HARAPPA adalah nama sebuah daerah yang ada di dalam Provinsi Punjab, Pakistan. Wilayah Harappa menjadi terkenal karena terdapat situs kota kuno di tempat ini. Kota kuno Harappa menjadi bagian dari kejayaan peradaban Lembah Sungai Indus di masa lalu selain kota Mohenjo di sebelah utara Harappa terdapat jalur lama Sungai Ravi yang sekarang telah bergeser 6 mil ke utara.
Harappa terletak di dekat Sungai Ravi, yang merupakan anak sungai dari Sungai Indus. Tana aluvial yang terdapat di sekitar sungai menjadikan daerah ini cocok untuk didirikan pemukiman atau rumah bagi penduduk. Pola perdagangan kota kuno ini juga didasarkan kepada kondisi sungai. Iklim yang kondusif, akses mudah ke rute perdagangan, sumber daya alam yang melimpah, serta lokasinya yang terletak di pinggiran Lembah Sungai Indus menjadikan Harappa memegang kekuasaan di seluruh peradaban Lembah Sungai Indus serta menjadi pintu masuk ke wilayah kota lainnya. Luas Kota Harappa sekitar 450.000 meter persegi, jauh lebih luas dibandingkan kota-kota kecil lainnya.
Ada spekulasi yang menceritakan tentang sejarah beridirinya Harappa terkait dengan kekalahan bangsa Vrcivants oleh Abhyavartin Cayamana. Peristiwa tersebut dicatat sebagai Hari-Yupuya. Diyakini bahwa penduduk wilayah tersebut sebelumnya merupakan bangsa non-Arya yang kalah perang. Dapat dikatakan bahwa situs ini menjadi tanda yang menyebutkan bahwa bangsa Arya berhasil mengatasi penduduk lokal dan menancapkan dominasi mereka.
Harappa pertama kali kembali ditemukan pada tahun 1826 M oleh James Lewis, seorang desertir tentara Inggris yang sedang menjelajahi daerah Punjab dan Utara-Barat India untuk mencari sisa-sisa barang kuno. Pada perjalanannya ke Multan ia menemukan Harappa. Lewis beranggapan bahwa kota ini berhubungan dengan kota Sangla (sebuah kota kuno berusia 1300 tahun penginggalan Alexander Agung,
Kemudian pada tahun 1831 CE, seorang utusan dari Raja William IV, yaitu Alexander Burnes, mencatat sisa-sisa kejayaan di Harappa saat bepergian dari Multan ke Lahore untuk memberikan hadiah kuda dari Raja Inggris untuk Ranjit Singh (pimpinan Kerajaan Sink yang ada di Punjab).
Catatan mereka diperhatikan oleh Alexander Cunningham, yang mengunjungi situs pada tahun 1853 dan 1856 M, sehingga penggalian kecil mulai terjadi pada tahun 1872 M. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Alexander Agung pernah memerintahkan untuk memblokade kota ini ketika penyerbuan wilayah India. Kota yang dekat Harappa adalah Kota Kamali yang mana Harappa terketak 16 mil kesebelah timur dari kota ini.
Mohenjo-daro
Sementara itu, Mohenjo-daro adalah sebuah kota yang cukup terlindungi. Walau tak ada tembok, namun terdapat menara di sebelah barat pemukiman utama, dan benteng pertahanan di selatan. Perbentengan tersebut, dan struktur kota-kota lain di Lembah Indus seperti Harappa, menimbulkan pertanyaan apakah Mohenjo-daro memang pusat administrasi.
Harappa dan Mohenjo-daro memiliki arsitektur yang mirip, dan tidak berbenteng kuat seperti situs-situs lain di Lembah Indus. Jelas sekali dari tata ruang di semua situs-situs Indus, bahwa ada suatu pusat politik atau administrasi, hanya saja tidak jelas lagi sejauh mana jangkauan dan fungsi pusat administrasi tersebut.
Mohenjo-daro telah dimusnahkan dan dibangun kembali setidaknya tujuh kali. Setiap kali, kota baru dibangun terus di atas kota lama. Banjir dari Sungai Indus diduga menjadi penyebab utama kerusakan.
Kota ini terbagi atas dua bagian, yaitu benteng kota dan kota hilir. Kebanyakan wilayah kota hilir masih belum ditemukan. Di benteng kota terdapat sebuah permandian umum, struktur perumahan besar yang dirancang untuk menempatkan 5.000 warga, dan dua buah dewan perhimpunan besar.
Mohenjo-daro, Harappa dan peradaban masing-masing, lenyap tanpa jejak dari sejarah sampai ditemukan kembali pada 1920-an. Penggalian besar-besaran dilakukan di situ pada 1920-an, namun tidak ada penggalian secara mendalam yang dilakukan lagi sejak tahun 1960-an.
Orang-orang Dravida yang diperkirakan merupakan pendiri kota kuno ini sendiri menjadi tanda tanya bagi para arkeolog. Riwayat mereka tak dapat ditelusuri hingga sekarang. Bahasa dan aksara yang mereka gunakan dalam artefak-artefak yang ditemukan di sana masih belum dapat dipecahkan hingga sekarang.
Uniknya di kota tersebut tidak ditemukan bangunan untuk kegiatan religius dan tanda-tanda sistem kasta. (sdc/wpd/ar)