Analisadaily (Labuhanbatu) - Semangat baja menghantarkan Arlan, pemuda asal Jalan Martinus Lubis, Rantau Prapat, Sumatera Utara, menjadi salah seorang calon pedangdut populer di tanah air melalui kompetisi ajang pencarian bakat.
Pria kelahiran 13 Juni 1989 itu beberapa kali mengikuti ajang pencarian bakat yang diselenggarakan beberapa televisi swasta nasional. Namun, Arlan yang saat ini berusia 27 tahun gagal saat pertama kali mengikuti audisi.
Semangatnya tidak kandas, bermodal Rp 200.000, pada pertengahan November 2016 lalu ia kembali merajut mimpinya menjadi seorang bintang pentas melalui audisi Dangdut Academy 4 Indosiar, yang diadakan di pelataran Universitas Negeri Medan.
“Sempat gagal, kemudian abang coba lagi,” kata istri Arlan, Hamidah, Sabtu (25/3).
Arlan. (jw)
Bermodal uang saku tipis, Arlan sempat terlantar di terminal Amplas, Medan, karena tidak cukup tahu rute trayek angkutan menuju lokasi audisi. Bapak dua anak ini kemudian mencoba memesan transportasi online menuju tempat audisi.
Tidak disangka, kebulatan tekadnya meluluhkan hati sang pengemudi yang kemudian menggratiskan tumpangannya bagi Arlan, dengan syarat dibolehkan foto bersama.
“Abang cerita, bapak itu (pengemudi) gratiskan tumpangannya, kemudian mereka foto bersama,” ucap Hamidah.
Si Tukang Roti yang Hobi Nyanyi
Siapapun tidak menyangka, pria pesisir berpendidikan Paket C ini punya jiwa kerja keras yang tinggi. Di balik suara cengkoknya yang khas, Arlan tidak pernah belajar menyanyi atau musik. Meski menjuarai beberapa kali kompetisi menyanyi sejak SMP, Arlan tidak punya biaya yang cukup untuk sekolah di lintas formal.
“Sempat sekolah SMA di kampung, tapi nggak diteruskan karena biaya. Jadi ambil Paket C. Nah, waktu dia lolos berangkat ke Jakarta, kami sempat keberatan. Karena belum jelas nantinya kayak apa dia, kami yang ditinggal gimana gitu kan,” sebut Hamidah.
“Yah akhirnya dia gadaikan juga mesin pemeras santan, Rp 1,5 juta sama kawannya. Itulah bekalnya, ada juga sisanya buat kami,” kenang Hamidah terharu.
Sejak mendapatkan ijazah dari Paket C, ayah dari Yumna dan Siha ini merantau dari kampunganya, Sei Berombang, ke Rantau Prapat pada tahun 2008, ibu kota Labuhanbatu.
Di ibukota kabupaten inilah jiwa kerja keras dan tanggung jawab Arlan ditempa. Sehari-hari, Arlan bekerja serabutan di pasar. Mulai dari kuli panggul hingga bekerja di pedagang bumbu.
Setiap paginya ia bangun pukul 03.00 WIB untuk bekerja di pasar. Siang hari, Arlan istirahat lalu sorenya berjualan roti bakar di persimpangan Jalan Urip Sumodiharjo, Rantau Prapat.
Arlan bersama keluarganya. (jw)
Arlan mempersunting istrinya Hamidah tahun 2012 lalu. Selain bekerja sebagai buruh kasar di pasar, ia mencari nafkah keluarganya sebagai penjual roti bakar. Terkadang ia juga dipanggil untuk mengisi acara panggung di kampungnya.
“Kalau pagi dia jadi kuli angkut di pasar. Bangunnya jam 3 pagi sampai jam 6 pagi, terus nanti dia jadi tukang peras santan di tempat jualan bumbu. Pulangnya ke rumah jam 12 siang sekalian istirahat,” tutur Hamidah.
Dua tahun terakhir, Arlan mulai berjualan roti dan pisang bakar khas Bandung di pertigaan jalan Urip Sumodiharjo, Rantau Prapat.
“Kami jualan rotinya sore. Itu pun ilmunya bang Arlan dapat dari internet. Dia rajin belajar nanya-nanya sama orang, jadi biar ada tambahan penghasilan sekalian buat bantu keluarga kami jualanlah sorenya,” ungkap Hamidah.










