Oleh: M. Samsul Arifin
Berbagai dukungan untuk menjadikan alm. Prof. Lafran Pane sebagai pahlawan nasional terus berdatangan. Berbagai organisasi kemasyarakat telah menyatakan dukungannya dan mengirimkan surat dan rekomendasi kepada Presiden Jokowi sebagai syarat untuk menjadikan tokoh nasional kelahiran Padang Sidempuan, Sumatera Barat, itu sebagai pahlawan nasional.
Sebelumnya, Majelis Korp Alumni HMI (KAHMI) Nasional dan KAHMI Wilayah di berbagai daerah telah menyelenggarakan seminar nasional tentang Lafran Pane di hampir seluruh Indonesia. Seminar nasional di berbagai daerah di Indonesia itu sebagai upaya untuk mengajukan Lafran Pane sebagai pahlawan nasional.
Benarkah Lafran Pane seorang pahlawan nasional? di mana letak sisi kepahlawanan Lafran Pane dibandingkan dengan orang-orang lainnya?. Pertanyaan demi pertanyaan ini akan dibahas lebih lanjut.
Negarawan AS, Frederick Douglass (1818-1895) pernah mengatakan, tanpa perjuangan, tak akan pernah ada kemajuan. Perkataan Douglass ini sebenarnya dapat diteruskan, yakni tanpa ada pejuang, tak akan ada perjuangan. Artinya, tanpa ada pejuang, tak akan pernah ada kemajuan.
Indonesia dapat merdeka seperti sekarang ini, tentu, karena ada pejuang yang rela mengorbankan dirinya demi kemajuan Indonesia. Lafran Pane adalah seorang pejuang. Darah dan semangat juang Lafran Pane mulai terlihat sejak di bangku sekolah menegah atas.
Lafran Pane masuk Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) bersama DN Aidit. Namun, antara Lafran Pane dan DN Aidit kemudian memilih garis keyakinan yang berbeda. DN Aidit di PKI, sementara Lafran Pane bersama 14 mahasiswa Islam di Yogyakarta (STI-kini berubah menjadi UII) mendirikan organisasi HMI.
Bersama pemuda lainnya ketika Indonesia dijajah oleh Jepang, Lafran Pane termasuk golongan pemuda yang dibina Kaigun (angkatan laut Jepang). Ketika Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945, pemuda dan mahasiswa Indonesia mengikrarkan tak mau menerima kemerdekaan Indonesia dari Jepang seperti apa yang dipersiapkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Ikrar itu dicetuskan di Jln. Menteng Raya 31 (sekarang menjadi Gedung Joang). Tiga hari kemudian, tepat 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Dwi Tunggal Seokarno-Hatta berdasarkan semangat pemuda tadi. Itu juga sikap Lafran Pane bersama kawan-kawannya di saat mendekati proklamasi kemerdekaan.
Dengan demikian, Lafran Pane adalah termasuk salah seorang pejuang proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Hanya saja, tak banyak orang mengetahuinya. Sejarawan Prof. Agus Salim Sitompul dalam banyak buku karyanya itu membenarkannya. Bahkan, oleh Agussalim Sitompul, ia disebut-sebut juga ikut lahirnya pemrakarsa kemerdekaan Indonesia.
Semangat juang Lafran Pane itu tak hanya berhenti di situ saja. Ia juga berjuang untuk mempertahankan NKRI dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Untuk dua hal yang terakhir ini, tentu, bukanlah perkara mudah. Butuh keseriusan dan wadah yang terorganisir untuk mewujudkannya, sebagaimana disampaikan Ali bin Abi Thalib. Bahwa kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir.
Di tengah berkecamuk sejarah bangsa dan kemerdekaan negara yang baru saja diproklamasikan, serta ketika penjajah masih berniat mencengkeram negeri ini, Lafran Pane tak berpangku tangan. Sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) yang sekarang berubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) yang diprakarsai oleh Lafran Pane mendirikan HMI.
Setelah 23 hari pendirian, diberitakan di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 28 Februari 1947 No. 126 Hal. II kolom 4 dengan berita “baru-baru ini di Yogyakarta, telah didirikan Himpunan Mahasiswa Islam. Anggota-anggotanya terdiri dari mahasiswa seluruh Indonesia yang beragama Islam. Perhimpunan akan menjadi anggota kongres mahasiswa Indonesia. Sekretariat: asrama mahasiswa, Setyodiningratan 5 Yogyakarta”.
Tujuan awal pendiriannya ialah, pertama, mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Tujuan ini menginformasikan bahwa sejak awal kelahirannya, pandangan keislaman HMI senapas dengan cita-cita bangsa.
Dalam analisis Yudi Latif, dijelaskan bahwa tujuan nasionalistik HMI itu menandai sebuah pengakuan bahwa keislaman dan keindonesiaan tidaklah berlawanan tetapi berjalin berkelindan (Alfian, 2013). Tak heran, ketika Dies Natalis HMI ke-I, jenderal Sudirman menyebut HMI selain Himpunan Mahasiswa Islam, juga Harapan Masyarakat Indonesia.
Melalui proses kaderisasi dan penugasan kepengurusan, anggota HMI dilatih untuk menjadi kader umat dan bangsa. Mereka diharapkan setelah menjadi alumni dan terjun dalam kehidupan masyarakat sudah siap dan mampu berperan maksimal. Peran ini penting dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada negara.
Ada banyak alumni HMI yang sekarang mengabdi untuk masyarakat dan negeri ini. Mereka tampil di berbagai bidang pengabdian, seperti yang dilakukan oleh Jusuf Kalla (Wakil Presiden), Zulkifli Hasan (Ketua MPR), Ade Komarudin (Ketua DPR), Harry Azhar Azis (Ketua BPK), Mohammad Nasir (Menristekdikti) Anis Baswedan (Mendikbud), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), dan alumni HMI lainnya.
Jika Pahlawan Nasional (dalam UU No. 20 Tahun 2009) didefisinikan sebagai gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah NKRI, yang gugur atau meninggal dunia, demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara republik Indonesia, maka sejatinya Lafran Pane layak diberikan gelar itu.
Itulah sebab, Lafran Pane patut diajukan kepada presiden Jokowi agar diberikan pahlawan nasional. Ini penting, sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada Lafran Pane bukan saja sebagai pahlawan bagi HMI, tetapi juga menjadi pahlawan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Keteguhan sikap dan kesederhanaannya juga bisa menjadi teladan untuk masyarakat Indonesia yang kini mulai kekurangan keteladanan. Wallahu a’lam.***
Penulis, Peneliti Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi










