Kepedulian Sosial dalam Bencana

Oleh: Kusmin

Tampaknya beberapa bulan terakhir, ne­geri Indonesia tercinta dirundung ben­cana yang berkepanjangan. Tra­gis­nya, ham­pir setiap wilayahnya me­nga­lami ben­cana. Banjir, banjir bandang, dan ta­nah longsor merupakan fenomena yang sa­ngat kerap muncul. Sumatera Utara me­rupakan salah satu wilayah yang juga kerap mengalami hal tersebut. Tanah longsor yang me­nimpa 4 rumah di Desa Halado, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba Samosir juga meninggalkan duka yang mendalam dengan tewasnya 8 warga serta dua yang ma­sih belum ditemukan. Sebelum itu juga banyak bencana alam yang terjadi. Ada peristiwa di Mandailing Natal, Langkat, Labuhan Batu Utara, Serdang Be­­dagai, Simalungun, serta daerah lain­nya. Semua itu menambah daftar pan­jang­nya kesengsaraan masyarakat di Su­ma­tera Utara.

Belum lagi, berbagai bencana alam yang terjadi di luar Su­matera Utara. Ada yang terkena gempa bumi, tanah longsor, ter­jangan angin puting beliung yang mem­porak-porandakan rumah pendu­duk, juga banyak lagi korban harta benda bah­kan jiwa juga ikut melayang. Ada juga jembatan yang tergerus air sungai, sehingga memutuskan urat nadi per­ekono­mian masya­rakat. Banyak bencana yang menimpa masyarakat. Itulah ben­cana yang tengah terjadi di negeri ter­cinta ini. Sungguh tragis dan miris me­lihat bencana bertubi-tubi yang telah me­nimpa saudara kita.

Anomali Alam dan Tangan Manusia

Realitas bencana itu pada dasarnya di­akibatkan oleh ano­mali alam juga oleh tangan jahil manusia. Anomali alam, juga bisa dipicu oleh ulah tangan jahil ma­nusia. Sehingga bencana alam itu ter­jadi. Memang benar, terkadang alam mem­punyai kecenderungannya sendiri. Alam akan mengalami perubahan yang drastis pada suatu ketika. Iklim dan cua­ca yang ekstrim bisa saja terjadi dalam berbagai kemungkinan. Hal itu dikare­na­kan faktor musim ataupun faktor alam se­cara global.

Namun harus dipahami pula, jika di­telusuri secara men­dalam, bahwa ano­ma­li alam juga dikontribusi oleh tangan ma­­­nusia. Sebab, memang manusialah yang membuat alam ini menjadi bersaha­bat, atau menjadi tidak bersahabat. Ba­nyak contoh kejadian yang dapat dijadi­kan pembelajaran bersama, bahwa "ber­baik tangan" terhadap alam dan lingku­ngan akan memberikan keuntungan bagi kita yang berada di sekitarnya. Demi­kian­lah sebaliknya yang akan terjadi. Dan hal itu semua, akan kembali menge­na kepada kita.

Oleh karena itu, sangat diharapkan bagi manusia yang men­diami bumi ini se­belah manapun, harus tetap menjaga keles­tarian alam. Boleh saja me­ma­fa­at­kan kekayaan alam yang ada, tetapi tidak dilakukan secara brutal; tidak meng­eks­ploi­tasi alam semata-mata untuk kepenti­ngan ekonomi, tanpa memperhati­kan ke­seimbangan alam dan kelestariannya. Hal inilah yang menjadikan kita harus bisa belajar, bahwa alam ini tidak akan sang­­gup melayani hasrat serakah dan tamaknya seorang ma­nusia, tetapi alam ini akan mampu menjamin kelangsungan hidup seluruh umat manusia, jika alam ini terjaga dan dijaga dengan baik.

Menguatkan Kepedulian Sosial

Atas realitas bencana yang kerap dan bertubi-tubi terjadi di negeri ini; bahkan di Sumatera Utara, tampaknya setiap kita harus mampu berkontribusi untuk meri­ngan­kan dampak dan akibat bencana alam. Tentunya, bencana alam itu telah me­nim­bulkan berbagai prahara bagi kehidupan masyarakat. Banyak kerugian harta benda bahkan jiwa juga ikut men­jadi korban. Hal itu sangat menyedihkan.

Kepedulian sosial harus dikuatkan de­ngan cara mampu merasakan apa yang di­­rasakan oleh orang lain. Cobalah ta­nya­kan hati nurani kita, jika kita sendiri yang mengalami bebagai penderitaan yang terjadi itu. Cobalah hati ini menim­bang-nim­bang, bahwa yang ditimpa ben­cana seperti itu adalah diri kita, dan keluarga kita. Cobalah dirasakan bagai­mana beratnya pen­deritaan yang diaki­bat­kan berbagai bencana itu. Inilah cara untuk lebih mudah bisa menguatkan ke­pe­dulian sosial. Kepedulian terhadap sesama.

