Bukit Indah Simanjarunjung

Pesona Sisi Lain Danau Toba

Oleh: Timbul P. Siallagan

“Bagus sekali pemandangannya, sekelilingnya hijau ditumbuhi pohon pohon pinus besar sehingga benar benar sejuk di lokasi ini. Menurutku luar biasa tempat ini,” ujar pengunjung dari Pekan Baru, Riau,  Kristin Arauna Hulu dan Eunike Arta tatkala tiba di puncak Bukit Indah Simarjarunjung (BIS), liburan tahun baru, Januari,  minggu lalu.

“Wao, ngeri sekali permainannya, jurangnya dalam dan bermain diatas pohon lagi. Tapi,  mengasikkan ya ”, tukas pengunjung dari kota Pema­tangsiantar, Dhana Taruli Siallagan,  Agnieska MME Silalahi dan Abraham NNA Silalahi, seusai menikmati permainan ekstrim seperti ayunan dan sepeda awan.

Dimana obyek wisata BIS itu terletak ? BIS obyek wisata khusus diatas bukit yang terletak tidak seberapa jauh dari pinggiran daerah tujuan wisata (DTW) andalan Suma­tera Utara,  Danau Toba,  persisnya di Nagori (Desa).Butu Bayu Pane Raja ....... kecamatan Dolok Parda­mean  kabupaten Simalungun.    

Menuju  obyek wisata BIS bisa ditempuh dari empat pintu masuk yakni dari ibu kota Kabupaten Simalungun, Raya, dari kota wisata Parapat masuk dari simpang Tanjung Dolok Nagori Sibaganding, dari kota Pematang­siantar ada dua pintu masuk seperti simpang Sidamanik, Simarimbun dan simpang dua (belakang timbangan).

Dari arah kota turis Parapat persisnya simpang Tanjung Dolok, Nagori Sibaganding, untuk sampai di obyek wisata BIS, pengunjung melintasi jalan pinggiran Danau Toba yang kondisi jalannya berkelok kelok dan disebelah kanan dibatasi bukit bukit yang tampak hijau diantaranya hutan dan perladangan masyarakat.

Namun, perlu diingat, selama dalam perjalanan pengunjung yang mengendarai mobil penumpang, kendaraan pribadi, sepeda motor dan yang lainnya perlu ekstra hati hati sebab, selain kondisi jalannya terbilang kurang lebar, banyak tikungan tajam, tanjakan dan jalan menurun yang relatif terjal. Lobang lobang kecil masih ada disepanjang jalan yang kurang lebih 40 kilometer itu..

Tidak jauh beda dari arah ibu kota Kabupaten Simalungun, Raya, pe­ngun­jung melintasi jalan yang juga berkelok kelok namun disepanjang jalan kurang lebih 40 kilo meter itu di sisi kiri dan kanan kebanyakan lahan lahan pertanian penduduk, hanya sebagian kecil saja kawasan perhu­tanan. Kondisi jalan tidak jauh beda dengan jalan dari arah kota turis Parapat.

Rusak Parah

Pada umumnya,pengunjung yang hendak berlibur ke  obyek wisata BIS, mayoritas berangkat dari arah kota Pematangsiantar, yakni simpang Sidamanik dan simpang dua (belakang timbangan) sebab perjalan dari dua arah tersebut hampir 90 persen disepanjang jalan diramaikan perkam­pungan perkampungan penduduk sehingga serasa lebih nyaman.

Namun, perlu juga diketahui perjalanan dari arah simpang Sida­manik, kelurahan Tong Simarimbun kota Pematangsiantar, pengunjung yang menaiki kendaraan apapun  jenisnya harus benar benar ekstra hati hati sebab hampir 90 persen jalan yang jaraknya kurang lebih 40 kilo meter  untuk sampai di obyek wisata BIS, rusak parah.

Lobang lobang besar menganga disepanjang jalan membuat kendaraan harus benar benar berjalan lambat. Akibat dalamnya lobang lobang yang menganga, sepanjang jalan pengun­jung seperti berjoget dangdut di dalam kendaraan masing masing. Ping­gangpun terasa pegal.

Kebun Teh Sidamanik

Namun, kurang lebih 30 menit dari kota Pematangsiantar, pengunjung bisa sedikit lega karena akan bertemu dengan perkebunan teh Sidamanik. Dalam kesempatan di kawasan perkebunan teh tersebut pengunjung bisa beristirahat sejenak di kedai yang ada dipinggiran jalan perkebunan untuk minum teh, kopi dan makanan ringan lainnya.

