Nurainun, Si Penyanyi Buluh Perindu

Oleh: J Anto

SEKALIPUN usianya sudah senja, Nurainun (83) sepertinya tak pernah tahu kapan harus berhenti menyanyi. Walau tak sesering saat berjaya di era 1950 – 1970-an, undangan menyanyi masih tetap ada.

Suara penyanyi Melayu yang oleh Rinto Harahap disebut memiliki “suara buluh perindu”, digandrungi penggemarnya. Bahkan sejumlah pejabat penting, mulai Presiden Soekarno, Letjen Sarwo Edie, Emil Salim, sampai Ahmad Tahir dibuat kepincut, terutama oleh cengkoknya yang tiada dua itu.

Cengkok (ayunan) nada itu masih terdengar saat lagu Kisah Dalam Kenangan mengalun dari Nurainun. Ketika lirik lagu yang terinspirasi dari kisah kehidupan pribadi sang penyanyi itu mulai mengalir baris demi baris:

Waktu kududuk sendiri/Angin berhembus menyepi/Kupandang jauh ke angkasa/Teringat kepada satu kisah lama/Di mana kuhidup bersama ayah ibu serta saudara/Tetapi hanya sementara/Ayah telah berpu­lang ke alam baka/Tinggal ibu yang setia/Mendidik serta menjaga/Walau pahit tak dihiraukannya/Di hadapinya dengan penuh kasih/Kini ‘tlah dewasa/Ingin berbakti pada bunda/Tetapi apa ‘kan daya ibunda pun ‘tlah pergi selama-lamanya.

Di kalangan sesama penyanyi dan penggemarnya, cengkok Nurainun saat menyanyikan lagu-lagu Melayu, klasik atau modern, memang dinilai tiada duanya. Almarhum Rinto Harahap, mengakui kehebatan seniornya itu. Bagi Rinto, cengkok Kak Ainun, begitu ia karib menyapa, mengalun tanpa putus, melanglang ke batas pendengaran.

Sementara vokal Nurainun dinilai bak buluh perindu. Gema dan gaung suaranya mengalir dalam getaran sempurna, mengalir dalam batin, dan meremangkan kuduk. (IzHarry Agusjaya Moenzir: Gelas- gelas Kaca, Tribute to Rinto Harahap: 2011).

“Saya memang pernah diundang ke Jakarta duet nyanyi sama Rinto Harahap. Rinto orangnya ramah, saya seminggu tinggal di rumahnya di Jakarta, yang mengajak Rizaldi Siagian,” tutur Nurainun.

Pada Rabu (31/1) siang, udara di Pasar III Jalan Panglima Denai, Medan Deli, pekat debu. Sinar matahari terlihat garang, menembus pori-pori kulit tubuh. Di rumah panggung berukuran 3 x 6 meter, bintang penyanyi Melayu era 1950 – 1970-an itu menerima kami. Tanah merah di halaman rumahnya terlihat penuh lumpur. Sisa-sisa banjir yang jadi langganan saat hujan lebat mengguyur.

Lahir sebagai anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan OK Mohammad Sidik dan Fatma, darah seni sepertinya mengalir dari ayahnya. OK Muhammad Sidik dulunya salah satu anggota Langkat Band yang biasa mengiringi pentas opera bangsawan di Kesultanan Langkat. Di grup musik itu, ayahnya memainkan terompet, biola, dan harmonium. Langkat Band dipimpin Muham­mad Darus, orangtua dari Prof Mariam Darus yang pernah mengajar di Fakultas Hukum USU.

“Ayah saya kepala sekolah khusus perempuan. Dulu yang menyekolahkan hingga ayah bisa jadi kepala sekolah Sultan Langkat sendiri,” ujar Ainun yang saat berumur 6 tahun ditinggal OK Mohammad.

Sejak kecil, Nurainun yang kelahiran Stabat, 7 November 1935 itu memang sudah senang mendengarkan musik. Karena ayahnya pemusik, di rumah terdapat koleksi beberapa alat musik. Waktu kecil, Nurainun suka memainkan alat-alat tersebut.

Saat usia 8 tahun, ia pindah ke Medan. Ia tinggal di Kompleks Istana Maimun bersama keluarga uwaknya, Hanifah dan suaminya, Muhammad Chair yang kerja di kantor polisi. Saat seorang anak Sultan Deli menikah, diadakan pertunjukan musik selama 2 pekan penuh.

Suasananya Istana Maimun waktu itu meriah seperti pasar malan. Maklum, saat itu hiburan malam masih terbatas. Ainun tiap hari juga menonton pertunjukan musik. Grup musik yang menghibur adalah Orkes Melayu Sukma Murni. Ia sangat menikmati pertun­jukan musik itu. Selama dua pekan, ia tak pernah absen menonton pertunjukan sampai berakhir.

Pantang Diejek

Suatu hari lewat Muhammad Chair yang kenal baik dengan seorang pemain biola dari Orkes Sukma Murni, Ainun menyatakan keinginannya untuk ikut berlatih di grup itu.

“Apa kau nggak takut ?” tanya Muhammad Chair. Maklum waktu itu Ainun belum punya pengalaman menyanyi di panggung atau ajang pesta.

Nggak, kenapa takut?” jawab Ainun. Orkes Melayu Sukma Murni saat itu juga sudah punya lima penyanyi perempuan. Ainun akhirnya diizinkan bergabung dan mulai ikut berlatih. Pada 1950-an, sudah ada beberapa grup musik Melayu selain Sukma Murni, yakni Budi Pekerti, Rayuan Kesuma, Sumra, dsb.

“Buat apa tambah lagi penyanyi, ‘kan sudah banyak? Suaranya pun nggak bagus.” Kabar angin itu berhembus dan sampai ke telinga Ainun.

“Biasa, kita ‘kan orang kampung, bukan orang Medan, diejek, tapi saya orang pantang diperlakukan seperti itu,” ujar Ainun. Lalu ia berlatih keras. Tentu secara otodidak. Pada 1951 jadi ajang pembuktiannya.

Waktu diadakan lomba bintang radio, penyelenggaranya RRI Medan, waktu itu masih bernama Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapj (NIROM). Penyiar dan pegawai NIROM campuran orang Belanda dan Indonesia.

Ternyata penyanyi Orkes Sukma Murni yang ikut lomba hanya Nurainun. Peserta lomba berasal dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Seingat Ainun, pesertanya ratusan orang. Penilaian peserta lomba berlangsung sampai tiga hari. Lagu yang dinyanyikan berasal dari lagu Melayu klasik yang sudah populer di masyarakat, yakni Sri Mersing.

“Lirik pantunnya bisa kita ubah, karena itu lagu anonim,” tuturnya. Ainun berhasil membuktikan kepiawaiannya bernyanyi dalam ajang itu. Ia meraih juara I. Saat malam penghargaan, ia dijemput dengan mobil dari rumahnya. Sopirnya orang Belanda. Selain mendapat medali terbuat dari perak, ia juga mendapat satu stel kain songket.

“Ada juga satu dus ikan sarden dan susu kaleng,” ujarnya sembari tertawa renyah. Sejak itu selama tujuh kali berturut, ia memenangi Bintang RRI (1951, 1952, 1955, 1957, 1960, 1961, dan 1965). Lima kali lomba diadakan di studio, sekali di halaman RRI, sekali di GOR dengan jumlah penonton lebih banyak.

Seiring itu, undangan untuk menyanyi pun mengalir deras. Tak hanya dari hajatan pesta perkawinan, tapi juga acara-acara pemerintahan atau institusi lain. Pada 1953 misalnya, ia diundang untuk menyanyi di depan Bung Karno. Pernah juga diundang Pangdam II Bukit Barisan yang saat itu dijabat Kolonel Sarwo Edhie, dan pejabat lain seperti Ahmad Tahir, Emil Salim, isteri PM Malaysia Tgk Abdul Rahman.

Bersama Orkes Sukma Murni, suaminya juga salah satu pemain, mereka juga kerap mendapat undangan menyanyi di Singapura, Malaysia, dan Australia.

Kaset dan Piringan Hitam

Namanya makin harum dan dikenal di negeri jiran setelah merekam suaranya di kaset berpita magnetik. Ada sekitar 20 kaset rekaman yang diproduksi perusahaan rekaman Hero. Ada juga satu album piringan hitam berisi lagu-lagu Melayu asli Medan yang diproduksi Swee Wah Enterprise, Kuala Lumpur. Dalam piringan hitam itu, Nurainun menyanyikan 8 lagi karya bapak lagu Melayu Medan, Mohamad Nasir Nasution.

Ainun tak hanya menyanyikan lagu-lagu Melayu klasik, tapi juga lagu Melayu modern karya Mohammad Nasir Nasution, Efendi Arif, Yan Junaefi, Usman, maupun lagu-lagu ciptaannya sendiri. Ia juga merekam lagu-lagu pop Minang maupun dangdut Aceh. Ada sebanyak 15 lagu yang berhasil diciptakan ibu dari 6 anak ini. Di antaranya yang populer Jangan Duduk TermenungBunga dalam Taman, juga Tak Putus Asa. Kolaborasi Nurainun, Rinto Harahap, dan Rizaldi Siagian menghasilkan album Gerenek.

Lirik lagu-lagu yang diciptakan menu­rutnya berasal dari kehidupan sehari-hari yang dilihat maupun ia alami. Lagu Kisah dalam Kenangan misalnya, lahir dari rasa rindunya terhadap ayah dan ibunya yang sudah meninggal. Lagu Jangan Duduk Termenung, berisi ajakan agar orang yang patah hati kembali bersemangat, bangkit dari keterpurukannya.