Kepedulian sosial itu pada akhirnya akan bermuara pada ringan tangannya kita dalam melihat bencana dan penderi­ta­an yang dialami oleh warga masyarakat yang lainnya. Sehingga dengan mudah­nya kita memberikan bantuan. Kita akan lebih mudah untuk menyisihkan sedikit rezeki dan karunia yang diberikan Tuhan untuk didistribusikan kepada masyarakat lain­nya. Inilah yang perlu dilakukan da­lam duka lara yang diakibatkan suasana ben­cana alam.

Sebagai manusia yang mempunyai ke­adaban yang tinggi, realitas bencana alam itu pasti akan melumerkan hati kita. Akan muncul rasa berat di hati, bahwa pen­deritaan itu sangat berat untuk di­ha­dapi oleh mereka sendiri. Kitalah yang juga harus ikut membantu meri­ngan­kan be­ratnya beban yang ada di pun­dak me­reka itu. Sebab, kita adalah bang­sa yang sama, bangsa yang satu; Indone­sia. Sehingga, sejatinya semua bangsa In­do­nesia tetap dalam satu kesatuan hati dan perasaan, sehingga bencana yang me­nimpa akan dirasakan sangat ringan de­ngan kebersamaan yang kita miliki sebagai bagian dari bangsa.

Membangun Masyarakat yang sadar Bencana

Wilayah geografis Indonesia, dengan kontur tanah yang beragam serta berba­gai aspek kekayaan yang ada di dalam­nya, jika diteliti dengan baik, bahwa an­caman bencana alam tetap saja ada bagi wilayah Indonesia. Ini adalah realitas yang nyata bahwa wilayah geografis In­do­nesia berada dalam suatu lingkaran yang berbahaya; selalu ada ancaman ben­cana alam. Bencana alam terus saja meng­intai bangsa Indonesia. Hal itu di­karenakan memang wilayah Indonesia yang sedemikian itu adalah wilayah yang sangat rentan terhadap terjadinya benca­na. Bencana alam selalu mengin­tai kita. Kondisi itulah yang perlu diwaspadai.

Bagi masyarakat Indonesia, harus di­beritahukan bahwa kita hidup dalam sua­tu wilayah yang penuh dengan ancaman ben­­cana. Bencana alam tetap mengintai kita. Itu harus menjadi petuah penting yang harus dipahami. Tidakpun dima­suk­kan di dalam kurikulum pendidikan/se­­kolah; sebagai bahan mata pelajaran yang formal. Sejatinya, kesadaran ter­hadap kondisi wila­yah rawan bencana ini harus terus disebarluaskan untuk menim­bulkan kehati-hatian dan kewaspadaan ter­hadap bencana alam. Bukanlah di­maksudkan untuk menakut-nakuti ma­sya­rakat, ataupun menyebarkan berita hoaks. Tetapi hal ini dilakukan sebagai upa­ya antisipasi terhadap terjadinya ben­cana alam.

Membangun masyarakat yang sadar bencana merupakan salah satu strategi untuk mengeliminasi dampak fatalnya bencana yang terjadi. Dengan kesadaran terhadap bencana itu, maka segala pola perilaku akan tetap bersandarkan pada kon­disi kesiapsiagaan terhadap bencana. Hal itu diterapkan dengan tetap memper­hati­kan kondisi geografis alam. Jika me­mang ingin membangun sebuah kon­struk­si di wilayah yang landai (tidak rata), maka harus diperhitungkan ber­ba­gai kemung­kinan­nya. Diperlukan ilmu un­tuk membangun gedung di lokasi yang lan­dai. Demikian juga yang lainnya. Kon­disi alam yang ada harus diantisipasi dengan bentuk dan struktur bangunan yang sesuai untuk mengantisipasi ben­cana alam.

Masyarakat sadar bencana perlu dikampanyekan secara massif dan ber­ke­lanjutan. Hal ini juga merupakan wu­jud kepedulian sosial. Sehingga ke­pe­du­lian sosial bukan hanya merupa­kan dam­pak akhir dari suatu bencana; tetapi juga yang lebih penting adalah bagaimana meng­antisipasi bencana alam agar tidak terjadi di wilayah geografis yang sangat rawan ben­ca­na ini. Inilah ke­pe­dulian sosial yang sepatutnya terus diko­munikasikan kepada berbagai pihak. Kepedulian itu di­orientasikan kepada dua aspek; sebelum terjadinya bencana alam dan setelahnya.

Penutup

Banyaknya bencana alam yang tejadi di Indonesia, khusus­nya di Sumatera Uta­ra, kiranya sangatlah diharapkan tumbuh dan berkembangnya kepedulian kita bersama. Kepedulian sosial sebelum kejadian dan setelah kejadian bencana alam perlu dikampanyekan. Inilah yang dikatakan sebagai ma­syarakat yang sadar bencana. Semoga kita bisa mengatasi se­luruh bencana alam yang terjadi. Semoga ter­wujud masyarakat yang sadar ben­cana. Inilah wujud dari kepedulian sosial dalam bencana.***

*Penulis adalah Sekretaris Dinas Perhubungan Pemkab Serdang Bedagai, Sumatera Utara

()

Baca Juga

Rekomendasi