Oleh: Anthony Limtan
TERBANG 4 jam 40 menit dari Kuala Lumpur International Airport, akhirnya saya dan tiga rekan media, jamuan Konsul Tiongkok di Medan, landing di Bandara Internasional Xiaoshan, Hangzhou yang berjarak 27 kilometer dari pusat kota. Malam itu pukul 22.45 waktu setempat udara terasa sejuk, 18 derajat celsius.
Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa Tiongkok terkenal dengan empat Zhou-nya, yaitu : Guangzhou (kanton) terkenal dengan wanitanya yang pintar masak, Suzhou (kota dekat Shanghai) terkenal dengan wanita yang cantik, Langzhou, terkenal dengan tempat penghasil kayu-kayu yang bagus, dan Hangzhou: surga di bumi, terkenal dengan pemandangan yang indah.
Selain memiliki pemandangan yang indah dan cerita romantis dari legenda West Lake, kota ini sangat bersahabat bagi semua kalangan usia. Mulai dari taman-taman kota yang cocok bagi orangtua lanjut usia, juga kota ini modern bagi para kawula muda dalam mengekspresikan gayahidupnya.
Corak pakaian dan gaya hidup pemuda di kota ini juga tidak berbeda dengan kota -kota besar di Barat. Produk-produk kuliner seperti Starbuck, KFC, Mc Donald, gampang ditemui di sini.
Untuk berbelanja, di Wulin Square terdapat berbagai merk barang terkenal. Atau jika ingin membeli cinderamata dan pernak pernik khas Tiong- kok, bisa mengunjungi He Fang Old Street, yang menjual berbagai jenis pakaian, suvenir sampai the Longjing.
Di sini juga terdapat makanan Muslim halal, Mutton Soup, yang berada di 64 Zhong Shan Zhong Lu. Restoran ini menyajikan menu lezat dengan harga terjangkau dan pelayaanan yang cepat.
***
Ini adalah kunjungan saya kedua sejak 10 tahun silam. Kota yang tidak pernah berhenti berbenah, bahkan saya menilai tatanan kota ini dengan konsep "hijaunya" nyaris sempurna. Taman-taman kota yang rindang dan sejuk. Pulau jalan berhiaskan aneka warna kembang dan hutan kota menjadikan aura wajah kota Hangzhou begitu damai.
Saya berdecak kagum melihat pembangunan kota Hangzhou yang begitu pesat dan sangat tertata. Sambil seloroh saya katakan kepada rekan saya Welle, sepertinya saya pengen menghabiskan hari tuaku kelak di kota ini. Kota yang dihuni 9 juta jiwa, memiliki luas 340 kilomter persegi bertetangga dengan Shanghai yang berjarak 200 kilometer. Jarak ini cukup ditempuh 1 jam dengan kereta api cepat.
Ekonomi Rakyat Membaik
Sepuluh tahun yang silam, saya melihat lalulintas kota ini dijubeli pengguna sepeda pada jam kerja dan pulang kerja. Rambu lalu lintas bagi pengguna sepeda punya arti penting di kota ini. Bahkan jalur sepeda juga tersedia. Namun seiring dengan perkembangan kota dan pertumbuhan ekonomi rakyat yang makin membaik, kini pengguna sepeda yang digowes sudah banyak digantikan dengan motor berbahan bakar gas dan sepeda bertenaga baterai.
Untuk meminimalisasi polusi, Pemko Hangzhou cukup respek bagi warga yang menggunakan sepeda. Bahkan di zona pusat ekonomi, seperti lingkungan hotel, daerah wisata, pemerintah menyediakan sepeda gratis yang berdurasi 1 jam bisa digunakan dari satu terminal ke terminal lainya. Kita cukup membeli kartu, semacam ATM yang ber barcode scanner senilai 100 Yuan. Jika pemakaian sepeda di atas satu jam, baru dikenakan biaya 2 Yuan atau satu jam pertama atau Rp4000 per jam.-
Lalu lintas lancar. Saya tidak menemukan kemacetan yang membuat urat leher tegang. Mengapa demikian? Ruas jalan satu arah kota Hangzhou cukup longgar terdapat 4 jalur. Hampir semua jalan di kota Hangzhou dalam keadaan sangat baik. Setelah mendapat informasi dari penanggungjawab rubrik Perhubungan Zhejiang Daily, Hu Jian Shun saat kami berkunjung ke kantor surat kabar nomor empat terbesar di Tiongkok itu, ternyata jalan-jalan di kota Hangzhou setiap hari dicuci dengan mobil pemberih jalan.
