Foto Media Informasi Mitigasi Erupsi Sinabung

Oleh: Dr Rudianto dan Muhammad Said Harahap SSos MIKom.

Bencana datang silih berganti di negeri ini tiada henti. Banjir, gunung meletus, longsor, gempa bumi, kebakaran, angin pu­ting beliung, kecelakaan pesawat terbang dan lain sebagainya selalu saja hadir dalam keseharian hidup masyarakat Indonesia, termasuk di Sumatera Utara (Sumut).

Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumut telah berlangsung sejak 2010, dan terus berlangsung hingga saat ini. Bahkan sudah menimbulkan korban jiwa, harta benda serta kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi yang tak sedikit. Kesiapsiagaan masyarakat korban bencana ditentukan oleh sosialisasi dan penyebarluasan informasi bencana melalui mitigasi bencana.

Penanggulangan bencana, harus didukung dengan berbagai pendekatan baik soft power maupun hard power untuk mengurangi risiko dari bencana. Pendekatan soft power yakni dengan mempersiap-siagakan masyarakat melalui sosialisasi dan pemberian informasi tentang bencana.

Sementara hard power merupakan upaya menghadapi bencana dengan pembangunan fisik seperti membangun sarana komunikasi, membangun tanggul, mendirikan dinding beton, mengeruk sungai dan sebagainya.

Dalam UU, dua hal ini yang disebut miti­gasi bencana. Mempersiapkan masyara­kat di daerah rawan bencana tentu harus senan­tiasa dilakukan. Selain informasi yang mema­dai tentang potensi bencana di suatu daerah, pelatihan dan internalisasi kebiasaan meng­hadapi situasi bencana juga harus dilakukan secara berkelanjutan. Tapi harus diingat, informasi berlimpah saja tidak cukup untuk menyadarkan warga atas bahaya bencana yang mengancam. Cara menyampaikan infor­masi juga harus dilakukan dengan tepat. Ke­ke­liruan dalam mengkomunikasikan sebuah informasi, bisa menimbulkan ketidakpastian yang memperburuk situasi. Dalam situasi ini, pendekatan komunikasi budaya dan lintas budaya amat dibutuhkan.

Permasalahan dalam penyebarluasan informasi dan pesan dalam mitigasi bencana adalah apakah hal tersebut disampaikan dengan komunikasi efektif atau tidak. Secara sederhana komunikasi dikatakan efektif bila orang berhasil menyampaikan apa yang dimaksudkannya. Secara umum, komunikasi dinilai efektif bila rangsangan yang disam­paikan dan dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.

Peristiwa erupsi Sinabung ternyata me­narik perhatian berbagai kalangan termasuk fotografer profesional yang mengabadikan peristiwa erupsi dan bencana Gunung Sinabung. Para fotografer tersebut kemudian mengunggah foto-foto tersebut di media sosial antara lain Facebook dan Twitter. Foto-foto itu dalam pengamatan peneliti mendapat­kan perhatian dari masyarakat yang melihat­nya. Selain daya tarik estetikanya foto-foto itu juga memberikan informasi kepada masyarakat akan bahaya erupsi Sinabung.

Melihat hal itu, menarik untuk mengkaji dan mengembangkan foto sebagai bentuk media sosialisasi dan edukasi tentang bahaya dan anca­man bencana. Erupsi Sinabung lewat foto-foto lebih mudah dipahami oleh mereka yang meli­hatnya. Fotografi juga merupakan gambar, foto pun merupakan alat visual efektif yang dapat menvisualkan sesuatu lebih konkret dan akurat, dapat mengatasi ruang dan waktu. Sesuatu yang terjadi di tempat lain dapat dilihat oleh orang jauh melalui foto, setelah kejadian itu berlalu.

Pada dasarnya, tujuan dan hakikat fotografi adalah komunikasi. Komunikasi yang dimak­sud yakni komunikasi visual antara fotografer dengan penikmatnya, dengan kata lain foto­grafer sebagai pengantar atau perekam peris­tiwa untuk disajikan ke hadapan khala­yak ramai melalui media foto.

Indonesia merupakan negeri yang akrab dengan bencana alam. Sejarah mencatat, sejak berdiri bangsa ini telah mengalami semua jenis bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, angin puting beliung hingga kekeringan.

Selain bencana alam, bencana kecelakaan juga akrab di negeri ini. Pesawat jatuh, kapal tenggelam, tabrakan kereta api, kecelakaan lalu lintas hingga kebakaran menjadi bagian yang kerap menemani masyarakat Indonesia melalui hari-harinya.

Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Sinabung, telah beberapa kali mengalami dam­pak letusannya. Sebagaimana diketahui, letusan terakhir pada September 2013 lalu. Gunung Sinabung juga pernah meletus pada Agustus 2010 dan September 2010. Sama halnya dengan letusan-letusan sebelumnya, erupsi Gunung Sinabung pada September 2013, juga menimbulkan kepanikan pada ma­syarakat di sekitar gunung. Erupsi yang terjadi pada tengah malam dengan menge­luarkan debu vulkanik membuat masyarakat ketakutan dan menyelamatkan diri dari zona bahaya dekat tempat tinggalnya.

Negara sebenarnya sudah cukup tanggap dalam penanganan bencana. Saat ini ada UU No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dalam UU itu dijelaskan bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidu­pan dan penghidupan masyarakat yang dise­babkan baik faktor alam atau faktor nonalam, maupun faktor manusia, sehingga menga­kibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Mitigasi bencana penting

Demikian halnya dalam kasus bencana letusan Gunung Sinabung, mitigasi bencana memiliki peranan penting untuk mengurangi risiko bencana. Potensi letusan yang me­nim­bulkan awan panas, guguran lava, debu vul­kanik hingga banjir lahar dingin harus dipa­hami oleh masyarakat sekitar Gunung Sina­bung. Informasi tentang zona bahaya dalam radius 10 kilometer, 5 kilometer dan 3 kilo­meter harus dikomunikasikan dengan tepat sehingga masyarakat memahami dan mematuhinya.

Secara umum, komunikasi dinilai efektif bila rangsang­an yang disampaikan dan dimaksudkan oleh pengirim atau sumber, berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.

Pertama, bagaimana peran dan manfaat foto peristiwa bencana erupsi Gunung Sinabung dalam memberikan informasi bencana?

Kedua, bagaimana model mitigasi bencana memanfaatkan foto peristiwa erupsi Sinabung untuk pengurangan risiko bencana?

Pihak BPBD Karo sebagai yang berwenang melakukan penyadaran dan pendidikan bencana di masyarakat berdasarkan wawancara dengan narasumber, belum secara maksimal melakukan komunikasi dengan masyarakat dalam rangka mitigasi bencana. Pihak berwenang hanya mengandalkan pesan dan informasi melalui papan-papan pengumuman, tidak melakukan sosialisasi langsung secara interpersonal kepada masyarakat. Selain itu, tidak dilibatkannya pemuka adat, pemuka agama dan tokoh masyarakat, juga menjadi salah satu masalah dalam penyebarluasan informasi risiko bencana.

Hambatan komunikasi juga terjadi di lapangan yaitu terjadinya ketegangan antara masyarakat dengan pihak BPBD Karo yang membuat masyarakat tidak terlalu mengindahkan pesan-pesan dari pihak pemerintah terkait lara­ngan zona bahaya.

Sebagai masyarakat yang masih kuat memegang adat istiadat, agama dan tali ikatan kekerabatan, masyarakat di sekitar Sinabung sangat menghargai posisi pemuka adat, tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Dalam melakukan komunikasi mitigasi bencana, pihak berwenang menggunakan media seperti papan pengumuman di zona-zona bahaya, papan imbauan untuk tidak memasuki zona berbahaya, papan instruksi untuk tindakan darurat dan papan informasi titik kumpul jika dalam kondisi darurat. Papan informasi tersebut disebar ke ber­bagai sudut di sekitar zona bahaya Sinabung mulai radius 5 kilometer. Dengan informasi tersebut warga diharapkan memahami risiko bencana yang akan mereka dihadapi. Masyarakat juga diharapkan secara sadar mampu menghindari memasuki zona-zona berbahaya guna mengurangi risiko dampak bencana.

Jenis informasi yang disampaikan dapat diidentifikasi, jenis-jenis informasi terkait aktivitas mitigasi bencana erupsi Gunung Sinabung yang dilakukan pihak berwenang, dalam hal ini pemerintah melalui BNPB dan BPBD Karo.

Adapun jenis informasi yang disampaikan melalui media luar ruang antara lain, informasi larangan zona bahaya, informasi jarak antara Gunung Sinabung dengan kawasan pemukiman, informasi imbauan untuk tidak memasuki kawasan rawan bencana, informasi kawasan aliran lahar dingin, informasi jalur evakuasi, informasi titik kumpul dalam keadaan darurat, hingga informasi penutupan jalur erupsi.

()

Baca Juga

Rekomendasi