Ritual Ulambana TDS Angsapura

Medan, (Analisa). Vihara Taman Damai Sejahtera (TDS) Ang­sapura Tanjung Morawa, Minggu (17/9) melaksanakan ritual sembahyang Ulambana (Penyelematan Arwah-red) dan pembacaan sutra pertobatan yang dimulai pukul 08.30-16.30 WIB.

Ritual Ulambana dilaksanakan berte­pa­tan dengan bulan ke-7 hari ke-15 penang­ga­lan Imlek. Pelaksanaan ritual ulambana ter­sebut diikuti sejumlah jajaran pengurus Ang­sapura, di antaranya Ketua Umum Ang­sapura Medan Tony Harsono, Wakil Ketua Pembina yang juga mantan Ketum Angsapura Hakim Tanjung, Ketua Mem­bi­dangi Sosial Effendi Simin SE, Ketua Membidangi TDS Angsapura Tanjung Mo­rawa Tirta Salim serta puluhan keluarga le­lu­hur/orangtua yang abu jenazahnya di­simpan di Crematorium TDS Angsapura Tan­jung Morawa serta umat Budha di se­putar vihara lainnya.

Ritual Ulambana yang dipimpin dua orang Biksu tersebut, ditandai pembacaan doa suci untuk mengundang arwah orang­tua/leluhur yang diikuti segenap pengurus TDS Angsapura Tanjung Morawa dan jajaran pengurus serta Anggota Yayasan So­sial Angsapura Medan. Sementara ma­sakan serta buah-buahan sebagai sesaji untuk para arwah dengan nama para leluhur atau arwah yang didoakan.

Menurut Ketum Yayasan Sosial Angsa­pura Tony Harsono, sembahyang Ulam­bana merupakan sembahyang untuk me­lim­pahkan jasa atau kebaikan pada para leluh­ur yang telah meninggal dunia.

“Kegiatan pelimpahan jasa kepada makhluk hidup di tiga alam sengsara dengan harapan mendapat berkah kebaji­kan, kebahagiaan, terbebas dari penderi­taan dan terlahir di alam yang lebih ber­bahagia,” kata Tony Harsono di Medan, Minggu (17/9).

Ritual sembahyang Ulambana ini, ka­ta­nya, berawal dari sebuah kisah yang ter­jadi pada zaman Sang Buddha, pada saat itu Buddha memiliki seorang murid ber­nama Mogalana. Dengan kesucian, ke­sak­tian, dan kekuatannya, ia mencoba me­no­long ibunya yang berada pada alam yang men­derita atau alam Niraya. Melihat hal itu, ia kemudian ingin mem­persembahkan ma­kanan pada ibunya, akan tetapi tidak per­nah berhasil, dan bahkan makanan tersebut berubah menjadi bara api.

“Demi menolong sang ibu, dia menyam­pai­kan keinginan itu pada sang Buddha. Se­telah mendengarkan keinginan Mo­ga­lana, Buddha menyarankan kepada Mo­ga­lana untuk mengundang para bhikku untuk ber­­doa bersama-sama dan memberikan pe­layanan sebaik-baiknya kepada mereka. Selanjutnya kebajikan itu dilimpahkannya kepada sang ibu. Akhirnya berkat kebaji­kan yang dilakukan Mogalana, sang ibu bisa terbebas dalam alam penderitaannya,” katanya.

Berdasarkan tradisi dalam memberi persembahan harus disediakan buah-buahan yang bagus. Yang berarti, buah-buahan yang bagus pasti berasal dari pohon yang bagus pula atau terawat dengan baik. Ini memberikan simbol tentang kebijakan bahwa sesuatu yang baik juga akan menghasilkan yang baik pula. Begitu pun bunga yang dipersem­bahkan pada ritual itu. Patut diingat, walaupun bunga telah layu, namun bunga tetap akan menyebarkan wangi yang semerbak. Sama halnya de­ngan air, juga memberikan arti tentang ke­bijakan. Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Ini mem­punyai arti dalam hidup kita harus rendah diri, ujar Tony Harsono. (rel/msm)

()

Baca Juga

Rekomendasi