Misteri Kematian Raja Albert I Akhirnya Terungkap

ALBERT I me­me­rintah se­bagai Raja Belgia dari tahun 1909 sampai 1934. Ini merupakan periode penting dalam sejarah Belgia karena ter­masuk dalam perio­de Pe­rang Du­nia I (1914 - 1918), ke­tika 99 persen dari Belgia di­serbu, diduduki, dan dipe­rintah oleh Ke­kai­saran Jer­man.

Peristiwa penting lain­nya termasuk pe­ne­rapan Perjan­jian Ver­sailles, putusan Ko­­ngo Belgia se­ba­gai kepemi­likan luar negeri Kerajaan Bel­gia, rekonstruksi Belgia setelah perang, dan lima tahun pertama Depresi Besar (1929 - 1934). Raja Albert tewas dalam kecelakaan gunung di Belgia timur pada tahun 1934, pada usia 58 dan digan­tikan oleh putranya Leopold.

Kematian Raja Belgia, Al­bert I pada 17 Februari 1934 telah memicu sejumlah teori konspirasi, mulai dari pem­bu­nuhan politik sampai keja­hatan nafsu ingin menguasai.

Namun begitu, satu pene­litian DNA baru menunjuk­kan bahwa ternyata, dia benar-benar meninggal setelah ter­jatuh dari batu karang di Marche-les-Dames, di daerah Ardennes, Belgiaa dekat Namur. Fakta bahwa tak ada saksi atas kematian raja yang po­puler karena perannya dalam Perang Dunia I itu, diyakini menjadi penyebab muncul­nya spekulasi tentang kema­tian sang raja.

Setelah kematian Albert I, Marche-les-Dames, tempat ditemukannya jasad raja men­jadi tempat ziarah. Karena dianggap sebagai orang hebat, peninggalan berupa bebatuan maupun daun yang sebagian mengandung jejak darah telah dikumpulkan oleh penduduk sekitar.

Berjejak Darah Sang Raja

Jurnalis VTM, Reinout Goddyn, membeli salah satu peninggalan, yakni daun yang mengandung bercak darah. Mengingat sejumlah teori konspirasi yang beredar, dia ingin mengetahui apakah darah tersebut milik Albert I.

Pada 2014, Profesor dari UGent, Dieter Deforce, telah mengkonfirmasi bahwa darah itu merupakan milik ma­nusia. Timnya akhirnya me­nyerah­kan sampel DNA ke­pada ke­lompok peneliti terbaru yang memban­ding­kannya de­ngan DNA dari jejak darah.

Ahli genetik forensik, Maarten Larmuseau, dan rekan­nya di University of Leu­ven, telah memban­ding­kan DNA dari darah yang ditemukan di tempat kejadian pada 1934 de­ngan dua kerabat jauh Albert I. Hasil penelitian itu me­­nunjukkan, jejak darah dari tempat kejadian benar-be­nar milik Albert I. "Cerita bahwa jasad raja tak pernah dite­mukan di Ma­rche-les-Dames atau hanya sengaja dita­ruh di sana pada malam hari sangat mustahil," ujar Larmuseau.

“Lebih lanjut, hasil-hasil memperlihatkan bahwa pe­nye­lidikan secara lengkap saat itu tak mungkin dilaku­kan, karena pemburu pe­ning­galan (berjejak darah sang raja) telah merusak lo­kasi kejadian,”

Pakar bioetika Pascal Borry menyatakan, kasus itu mengemukakan beberapa isu. “Kami harus memper­tim­­bangkan konsekuensi pene­litian ini untuk anggota ke­luarga keturunan. “Setidaknya, selain identi­fikasi aktual , profil genetik bisa mengungkap sedikit informasi sensitif dalam kontek analisi kekerabatan. (wkp/htc/wp/dm/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi