Beli Eceran Harga Grosir

Oleh: J Anto. Di sebuah toko yang terletak di Jalan Palangkaraya, persisnya di belakang Soechi Hotel, Jalan Cirebon, Senin (21/5) siang, terjadi tawar-menawar antara seorang ibu paruh baya dengan Jenny (40) si pemilik toko. Perempuan itu mengenakan kerudung warna hijau. Berkali tangan perempuan itu meraba-raba kulit tas ukuran sedang dengan model kain jeruk warna hijau. Model tas itu mirip tas branded terkenal merk Celine. Ia juga berkali mengangkat-angkat tas itu. Seolah ingin tahu beratnya.

Ada dua warna yang disodorkan Wina, karyawan toko yang membantu Jenny. Selain hijau, satu tas lagi berwarna merah marun.

“Seratus limpul saja,  saya beli dua, yang warna hijau,” katanya.

“Aduuuh ibu ini, kayak sama siapa saja. Ibu kan sudah lama jadi langganan kami, harga Rp 200.000 ini sudah tak bisa kurang lagi. Ini sudah harga grosir lo,” kata Jenny.

Harga grosir, beli secara eceran, barangkali itulah salah satu magnet yang membuat  bisnis tas di Jalan Palangkaraya tetap menarik minat pembeli. Baik pembeli eceran maupun grosir, dari Medan maupun luar Medan.

Bisnis tas bisa dibilang punya musimnya sendiri. Jelang Idul Fitri dan tahun baru misalnya, pembeli meningkat. Maklum, pada momen seperti itu, perempuan terutama, butuh tampilan baru. Tampilan yang lebih fashionable. Kebutuhan akan tas baru yang trendy, baik model, warna dan bahannya, hampir sebangun  kebutuhan akan baju baru.

Saat musim nikah, kebutuhan akan tas pesta juga meningkat. Sedang jelang tahun ajaran baru, dan bulan Desember atau pertengahan semester, orangtua umumnya tak menampik permintaan anak-anak mereka akan tas sekolah baru. Siklus bisnis seperti ini sudah dipahami dan diantisipasi para pemain bisnis tas.

Sebenarnya tak hanya bisnis tas yang ramai jelang hari Raya Idul Fitri dan Tahun Baru. Bisnis aksesoris juga ikut terdongkrak. Mereka juga ramai diserbu pembeli. Mereka umumnya para pedagang luar Medan seperti dari Rantau Prapat, Siantar, Padang Sidempuan, Aceh, Pekanbaru dan kota-kota lain di Sumut.

“Sekarang orang-orang Aceh sudah turun, makanya ramai. Toko kami melayani penjualan grosir tapi juga eceran,” ujar Ati (58) seorang pedagang aksesoris di Jalan Natal, selajur dengan Jalan Palangkaraya, Kelurahan Pasar Baru, Medan.

Jalan Palangkaraya dan jalan-jalan di sekitarnya sampai Pajak Hongkong, memang dikenal sebagai sentra grosir tas, aksesoris, boneka dan alat-alat perkantoran. Aneka tas, mulai dari tas kantor, tas sekolah sampai tas santai yang banyak diburu kaum perempuan,  tersedia komplit di komplek pertokoan yang memanjang ku­rang lebih 1,5 kilometer dari ujung Jalan MT Haryono, depan Restoran Ria, hingga bertemu ujung Jalan Pan­du itu.

Menurut Jen­ny, yang sudah berbisnis tas se­jak 2004 lalu, bisnis tas di Jalan Pa­langkaraya mu­­lai tambah ramai, setelah terjadinya krisis ekonomi tahun 1998. Wak­tu itu banyak kar­ya­wan perusa­haan terkena PHK. Sebagian yang punya tabu­ngan lalu merintis bis­nis baru. Salah satunya berda­gang tas.

“Dulu di Jalan Palangkaraya  hanya ada sekitar 10 toko tas, sekarang sudah sekitar 30 toko,” tutur Jenny saat dijumpai di tokonya, Senin (21/5). Saingan memang makin banyak, tapi menurut Jenny, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Harapan tahun 2003, rezeki masing-masing  orang  Tuhan yang mengatur.

“Disamping itu distributor masing-masing toko yang ada di sini juga beda-beda,” katanya. Beda distributor, katanya, beda kualitas tas yang dijual. Jenny sendiri meneruskan usaha tas yang telah dirintis orangtuanya se­jak 1984. Arti­nya sebagai peda­gang tas, ia bukan pemain baru. Tahun 1984 usaha tas orangtuanya ada di Pasar Ra­mai. Sebagai anak tertua dari 2 bersau­dara, se­jak remaja ia me­mang terta­rik mem­bantu bisnis tas milik ayah­nya.

