Oleh: Syafitri Tambunan
BANGUNAN tugu menjadi ikon sebuah kota, merupakan hal biasa yang banyak dijumpai. Di beberapa kota, tugu dan monumen juga dianggap penanda batas wilayah, historis suatu daerah, atau bahkan keadaan yang sedang terjadi sekarang. Dai segi bentuk, variannya sangat beragam, bahkan juga ada yang abstrak.
Hal yang menarik, dari sekian banyak bangunan tugu, tidak melulu didominasi bentuk manusia dan benda-benda yang terpaut peristiwa sejarah, namun ada pula yang berbentuk hewan tertentu. Misalnya, buaya dan ikan di Tugu Surabaya, burung walet di Tugu Lawet Kebumen, Tugu Ayam Kukuak Belenggek yang menjadi maskot dari Kabupaten Solok, Sumbar, dan lainnya. Beberapa bulan lalu, Kota Langsa, Aceh juga mulai membangun tugu berbentuk hewan, angsa dan elang sebagai ikon daerahnya.
Tugu tersebut dibangun untuk mengingatkan sejarah kota yang berkaitan dengan kedua hewan, elang dan angsa. Maka pengambil kebijakan di kota itu, memutuskan mendirikan tugu ikonik berbentuk kedua unggas tersebut.
Menurut legenda, kota Langsa bermula dari penggabungan Kerajaan Elang dan Kerajaan Angsa. Daerah itu dulunya merupakan kuala yang banyak ikannya, yang menjadi sumber makanan kedua jenis unggas tersebut.
Usai pertempuran yang tidak menghasilkan kemenangan di pihak mana pun, akhirnya panglima masing-masing pasukan berembug dan menyepakati kuala itu menjadi milik bersama. Sejak itulah lokasi pertempuran itu disebut sebagai Langsa.
Tugu ikonik berbentuk hewan sebenarnya sudah banyak dibuat pada masa lalu. Pada zaman lampau, hewan-hewan dimaknai sarat simbol penting yang penuh makna bagi manusia. Tidak ubahnya beberapa kesatuan batalyon tentara yang hingga kini tetap mengusung nama hewan.
Hewan yang dipilih sebagai perlambang, bisa memiliki nilai histori dan menjadi penyemangat. Ada yang melambangkan kekuatan, peperangan, kelembutan, bahkan kesehatan dan kemakmuran.
Arsitek Sumut, H Syahlan Jukhri Nasution, IAI, AA, memaparkan pandangannya terkait keberadaan tugu ikonik hewan. "Tugu-tugu peninggalan atau heritage itu pasti memiliki makna dan nilai. Dalam ilmu arsitektur, itu biasanya dikaitkan dengan tema-tema simbolisme atau berkonteks simbolis, memuat bermacam makna. Biasanya, kalau binatang, ada yang melambangkan kemakmuran, kekuatan, kesehatan, dan lain-lain. Simbolisme dalam arsitektur itu memang ada maknanya, apalagi yang etnik, jarang sekali tanpa makna."
Bentuk Analogi
Ia mencontohkan, tugu yang dibangun pemerintah melalui simbol-simbol di Batak atau seperti buaya dan ikan sebagai asal muasal Kota Surabaya. "Kalau kita di Medan, yang dimaksudkan itu, ya tugu Guru Patimpus. Itu dimaksudkan pemerintah sebagai penanda asal muasal Kota Medan," sebutnya.
Namun, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumatera Utara itu melihat, saat ini tugu-tugu ikonik hewan seperti itu sudah jarang dibuat. "Beberapa budaya biasanya menggunakan hewan sebagai simbol-simbol penting. Tapi kini mulai ditinggalkan. Ada juga yang tetap bertahan di daerah yang masih kuat pengaruh etnis budayanya, misalnya di Toba, sebagian Simalungun, Karo, atau Dairi. Kalau sekarang, sebenarnya hanya bentukan abstrak dan masih ada yang mencoba. Artinya, tidak bentuk asli, seperti analoginya saja."
Seperti juga tugu baru ikonik Kota Langsa yang berbentuk elang dan angsa. Terdapat beberapa kritik bahwa elang dan angsa tidak mencerminkan peradaban Islam. Namun beberapa beranggapan tugu itu bisa menjadi ikon penting bagi daerah itu.
Menurutnya, hal tersebut terkadang menjadi dilema. Adat-istiadat dan budaya yang sudah dipengaruhi nilai-nilai kegamaan, membuat pandangan masyarakat jadi berubah. Misalnya di Mandailing, yang berkaitan dengan binatang, simbolismenya hilang. Dulunya ada tanduk kerbau, sekarang hanya tiang saja, tidak ada lagi simbol-simbol hewan. Karena memang, simbol-simbol hewan tidak diterima di dalam nilai-nilai Islam.
Karena itulah, kini, bentukan tugu hewan akan dibuat dalam konsep kontemporer. "Itu kita bilang kontemporer meskipun semangatnya tetap dari sana (analogi simbol hewan). Ada yang mencoba seperti itu (kontemporer), tapi biasanya hanya pada ornamen-ornamen bangunan modern. Sekarang tugu-tugu itu bentuknya lebih kontemporer," paparnya.
Untuk kembali membuat tugu-tugu bersimbol hewan, kini para arsitek cenderung tidak lagi membuat bentuk yang asli. "Kalau arsitek sekarang, cenderung meniru. Kalaupun ada yang membuat lagi, itu sudah kontemporer, sudah tidak asli lagi.”
Syahlan Jukhri Nasution berkesimpulan, masa kini tidak akan ada lagi penciptaan suatu platform berformat simbol. Sebab pemaknaan simbolik itu biasa hanya ada di masa lalu.










