Kabanjahe Krisis Air Bersih

kabanjahe-krisis-air-bersih

Kabanjahe, (Analisa). Krisis air bersih bagai pe­nyakit kronis bagi masyara­kat di Kabupaten Kaban­jahe, Kabupaten Karo. Sudah puluhan tahun solusi mena­ngani air bersih tetap tak ter­penuhi dan belum juga men­jadi perhatian yang menjadi skala prioritas pemerintahnya.

Bahkan, krisis air bersih ini kian meluas ke desa-desa. Ter­masuk distri­busi ke rumah-rumah penduduk Desa Aji­jahe, Kecamatan Tigapanah  dan Desa Batukarang, Keca­matan Payung, Kabupaten Karo.

“Krisis air bersih di kedua desa ini sudah beberapa bulan terakhir terjadi. Warga harus membeli air dari pedagang air bersih dari sumur bor yang ada tumbuh subur hampir di setiap gang di Kota Kabanjahe dan sekitarnya. Air bersih di­beli Rp1000/jeriken atau Rp6000/tong untuk masak, mandi dan mencuci. Air bersih  dari PDAM Tirta Malem, Ka­banjahe sudah beberapa bulan terakhir ini terhenti,” jelas Santo Milala (45), warga Ajijahe dan Predi Bukit warga Kabanjahe kepada war­tawan, Selasa (21/1).

Padahal, jelas warga, awal 2015 pe­merintah pusat mem­ba­ngun air bersih bersumber dari hutan Sibuaten sekitar hutan Siosar dengan dana berkisar Rp75 miliar yang didistribusikan untuk masya­rakat Kabanjahe dan sekitar­nya. Reservoirnya dibangun di gerbang ma­suk kawasan relokasi pengungsi Siosar, yang kini masih terbengkalai. Terma­suk pembangunan air bersih juga dari Sungai Aek Hotang Kecamatan Merek, dengan sumber dana APBN juga untuk warga Kabanjahe.

Resevoirnya di Gang Ga­ruda, Desa Samura, Kecama­tan Kabanjahe. Air­nya pernah meluap dan membanjiri jalan. Tapi, sarana distribusi banyak pecah-pecah karena tetap meng­gu­nakan pipa yang sudah tergolong tua.

Direktur PDAM Tirta Ma­lem Ka­ban­jahe Arvino Ham­syari yang dikon­firmasi war­ta­wan di kantornya Jalan Jamin Ginting Kabanjahe mengaku, pasokan air bersih kepada sebagian pelanggan terutama yang ada di Desa Ajijahe terhenti.

Kondisi ini, menurutnya terjadi akibat rusaknya pipa distribusi sepan­jang Laumelas Cinur dan Laumelas Ujung Aji. Pipa yang ada di lokasi itu terlepas akibat terjangan banjir air sungai. Karena letak pipa yang ada di lokasi itu, sebagian hanya terletak be­gitu saja dan ada juga yang crossing melintas sungai.

Distribusi air ke Desa Ba­tukarang Arvino menjelas­kan, terhentinya pa­sokan air akibat faktor alam. Mata air Lau Naga yang selama ini dijadi­kan sumber pemasok air ke desa itu kering. Mata air Lau Naga sudah sulit diupa­yakan perbaikannya. Karena me­mang mata airnya yang sudah kering. Mung­kin karena faktor erupsi Gunung Sina­bung. Tapi sudah membuat perenca­naan untuk berpindah ke lokasi ma­ta air di Lau Borus yaitu mata air Lau Pinang, jelas Arvino.

Disinggung bagaimana re­alisasi pembangunan air ber­sih dari Gunung Sibuaten wilayah Siosar yang menelan biaya berkisar Rp75 miliar dari pusat dimulai  2015 dan sampai kini belum berfungsi, dia tidak mengetahui secara pasti. Penanganannya dari pusat dan penyerahan untuk dikelola pihak PDAM belum ada, jelasnya.

Begitu juga halnya peman­faatan sumber air dari Aek Ho­tang, Merek, yang resevo­irnya di Gang Garuda yang anggarannya berkisar Rp 40 miliar, Avrino tidak bisa ber­buat banyak akibat sarana dis­tribusi masih menggunakan pipa lama dan anggarannya cukup sedikit dan pelaksa­naan fisik pihak Dinas PUPR. (alex)

()

Baca Juga

Rekomendasi