Pantas saja jalan di kota ini selalu tampak bersih dan bebas debu. Setiap hari dicuci dengan semprotan air dua sampai tiga kali melalui armada dinas pertamanan. Dalam kondisi tersebut, sulit sekali kita bisa menemukan sampah berupa puntung rokok atau bekas bungkusan tergeletak di jalan. Jalan yang berlubang juga sulit kita temukan di sini.
Hu Jian Shun mengatakan, bila terdapat kerusakan jalan atau saluran air yang bocor sehingga merembes ke badan jalan, perbaikan akan sangat cepat sekali dilakukan dinas terkait. Jarang sekali media menyorot tentang kondisi infrastruktur yang buruk karena tidak ada hal yang buruk untuk diberitakan. Kalau media sempat mengkritik buruknya penanganan infrastruktur, alamatnya sangat mungkin walikota atau kepala daerahnya dicopot.
Sangat berbeda dengan di kota kita, Medan khususnya. Kota yang setiap hari warganya menghela nafas dengan sumpah serapah menyikapi suasana kota yang bagai baru selesai berperang. Puing-puing yang berserakan, sampah, lubang mengagah, semrawut pasar tradisional. Sementara pemimpinnya bagai orang yang merasa tidak terjadi apa apa, karena urat empatinya sudah putus.
Jujur, banyak kota berbagai negara yang saya kunjungi, saya merasa begitu dekat dengan Hangzhou dalam berbagai fase traveling saya. Kota yang sangat bersih, asri. Mau jalan kaki berapa jauh pun, dengan moda taksi atau bus umum jauh dekat hanya 2 Yuan rasanya aman luar biasa. Bahkan bus saya tumpangi yang dibawa seorang wanita cantik membuat kota ini jauh dari kesan "keras".
Jika Anda berkeinginan berkunjung ke Hangzhou, waktu yang tepat berkunjung ke ibukota Provinsi Zhejiang ini bulan Februari, Maret dan April, karena masa peralihan cuaca dari musim dingin ke musim panas, sehingga udaranya adem.
West Lake
Mungkin sebagian besar orang Indonesia yang pernah berkunjung ke luar negeri punya cerita "roman story" bersama pasangannya. Hangzhou bukanlah Bali, bukan Paris. Tapi kota ini saya nilai punya daya pikat yang luar biasa. Kota yang ramah lingkungan, romantis bagi pasangan yang berbulan madu.
Hangzhou kini menjadi kota sangat pesat didatangi turis mancanegara dan sangat pantas dikunjungi. Salah satu tujuan wisata wajib dikunjungi adalah West Lake. Lokasi ini adalah tempat syuting film legenda serial cinta terlarang Siluman Ular Putih (White Snake) tahun 1990an.
Bila datang ke Hangzhou selain ke Linying Temple, wajib hukumnya berkunjung ke West Lake atau Xihu. Danau yang luasnya 5,6 kilometer persegi merupakan danau buatan berumur 1000 tahun lebih. Lokasi ini area hiburan yang paling terkenal di Hangzhou.
***
Pagi setelah sarapan di hotel, guide kami Hu Ru Qing yang juga Humas Bagian Luar Negeri Pemko Hangzhou ditemani rekannya Shau Jun Bo membawa kami ke West Lake/Xihu atau Danau Barat. Pagi itu udara sangat sejuk bahkan cenderung dingin, namun cuaca cerah. Sepanjang perjalanan, saya sangat menikmati asrinya lingkungan menuju Xihu. Jalan yang lebar, pohon-pohon berdaun hijau menjuntai.
Setelah 25 menit, kami pun tiba di Xihu. Mobil kami parkir di tempat yang sudah disediakan sehingga kami harus berjalan lumayan jauh. Waktu baru sekitar pukul 10.00, namun turis lokal maupun mancanegara sudah membajiri sepanjang tepi danau.
Bila Anda ibu rumah tangga dan khususnya warga Tionghoa, pada tahun 1993, Anda pasti ingat serial drama Legenda Siluman Ular Putih. Film serial drama yang mendunia ini ternyata membawa efek yang sangat bagus bagi perkembagan wisata kota Hangzhou. Wisatawan datang ke sini ingin menyaksikan lokasi kisah dari Tiongkok Kuno yang berujung tragis yang terjadi di danau indah ini sekaligus tempat syuting film drama serial Siluman Ular putih.
Kami pun mengitari danau ini dengan perahu yang didesain cukup apik. Pemandangan alam yang hijau dan asri serta airnya yang bersih membuat tempat ini favorit bagi pengunjung. Area ini juga dikelilingi gunung sehingga udaranya sejuk.
Banyak kegiatan yang dapat kita lakukan di sini, seperti keliling sepanjang jalan di tepi danau dengan sepeda. Cukup menghubungi petugas, Anda bisa langsung menyewanya.
