Ragam Gaya Arsitektur Gereja

Oleh: Rhinto Sustono

GAYA arsitektur pada bangunan gereja terus berkembang seiring kemajuan peradaban umat. Meski demikian, satu hal sebagai wujud keinginan manusia mencapai Tuhannya, selalu terintegrasi pada bentuk vertikal menjulang bagian atapnya – sebagai perlambang bahwa manusia ingin selalu dekat dengan-Nya.

Kekhasan vertikalisme ini kerap ditunjukkan pada gaya arsitektur gotik. Gaya ini muncul pada abad pertengahan. Gaya ini berevolusi dari arsitektur romanesque dan pada akhirnya diteruskan oleh arsitektur renaissance. Arsitektur gotik sering ditemukan di katedral dan gereja-gereja Eropa.

Khusus padabangunan gereja, bagian depannya selalu dibuat megah dan besar yang mengesankan kebesaran kekuatan Tuhan dan orang-orang yang menyembahnya. Bangunan tinggi dan menjulang ke langit menggambarkan aspirasi yang tinggi dan harapan untuk mencapai surga.

Gaya arsitektur gotik dimulai pada pertengahan abad 12 dan berakhir pada abad 16. Di Indonesia, gaya gotik pada bangunan gereja menyebar sejak awal 1800-an. Kenaikan tahta Raja Louis Napoleon membawa pengaruh positif dalam perkembangan gereja di nusantara.

Kekinian, gaya arsitektur bangunan gereja juga mengadopsi gaya modern. Hal ini tentu untuk memunculkan kesan jika gereja tak hanya terkesan kuno, tapi mengikuti tuntutan zaman. Tentu saja identitas salib tetap menyertai. Di Amerika, Gereja Cadet Chapel Colorado, mengede­pankan gaya modern.

Begiupun pada Paroki Redemptor Mundi dan Paroki Aloysius Gonzaga (keduanya di Surabaya), juga Paroki Regina Caeli, Jakarta. Bahkan  gaya arsitektur modern juga diaplikasikan pada GMI Jemaat Gloria di Jalan Letjen Haryono MT Medan.

Sejatinya, ragam gaya arsitektur gereja banyak menyebar di seantero dunia. Ada gaya romanesque (roman) yang sederhana. Gaya arsitektur ini misalnya diaplikasikan pada Gereja St Michael, Qingdao, China dan Gereja St Martin, Koln, Jerman.

Pada Gereja Basilika Santo Petrus,Vatikan dan Gereja  Katedral Pisa, Italia justru lebih mengedepankan keindahan luar dan dalam bangunan. Gaya ini disebut sebagai  arsitektur baroque (barok).  Gereja bergaya barok membutuhkan biaya tidak sedikit dan tentu saja waktu pembangunan yang relatif lama.

Gaya arsitektur byzantinum tak kalah menarik. Gereja bergaya ini kebanyakan berada di  Rusia, seperti Katedral Spilled Blood Saint Pietersburg atau di Timur Tengah, layaknya Hagia Sophia (Konstantinopel) Instanbul, Turki, karena gereja bergaya ini memang memiliki ciri khas dari dua bangunan rumah ibadah yang berbeda, gereja dan masjid.

Nyaris menyerupai arsitektur masjid, gaya arsitektur mudejar kerap disebut sebagai gereja yang bergaya Islam atau mengikuti arsitektur masjid. Kebanyakan gereja berarsitektur mudejar ini terdapat di Timur Tengah, Spanyol, dan Afrika. Katedral San Pedro,Teruel dan Gereja San Martin,Teruel adalah contohnya.

Di Indonesia, bukan hal baru jika bangunan rumah ibadah mengadobsi gaya arsitektur budaya lokal. Kebe­ragaman etnis/suku, memerkaya gaya arsitektur ini. Tidak terkecuali pada bangunan gereja.

Gaya inkulturasi dari budaya tempatan ini menjungjung dan tetap menghargai budaya yang berkembang di masyarakat, namun unsur kekristianinya tetap terjaga. Sebut saja Gereja Pohsarang Kediri, Katedral Palasari Denpasar, dan banyak gereja yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Sumut. Bukankah Gereja Annai Velangkanni yang ‘bersentuhan Hindu' juga berinkulturasi India?

Katedral

Mulai 8 Mei 1807, Raja Louis Napoleon menyetujui pendirian Prefektur Apostolik Hindia Belanda. Inilah awal mula penyebaran agama Katolik di Indonesia, khususnya di Jakarta.  Sejak itu, sebuah bangunan cagar budaya direnovasi menjadi Gereja Katedral Jakarta. Tak hanya di Jakarta, penyebaran Katolik ke seluruh penjuru nusantara, memungkinkan pembangunan Gereja Katedral juga merata di berbagai daerah. Misalnya  Jawa Tengah, Bogor, bahkan di Medan.

Dari sisi histori, pembangunan Gereja Katedral di Jalan Paleisweg (kini Jalan Pemuda) Medan berlangsung usai Perang Sunggal. Dari kedatangan  tentara Belanda dan tuan-tuan kebun ke Labuhandeli dan Medan, 300-an orang di antaranya penganut Katolik. Maka pada awal 1879 untuk kali pertama dibangun Gereja Katolik di Medan. Awalnya hanya berupa gubuk beratap rumbia sebagai tempat ibadah umat Katolik yang mayoritas India-Tamil dan Belanda. Peribadatan dipimpin seorang pendeta Jezuit (pendeta tentara Belanda) yang khusus didatangkan dari Padang bagi penganut Katolik.

Perkembangan umat mendorong perluasan gereja. Pembangunan pun dilaksanakan bertahap mulai pada 1884. Kemudian pada 1905, dilakukan renovasi besar-besaran yang bentuk aslinya masih dapat dilihat sebagai bangunan utama Gereja Katedral hinggakini.

Pada 30 Januari 1928, gereja ini kembali diperluas dengan penambahan bagian panti imam, ruang pengakuan dosa, pelataran depan, dan menara. Perluasan dan pembangunan permanen ini dirancang arsitek Belanda, Han Groenewegen dan dilaksanakan Langereis. Kini Gereja Katedral kerap dikenal dengan sebutan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal Katedral Medan.

()

Baca Juga

Rekomendasi