Konsumen Rujak Simpang Jodoh Banyak dari Luar Kota

Analisadaily (Medan) - Tidak hanya dari kawasan Percut Sei Tuan, konsumen yang membeli Rujak Simpang Jodoh juga banyak dari luar seperti Kota Medan, Binjai dan lainnya.

"Ada dari Perbaungan, Binjai bahkan ada juga yang dari Aceh. Mereka suka dengan bumbu khas rujak kami. Kadang kala ada pesanan dari Jakarta khusus untuk membeli bumbu rujak," ucap seorang pedagang bernama Atun kepada Analisadaily.com, Sabtu (5/2).

Dijelaskannya, setiap hari dia dan seluruh pedagang rujak mulai membuka lapak dagangan sejak pukul 10.00 wib sampai pukul 23.00 wib. Bicara omset, ia mengaku penghasilan yang mereka dapat per hari rata-rata berkisar antara Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu.

"Kalau Sabtu sampai Minggu gini ramai. Namun kalau hari biasa, penghasilan relatif tidak tentu. Kalau sudah terjual 30 sampai 50 bungkus, kita sudah balik modal," ungkap Atun yang telah empat tahun berdagang rujak di simpang jodoh.

Untuk lapak, pedagang rujak lainnya, Daud, mengaku tidak semua pedagang memiliki lapak sendiri. Ada sebagian menyewa lapak milik orang lain yang sudah tidak berdagang lagi.

"Satu bulan saya sewa Rp 700 ribu, itu lain lampu dan air. Total hampir Rp 1 juta lah. Uang kebersihan juga kita bayar setiap hari sebesar tiga ribu," ucap Daud.

Sebelumnya, Daud mengatakan bahwa rujak simpang jodoh sudah ada sejak tahun 60-an? Adalah Ibu Jumihah, salah seorang penggagas sekaligus generasi pertama yang berdagang rujak di kawasan sekitar Jalan Pasar VII Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan ini.

Menurut Daud, menantu dari Ibu Jumihah, mertuanya itu sudah berdagang rujak di simpang jodoh sejak tahun 1965. Kawasan tersebut yang kala itu menjadi tempat muda-mudi berkumpul, dimanfaatkan oleh Ibu Jumihah dan kawan-kawan untuk berdagang rujak.

(EAL)

Baca Juga

Rekomendasi