Berselviriapun dengan latar perke­bunan teh yang berbentuk seperti bukit bukit kecil itu menjadi kepuasan tersendiri bagi pengunjung untuk melepas dahaga sebelum tiba di obyek wisata BIS.  Puluhan kilo meter pinggir jalan perkebunan teh milik negara yang di tata rapi itu tampak indah, hijau dan sejuk.

Setelah melintasi perkebunan teh tadi, pengendara kembali disuguhi jalan jalan berlubang membuat kening pengendara kembali berkerut.

“Lobang lobang menganga cukup dalam itu sudah bisa dijadikan tempat budidaya ikan lele, apa lagi musim penghujan”, ujar David Siallagan, pengunjung dari kota Pematang­siantar.   

Kondisi jalan dari arah simpang dua kota Pematangsiantar,  masuk ke simpang Raya,  tidak jauh beda dengan jalan dari arah simpang Sidamanik, jalan berlobang lobang juga menjadi lintasan yang menye­balkan. “Saatnya pihak pemerintah memperbaiki jalan jalan berlobang ini sebab obyek wisata di daerah ini sangat mengagumkan, apa lagi obyek wisata BIS.  

Beberapa menit setelah memasuki jalan tersebut pengunjung dapat juga menikmati keindahan, kesejukan dan hijaunya perkebunan teh. Jalannya agak sempit dan lobang lobang yang menganga di jalan tidak separah dari arah  jalan simpang Sidamanik. Jarak tempuh hampir sama kurang lebih 40 kilo meter.

Namun, setiba di obyek wisata BIS, kekesalan pengunjung yang terjadi disepanjang jalan akibat kondisi jalan yang berlobang lobang dan sempit tadi benar benar bisa terobati. Keindahan, kesejukan dan hijaunya lokasi sekitar termasuk berbagai bentuk wahana berselviria dan permainan lainnya dengan latar kemegahan Danau Toba, sejenak hilang entah kemana. “Indah nian pemandangannya”, bisik pengunjung.

Obyek wisata BIS, sebuah bukit yang berketinggian sekitar 150 meter dengan jarak tempuh hingga puncak sekitar 300 meter dengan latar obyek wisata Danau Toba. BIS ditata menjadi tempat melepas dahaga dengan puluhan wahana berselviria dengan tarif relatif murah rata Rp. 5000/selvi.

Hampir semua wahana berselviria berlatar Danau Toba dengan Pulau Samosirnya berbagai bentuk tempat yang ditata apik misalnya jembatan, lingkaran hati, sangkar burung  rumah rumah kecil dan yang lainnya itu terletak diatas jurang jurang terjal sehingga benar benar mengagumkan.

Di obyek wisata BIS juga tersedia berbagai permainan yang mengerikan seperti ayunan dan sepada awan yang dijuluki permainan ekstrim yang juga berada diatas jurang. Di lokasi sekitar BIS yang luasnya sekitar 2 hektar itu tersedia juga rumah rumah pohon dari kayu yang dibentuk indah dan antik sehingga benar benar mengasikkan.

Beberapa unit rumah rumah antik dan umik yang berdiri megah diatas bukit itu bisa disewa pengunjung dengan tarif Rp.200.000-Rp.300.000 per malam dengan jumlah maksimal penginap 10 orang. Maklum, untuk tidur di rumah rumah yang terbuat dari kayu hanya seadanya saja.

Lokasi parkir kendaraan di atas obyek wisata BIS tidak perlu diragu­nakan sebab mampu menampung hingga 300 unit kendaraan khusus mobil pribadi dan ratusan kendaraan sepeda motor dan yang lainnya. Tarif masuk per kendaraan plus penumpang hingga kini Rp. 30.000. Artinya, berbagai kepentingan pengunjung termasuk makan minuman  ringan yang tersedia masih relatif murah.

Tetapi, terpenting untuk dicatat khususnya pelaku pariwisata di obyek wisata BIS, pembenahan pengamanan sarana jalan menuju bukit sebab hingga kini jalan yang relatif terjal itu masih terbuat dari tanah dan bebatuan yang ada bisa berbahaya apa lagi di musim penghujan, palang palang penyanggah pinggiran jalan di sisi jurang juga saatnya dipikirkan.  

Tingkat keamanan berbagai waha­na selviria juga perlu diperhatikan termasuk permaian ekstrim ayunan dan sepada awan. Kerahtamahan dan kebersihan kawasan sekitar juga perlu ditingkatkan termasuk pengadaan  pedagang makanan, minuman ringan, sayur mayur dan buah buahan sangat penting.

***  

()

Baca Juga

Rekomendasi