan indah pada gambar burung merpati ini rata-rata bergaya molek.
Merpati hewan yang akrab dengan manusia ini diidentikkan dengan “kelembutan dan kedamaian”. Uniknya lagi beberapa organisasi kemasyarakatan dunia, bahkan lembaga olahraga atau perusahan tertentu tertarik meminjam fisik burung yang satu ini. Ada mitos, burung merpati berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Negara di Eropa dan Asia, sengaja memelihara merpati putih di alam bebas. Jadi tontonan menarik bagi wisatawan yang datang ke sana.
Keindahan gerakan dan juga tingkah lucu hewan ini membuat Lee Man Fong menjagokan ‘merpati’ jadi sumber kreasi baru pada lukisannya. Sejak memperdalam ilmu melukisnya di Belanda pada tahun 1949, karir maju pesat mencapai puncaknya sebagai pelukis istana negara tahun 1961-1966. Karya lukisannya tentang merpati (doves) kini bisa dipersaksikan baik yang dipamerkan kolektor, hingga yang menjadi koleksi istana presiden.
Beberapa karya lainnya, banyak melukiskan figur (manusia), flora (tumbuhan), fauna (hewan) dan juga lansekap (bentangan alam). Dalam melukiskan tentang burung merpati, Lee Man Fong lebih banyak mengandalkan teknik sapuan kuas yang halus dan natural (alamiah). Dia tak banyak mengubah bentuk, sehingga gambar burung merpati memang benar-benar nyata terlihat di kanvasnya. Kemampuan teknik melukis realisme ini pula, yang membedakan Lee Man Fong dengan Huang Fong dan Lim Wasim.
Karya ciptaan Lee Man Fong memang layak dijuluki sebagai pelukis spesialis burung merpati (doves), dari tunggal hingga berpasangan. Terlihat dari karya-karya lukisan tentang burung merpatinya yang menyeimbangkan bentuk proporsi (ideal), warna dan sapuan kuas sangat harmoni. Melihat lukisan burung merpati Lee Man Fong, dia bahkan sanggup menggetarkan jiwa atau terasa ada kedamaian, kesejukan dan kemesraan hubungan antar makhluk.
Unsur harmoni Lee Man Fong, menjadikan lukisan burung merpati bisa memancing kesukaan Bung Karno, sehingga dia dipercayai sebagai pelukis negara. Tak ayal seolah-olah lukisan burung merpati ini mengingatkan bapak proklamator itu akan kita betapa pentingnya hidup dalam kedamaian. Beliau menyadari pada negeri ini persatuan dan kesatuan RI adalah harga mati, setelah sekian lama dipecah Belanda.
Lee Man Fong menunjukkan bagaimana ikatan satu suku (ras) dengan lainnya tetap kompak. Melindungi segenap koloni harus harmonis sepanjang hayat. Lukisan burung merpati putih juga menyiratkan kesucian hati, tanpa prasangka buruk pada pasangannya. Lukisan burung merpati putih, diusung Lee Man Fong hingga ke istana membawa berkah baginya. Sama halnya ketika keberkahan itu memuncak pada lukisan “keluarga burung merpati putih” sebagai pengisi salah satu dinding di istana negara RI.