Nurainun memang punya penilaian khusus terhadap ibunya. Ia tak terlalu teringat figur ayahnya karena saat meninggal ia masih seorang bocah. Bakatnya menyanyi rupanya diamati ibunya. Tak seperti orangtua sezamannya, Fatma tak melarang anak perempuannya bermain-main sambil ber­nyanyi, sementara kakak-kakaknya disuruh mengerjakan pekerjaan rumah. Saat itu, menjadi penyanyi, memang masih dianggap pekerjaan “tidak benar”. Dekat dengan “dosa”. Apalagi bagi kaum perempuan.

Pernah ada seorang perempuan yang merantau ke Singapura dan sukses jadi penyanyi. Saat pulang ke Tanjungpura, penyanyi itu bertamu ke rumah orangtuanya. Cerita bahwa ia sudah punya rumah dan bisa beli mobil di Singapura. Namun begitu tamu pulang dari rumah orangtuanya, neneknya wanti-wanti agar cucunya tidak pernah merantau ke negeri orang.

Menolak ke Jakarta

Itu juga sebabnya saat 1970, suami Titik Puspa, Mus Mualim mengajaknya pindah ke Jakarta, ia dan suaminya menolak. Banyak orang menganggapnya bodoh. Soalnya peluang untuk sukses secara materi memang lebih besar di sana. Namun Ainun, juga Ahmad Fuad, almarhum suaminya, tak terlalu pusing soal materi.

Sejak mulai menyanyi, Nurainun mengaku tak pernah memikirkan honor yang diberi orang. Ia pernah hanya diberi honor Rp100 ribu bahkan Rp50 ribu, namun ia anggap itu tetap sebagai berkah. Alasannya karena yang mengundang orang miskin dan sangat ingin mengundangnya.

Ia juga mengaku tak pernah tahu besaran honor dari rekaman kaset-kasetnya. Urusan itu semua diserahkan ke suaminya. Saat diundang pentas di Pulau Pinang, ia bahkan sempat ditipu panitia soal honor. Waktu itu diundang bernyanyi dan diinapkan di Hotel Merlin. Malam hari saat kapal merapat ke dermaga, saat hendak menuju dermaga, ia tercebur ke laut. Saat itu dermaga gelap, ia tidak melihat jembatan penghubung kapal dan ujung dermaga belum terpasang. Orang-orang pun panik. Tapi Ainun selamat.

Saat istirahat di hotel, kasus yang ia alami masih jadi bahan pembicaraan. Tak terduga, ia mendengar dua orang panitia berbisik-bisik, namun telinganya menangkap pembi­caraan itu. “Wah untung ibu itu selamat, kalau tidak kita tidak jadi terima uang 400 ringgit.”

Nurainun kaget mendengar percakapan itu. Soalnya kontrak yang ditandatangani ia hanya mendapat 100 ringgit. Itu artinya ia telah ditipu panitia. Baginya hal itu bukan soal besar, tapi soal hak. Ia sempat berencana membatalkan penampilannya. Tapi setelah berdiskusi dengan suaminya, ia lalu memutuskan bahwa the show must go on.

“Mau apa lagi, kontrak sudah ditan­datangani,” tuturnya. Sambutan penonton yang luar biasa jadi obat penghiburnya. Di hotel, usai pertunjukan, orang berdesakan ingin mengerubuti dan menyalaminya.

Memilih jalan hidup sederhana tampaknya memang jadi pilihannya. Padahal dunia hiburan sebenarnya menjanjikan kelimpahan materi. Baginya bernyanyi memang lebih sebagai panggilan hati. Karena itu ia tak pernah berpikir soal besaran honor. Berapa pun honor yang diberi, ia terima. Lewat suara merdunya dan cengkoknya yang khas, serta penghayatan terhadapi lirik lagu yang dinyanyikan, Nurainun telah membuat penggemarnya tertawa senang, adakalanya mereka juga menangis.

“Saya diberi Tuhan bakat menyanyi, jadi saya pergunakan untuk memberi yang terbaik bagi penggemar,” kataya. Kini ia sudah tergolong senja, namun begitu, undangan menyanyi untuk acara pesta belum juga surut.

“Tak tahu sampai kapan,” katanya. Begitulah sihir si pemilik suara buluh perindu yang seolah tak lekang oleh waktu.

Bersama suaminya (alm) Ahmad Fuad

Di Pulau Pinang saat diundang untuk menyanyi di sebuah hotel

Nurainun dengan piringan hitamnya

Nurainun  (dipegang ayahnya kanan) bersama kakak dan kedua orangtuanya, Muhammad Sidik dan Fatma

()

Baca Juga

Rekomendasi