Tahun 1984 model tas kata­nya  masih sedi­kit, paling ha­nya 10 model.

“Saat itu sa­ngat enak ber­bis­nis tas” tutur Jen­ny. Tahun 2004, orang­tua­nya me­mu­tus­kan memindahkan usahanya ke Jalan Palangkaraya. Diva Bags adalah nama toko­nya. Di toko ini segala jenis tas tersedia. Mulai tas fashion, tas pesta, dompet payet, tas kantor, tas sekolah sampai koper. Umum­nya tas-tas itu diimpor dari distributor di Tiongkok.

Rata-rata tas yang dijual di toko-toko tas di Jalan Palangkaraya memang produk  Tiong­kok. Kualitasnya disesuaikan dengan ke­mampuan konsumen. Meski begitu, menurut  ibu dua orang anak ini, produk Tiongkok sekarang sangat memerhatikan kualitas.

“Disamping modelnya juga trendy, mengikuti selera yang  disukai masyarakat,” ujarnya.

Jenny tak salah, di kawasan Jalan Pa­langkaraya ini tas-tas yang meniru model tas branded memang dijual dengan harga sesuai kantong pembeli. Modelnya persis seperti yang dipajang majalah-majalah mode seperti Cosmopolitan. Harga tas dibandrol mulai dari ratusan ribu, sampai jutaan rupiah. Namun mereka yang belanja secara grosir, umumnya mengambil harga menengah. Antara Rp 200.000 – Rp 500.000.

Tipe pembeli

Tipe pembeli tas di Jalan Palangkaraya dapat dibedakan dalam tiga kategori. Pertama pembeli eceran. Biasanya tas dibeli untuk koleksi pribadi. Agar dapat harga grosir, pembeli pasang strategi. Mereka beli 2 atau 3 buah tas agar dapat harga grosir.  Sisa tas yang ada, tak jarang dijual ke teman atau saudara. Kadang ada sedikit untung untuk pengganti transport.

Kedua, pedagang eceran. Mereka umum­nya berasal dari Aceh dan kota-kota lain di Sumut minus Medan. Mereka mem­beli da­lam partai besar. Sekali belanja bisa sam­pai Rp 10 juta. Ketiga para sales yang dipercaya untuk menjualkan tas milik sebuah toko. Para sales ini menjual secara online atau ece­ran dari rumah ke rumah. Sales toko seperti ini ada dua tipe, jadi  karyawan toko bersangkutan atau freelance.

“Kalau freelance artinya dia menawarkan sampai keluar Medan, ongkos transportasi jadi tanggungan sales sendiri,” tutur Jenny. Namun di tokonya, Jenny tak mempe­kerjakan sales, baik sales toko atau yang freelance. Ribet katanya. Apalagi belaka­ngan ada kabar, mereka juga harus lapor ke petugas pajak. Padahal yang dijual tak seberapa banyak.

Beli eceran harga grosir

Tak dipungkiri, sebagai sentra grosir tas, toko-toko tas di Jalan Palangkaraya, punya banyak pelanggan, khususnya pelanggan perempuan. Esah (23), ibu rumah tangga yang tinggal di Medan Sunggal mengakui, biasanya jelang Idul  Fitri dan Natal, ia akan belanja tas baru untuk menambah koleksi tasnya.

Harga tas yang ‘miring’ dibanding di pasar lain, membuatnya setia belanja di sana sekalipun suasana pasar di sana kurang nyaman. Rani (23), setali tiga uang. Pada saat jelang tahun ajaran baru, biasanya ia membawa anaknya untuk belanja tas di toko langganannya.

Model tas sekolah di Jalan Palangkaraya menurut Rani up to date. Mengikuti model yang lagi heboh dan gecar dipromosikan di toko-toko online. Sekali belanja tas sekolah, ia bisa membeli 3 buah. Satu untuk anaknya, dua lagi untuk keponakannya.

“Kalau beli tas lebih dari satu, kita bisa dikasih harga grosir,” tutur Rani. Iming-iming seperti itu, membuat banyak perem­puan kepincut belanja tas di Jalan Palang­karaya. Meski,  sekali lagi, bagi Jalan Pa­langkaraya, tak ramah bagi pejalan kaki, di samping sete­ngah mati untuk cari tempat parkir di sana.

()

Baca Juga

Rekomendasi