Oleh: dr. Angela Fovina
INFEKSI tinea adalah infeksi jamur pada kulit, dan merupakan penyakit kulit tersering di seluruh dunia. Infeksi ini seringkali bisa parah dan berulang disebabkan dermatofita, terdiri dari genus Epidermophyton, Microsporum, dan Trichophyton. Sedangkan cruris berasal dari bahasa latin crus atau cruca yang berarti tungkai bawah, sehingga tinea kruris adalah jamur pada daerah lipatan paha, dan dapat meluas hingga ke anus.
Dermatofita yang paling sering menyebabkan tinea kruris di seluruh dunia adalah Trichophyton rubrum. Infeksi jamur ini terjadi di seluruh dunia, dan prevalensi yang lebih besar pada daerah tropis (lebih hangat dan lebih lembab) seperti di Indonesia. Diperkirakan bahwa 10% sampai 20% populasi dunia mengalami infeksi jamur pada kulit (termasuk bentuk jamur lainnya, misalnya tinea pedis (pada kaki), juga dikenal sebagai kaki atlet).
Pola area yang terkena infeksi bervariasi menurut lokasi geografis, penyebab organisme, dan perbedaan lingkungan dan budaya. Misalnya, memakai pakaian yang ketat, terutama di iklim tropis, dikaitkan dengan frekuensi infeksi yang lebih tinggi. Berbagai faktor lain juga berperan seperti usia dan jenis kelamin, status kekebalan tubuh, kurangnya kebersihan, kekurangan gizi, dan faktor genetik. Obesitas dan diabetes melitus juga merupakan faktor resiko tambahan oleh karena keadaan tersebut menurunkan imunitas untuk melawan infeksi.
Di Indonesia, tinea kruris ini merupakan penyakit yang sering terjadi. Pada tahun 2011, penyakit ini tercatat sebagai kasus jamur terbanyak yang menyebabkan pasien datang ke Rumah Sakit (RS) Dr.M.Djamil Padang sebanyak 72%. Penyakit jamur ini tersebar di seluruh dunia dan menjadi masalah terutama di negara berkembang.
Tingkat keparahan kelainan kulit berkisar dari ringan sampai berat, dengan gatal merupakan keluhan utama. Penderita akan merasakan ketidaknyamanan dan sering merasa malu karena perlu terus menggaruk. Infeksi ini dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain terutama melalui kontak kulit ke kulit secara langsung, walaupun hanya berupa pengelupasan sel kulit mati yang menempel pada pakaian, tempat tidur, dan handuk juga dapat merupakan penyebab penularan.
Karena itu sangat tidak dianjurkan memakai barang-barang yang sama untuk mencegah penularan. Kadang-kadang, infeksi dari hewan dan tanah juga dapat terjadi. Meski orang dari semua kelompok sosioekonomi bisa terkena, namun cenderung terjadi pada status sosial ekonomi yang rendah. Kondisi lingkungan yang ramai (seperti asrama, panti asuhan, panti jompo), tingkat kebersihan yang buruk, dan kedekatan dengan hewan dapat meningkatkan penularan infeksi.
Semua orang tidak rentan terhadap infeksi jamur, bahkan ketika memiliki faktor risiko yang sama. Ada bukti bahwa penyakit ini berkaitan dengan keluarga atau genetik yang dapat berhubungan dengan cacat spesifik pada imunitas diri (kekebalan tubuh). Pada penelitian menyebutkan bahwa defensin beta 4 yang rendah merupakan faktor risiko untuk mengalami penyakit jamur.
Faktor-faktor lain yang juga dapat menjadi predisposisi infeksi tersebut adalah penyakit penyerta seperti diabetes mellitus (sakit gula), limfoma (kanker pada kelenjar getah bening), imunitas yang rendah, usia yang lebih tua, yang dapat menyebabkan penyakit ini lebih parah, meluas, atau berulang. Beberapa area tubuh lebih rentan terhadap perkembangan infeksi jamur seperti daerah lipatan paha dimana kelebihan berkeringat, kelembaban, dan pH yang basa akan mendukung pertumbuhan jamur.
Tinea kruris yang sering disebut “jock itch” sering ditemukan pada kulit lipat paha, kemaluan, dan sekitar anus. Penyakit ini merupakan penyakit terbanyak yang ditemukan di daerah lipat paha, yaitu sekitar 65-80% dari semua penyakit kulit di lipat paha. Tinea kruris lebih sering pada rentang usia 51-60 tahun dan tiga kali lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita. Orang dewasa lebih sering menderita tinea kruris bila dibandingkan dengan anak-anak.
Diagnosis tinea kruris biasanya mudah dikenali secara klinis, di mana akan tampak kelainan kulit yang berbatas tegas dengan adanya bentol-bentol kemerahan dan bagian tepi yang lebih meninggi. Didapati central healing yaitu daerah bagian tengah yang lebih “tenang” ditutupi sisik halus, dengan tepi yang meninggi dan memerah. Central healing terjadi karena sifat jamur yang tumbuh melingkar dan adanya produksi enzim keratolisis (menghancurkan keratin)
Untuk mendapatkan hasil lebih pasti, dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium, dengan cara mengerok pada bagian tepi yang aktif, seperti:
1. Pemeriksaan mikroskopik langsung dengan menggunakan KOH 10 % merupakan pemeriksaan yang paling cepat dan murah untuk membuktikan adanya infeksi dermatofitosis. Kerokan yang positif dikarakteristikkan dengan adanya hifa panjang, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora)
2. Kultur (menanamkan bahan klinis pada media buatan): medium agar dekstrosa Sabaroud adalah media isolasi yang biasanya digunakan. Pertumbuhan akan terjadi dalam 7-14 hari.
Terapi yang biasanya diberikan biasanya dalam bentuk krim atau losio seperti golongan azol (clotrimazole, econazole, miconazole) 2 kali sehari selama 4-6 minggu. Baru-baru ini ada obat baru dalam bentuk krim, Luliconazole, hanya perlu dipakai 1 kali sehari dalam 1-2 minggu, namun harganya cukup mahal.
Kadang-kadang diperlukan pula terapi yang bukan dalam bentuk pengolesan, namun diperlukan konsumsi obat, misalnya pada kasus di mana jamur bukan hanya pada lipatan paha, namun juga pada daerah lain seperti kepala, kaki atau bagian tubuh lainnya; dan juga pada kasus di mana pasien tidak sembuh bila hanya dengan terapi pengolesan. Konsumsi obat dapat berupa terbinafine 1x250 mg selama 2-3 minggu, itraconazole 200mg/hari selama 1-2 minggu, fluconazole 150-300mg/minggu dalam 3-4 minggu atau bisa juga griseofulvin 500mg/hari selama 2-4 minggu. Yang paling sering dipakai adalah terbinafine dan itraconazole karena menurut beberapa penelitian, kedua obat tersebut memiliki efek terapi yang lebih tinggi.
Sebenarnya, tinea cruris tidak membahayakan, namun dapat menggelisahkan penderita, yang dapat dilakukan untuk mencegahnya adalah:
1. Jangan memakai celana yang ketat, pakailah yang berbahan katun atau sintetis yang dapat menyerap keringat.
2. Jangan menggunakan celana yang sama dengan orang lain
3. Mengeringkan daerah lipatan paha sebelum memakai celana.