Guide kami Hu Ru Qing mengatakan, pada Pertemuan G-20 yang diadakan di Hangzhou tahun lalu, lokasi ini juga diperkenalkan kepada delegasi mancanegara.
Pagada Liefeng
Setelah puas menikmati keindahan Xihu, kami juga mengunjungi Liefeng Pagoda yang berada di Selatan West Lake. Pagoda ini juga disebut Huang Fei Ta karena tahun 977 tempat ini dijadikan tempat berdoa bagi perdamaian bangsa dan keselamatan rakyat.
Pagoda yang direnovasi pada tahun 2002 ini sekarang banyak menarik pelancong. Di dalamnya juga terdapat reruntuhan pagoda yang asli. Setiap tingkat yang akan kita naiki selalu tersedia lift.
Di dalam pagoda tersebut dipajang ukiran kayu yang begitu detail mengenai legenda Siluman Ular Putih. Di lantai paling atas, pengunjung dapat melihat pemandangan West Lake.
Hangzhou identik dengan West Lake. Banyak wisatawan yang menyukai Xihu. Sepanjang jalan menuju objek ini luar biasa asrinya. Kawasan ini juga disebut "Terowongan Hijau". Kompek wisata ini juga terdapat Starbuck, resto, outlet suvenir, butik lokal.
The Grand Canal from Beijing to Hangzhou
Objek wisata yang populer lainnya yang kami sisir adalah The Grand Canal from Beijing to Hangzhou. Terusan kuno atau sungai buatan terpanjang di dunia 1770 kilometer, sebuah proyek monumental yang mempersatukan wilayah utara dan selatan Tiongkok dibangun pada abad ke-5 SM pada masa Dinastu Sui (581-618).
Lebih 2 juta orang bekerja paksa membuka kanal yang menghubungkan Sungai Kuning dan Yangtze dan rampung tahun 611. Kanal yang dihubungkan sebuah jembatan melengkung ini kini ramai dikunjungi turis sambil berfoto ria.
Kami juga mengunjungi Linying Temple, berlokasi di kaki bukit Lingyin sebelah barat laut kota Hangzhou. Kuil ini dibangun pada masa Dinasti Jin Timur (317- 420). Dengan tinggi aula utama atau disebut dengan Aula Sakyamuni sekitar 33,6 meter, merupakan karya agung bangunan kuno dengan satu cerita dan atap ganda.
Sementara itu, di depan aula utama terdapat dua pagoda bersegi delapan dan dua buah menara batu yang berisi Buddha sutera terletak di depan Aula Lokapala, semuanya dibangun pada masa Lima Dinasti (907-960).
Di gua-gua Bukit Feilai, terdapat 300 ukiran batu Buddha yang telah diukir sejak masa Lima Dinasti, Dinasti Song (960-1279), dan Dinasti Yuan (1271-1368). Ukiran batu yang anggun tersebut mengandung nilai artistik yang tinggi.
Selain itu, di taman ini juga terdapat beberapa tempat hiburan menarik untuk dinikmati, seperti Kolam Keberuntungan, Gua Surgawi, Panggung Keberuntungan, Kebun Pemberkatan, dan Patung Dewi untuk mendapatkan keturunan.
Dengan begitu banyaknya tempat yang berhubungan dengan keberuntungan tersebut, menurut kepercayaan warga Tiongkok maka orang tidak akan gagal dengan apa yang mereka inginkan, baik soal percintaan, persahabatan, kekayaan, kerukunan suami isteri, keindahan alam atau musik, kebajikan, dan lain-lainnya.
Percaya atau tidak, namun legenda seperti itu ada dicatat dalam catatan buku kuno Tiongkok.***
Foto-foto: Analisa/Anthony Limtan

Danau Xihu, West Lake

Kantor Balai Kota Hangzhou

Tangga menuju Pagoda Leifeng

Truk dinas pertamanan membersihkan jalan

Linying Temple

Terminal sepeda di kawasan wisata

Kawasan Central Business District (CBD) Hangzhou, khusus untuk kendaraan roda dua.
Tips ke Hangzhou
*Objek wisata yang wajib Anda kunjungi West Lake/Xihu, Pagoda Liefeng dan Linying Temple.
*Sebaiknya datang pada bulan Februari, Maret atau April, karena udara pada saat ini masih sejuk
*Anda bisa juga mengunjungi kota Ningbo berjarak 150 kilometer dari Hangzhou. Cukup 1 jam dengan kereta api cepat. Ningbo adalah kota Pelabuhan dengan alam yang cukup asri, terkenal dengan kuliner seafoodnya.
*Bila Anda ke Shanghai, hanya berjarak 200 kilometer hanya butuh waktu 1,5 jam dengan kereta api cepat.
*Tidak perlu membawa pakaian banyak memberatkan koper. Pakaian, sepatu dan tas dapat dibeli dengan harga murah di Hangzhou.











