Oleh: Syafitri Tambunan. BANGUNAN yang unik dan bernilai seni memang selalu menarik untuk dilihat. Idealnya, bangunan-bangunan tersebut dapat bersesuaian dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga keberadaan bangunan tersebut tidak hanya memanjakan mata, tapi juga mampu memberikan kenyamanan saat berada di dalamnya.
Berkesuaian maksudnya dapat memberi efek hangat bagi penghuninya saat suhu udara dingin. Sebaliknya, pada di iklim panas, maka yang dibutuhkan yakni bangunan yang memberikan efek dingin atau minimal menolak hawa panas masuk ke ruangnnya.
Untuk daerah dengan iklim yang cenderung dingin, bangunan-bangunan dengan material kaca bisa jadi pilihan. Namun di Indonesia yang beriklim tropis, bangunan yang didominasi material kaca tanpa high maintenance (perawatan ekstra) akan membuat siapa pun tidak terasa nyaman di dalamnya.
Arsitek Sumatera Utara, Peranita Sagala, ST, MMPP, IAI memaparkan, material kaca yang terlalu dominan, jika ditempatkan di Indonesia, memang menimbulkan efek panas. "Bangunan itu, memang boros energi. Sangat tergantung pendingin ruangan. Karena cahaya akan membawa panas."
Bangunan dengan dominasi material kaca memungkinkan pandangan yang tidak terbatas, terkesan terbuka dan bebas. Sifatnya yang transparan memudahkan pandangan mata lebih jauh ke luar. Atap dari kaca tetap mampu menghindarkan air hujan masuk ke ruangan. Dinding dari kaca juga memberikan keleluasan pandangan baik dari dalam ke luar maupun sebaliknya.
Biaya untuk pembuatan bangunan standar dengan material kaca tersebut memang sama seperti bangunan bermaterial batu bata. "Kalau (bugdet) bangun, tidak jauh beda dengan harga pembuatan bangunan dengan dinding bata," kata arsitek yang pernah menjadi staf ahli di Konsultan Implementasi Perwal Bangunan Gedung.
Jika dibangun di Jepang atau negara-negara dengan iklim dingin, menurutnya, memang tidak akan masalah. Karena iklim dingin di sana memang memerlukan sinar dan efek hangat bagi orang di dalamnya. Seperti, Kanagawa Institute of Technology Glass Building yang ada di Jepang. Eksteriornya bisa terlihat transparan dari luar bangunan, juga memantulkan keindahan bunga sakura yang mekar di sekelilingnya. Junya Ishigami and Associates mendesainnya dengan didukung 305 pilar putih.
Bangunan rumah ibadah Kapsarc Mosque di Riyadh, Saudi Arabia, juga didominan kaca yang bisa mengakomodir jemaah 300 jemaah (200 laki-laki dan 100 perempuan). Beberapa sisi bangunannya menerapkan konsep desain tradisional setempat. Refleksi kolam yang dipantulkan dari kaca, khususnya di malam hari, memberi ilusi seakan-akan bangunan itu penuh dengan air.
Namun, bangunan yang didominasi material kaca, jika ditempatkan di Indonesia, maka akan high maintenance di masa depannya. Karena itu, beberapa bangunan kaca di Indonesia, diperkirakan akan banyak mengeluarkan biaya untuk menambah pendingin udara, meskipun ada yang di kelilingi unsur air di sekitarnya.
Dengan desain yang tepat, akan membuat bangunan bermaterial kaca dapat menciptakan iklim mediterania dan hutan hujan seperti di Gardens By The Bay. Pada 2012, Bay South Garden dibuat sebagai konservatori iklim terbesar di dunia. Konservatorium ini berbentuk dua kubah besar yang menjadi bagian pertama dari proyek Gardens By the Bay. Taman ini dinobatkan sebagai Best Building of the Year 2013 dalam World Architectural Festival.
Bangunan ini menggabungkan elemen natural dengan hutan asli untuk membuat hutan kota masa depan. Iklim di dalam kubah tersebut diatur dengan pengendali komputer yang telah terintegrasi dengan material bangunan. Kaca dan baja yang digunakan dalam konservatorium ini menciptakan iklim Mediterania dan hutan hujan ke wilayah Singapura yang tropis.










